BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Tingkah Langit


__ADS_3

"Mas, aku malu." Bibir Maryam mengerucut akibat kejadian perutnya yang kram, malu karena mertua dan adik iparnya tahu apa yang sudah mereka lakukan di pagi hari. Apalagi Aisya sebelum keluar dari kamar, dia menyemangati kakaknya agar bisa goal mencetak keponakan untuknya.


Sakit sekaligus malu, keduanya menyatu sempurna. Langit malah menanggapinya dengan santai, tidak ada rasa malu entah urat malunya sudah hilang.


"Tidak apa-apa, Sayang. Kita kan sudah suami istri wajar kalau mama sama Aisya tahu. Sudah seharusnya tahu juga kalau kita rajin kerja biar cepat dapat momongan. Benar kan?" Ujar Langit sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ih Mas, sejak kapan kamu jadi nggak punya malu gini. Apa jangan-jangan kamu dari dulu kaya gini ya tapi ditutup-tutupin?" tuduh Maryam dengan wajah penuh curiga.


"Hahaha, apaan sih kamu Sayang. Udah ah jangan dilanjut, aku mau mandi dulu ya." Langit mengacak-acak rambut atas Maryam lalu pergi ke kamar mandi.


Maryam hanya mendesah pelan untuk keluar kamar rasanya ia malu makanya menunggu Langit selesai mandi.


Usai mandi tubuh Langit terasa lebih segar, berpakaian rapi bersiap diri berangkat ke kantor. Lebih siang dari biasanya lebih tepatnya terlambat berangkat.


"Mas, kamu mau berangkat ke kantor?" tanya Maryam.


"Iya Sayang, kan hari ini ada meeting. Jadi mau tak mau aku datang," jawab Langit membetulkan dasinya yang sedikit miring.


"Lalu aku gimana, Mas?"

__ADS_1


"Kamu? Kamu di rumah saja ya, jangan ke kantor dulu. Nanti kalau kerjaan aku sudah beres aku pulang lebih cepat, ya?"


Mau tak mau Maryam meniruti perintah suaminya, ia inginnya berangkat ke kantor tapi keadaan perutnya belum sembuh benar.


"Sayang, aku berangkat dulu ya." Pamit Langit lalu mencium kening Maryam.


"Kamu belum sarapan loh, Mas." kata Maryam.


"Udah siang banget, nanti saja nyuruh Willy siapin di kantor."


Langit cepat-cepat berangkat tapi saat kakinya sudah sampai di daun pintu ia berbalik dan menghampiri Maryam lagi.


Mendapat perlakukan hangat suaminya, Maryam begitu bahagia disayangi dengan cara Langit yang tak biasa.


"Aku berangkat dulu ya, I Love You Sayang." Lambaian tangan Langit pada istrinya.


Wajah Maryam jadi bersemu merah.


"Ma, Langit titip dulu Maryam ya. Tolong nanti dilihat ke kamar, makanannya di antar ke kamar saja sama Bu Lela atau Bu Marni. Maaf ya, Ma. Langit buru-buru."

__ADS_1


"Iya, Sayang. Tenang saja, Mama pasti jagain ko."


Langit lalu mencium Ainun lalu bergegas berangkat.


***


"Apa benar Arsy bukan anakku? Jawab Zoya!" Ibra hampir saja mencekik leher Zoya untung orang tua Zoya ada di rumah sehingga bisa melerai keduanya.


"Ibra, kamu sabarlah. Dengarkan penjelasan Zoya." Gani menyuruh mantan menantunya untuk duduk terlebih dahulu. Datang-datang Ibra langsung emosi melihat Zoya datang dari kamarnya.


Kedatangannya tak lain untuk mengkonfirmasi perihal ucapan Arsy yang bilang padanya punya papa yaitu om tampan yang merupakan kakaknya Aisya, calon adik iparnya sendiri.


"Kamu sudah mencuci otak anak kecil, Zoya. Jahat kamu!"


"Aku tidak bohong! Langit memang ayahnya Arsy."


Ibra sampai kesal karena Zoya tidak mau berubah. Meski ia baru tahu kenyataan bahwa Langit adalah mantan pacar Zoya. Ada marah dan dendam bercampur jadi satu di hati Ibra. Ia akan menanyakan langsung masalah ini pada Langit sendiri.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2