BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Bonchap 15


__ADS_3

Sebenarnya partnya tidak loncat-loncat, hanya saja kalau ingin baca bonchap ini harus baca dulu bonchap-bonchap sebelumnya ya readers zeeyeenk.... Butuh banyak waktu buat bikin bonchap novel ini. Dan waktunya memang di akhir bulan ini sudah harus selesai.


***


Anin dan Willy baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan dokter kandungan setelah mereka sudah kembali tiba di Jakarta. Wajah keduanya tampak berbinar-binar. Senyum keduanyapun terus mengembang. Dokter mengatakan Anin tengah hamil muda dan usia kandungannya menginjak 6 minggu.


Saat akan memejamkan matanya, Anin teringat malam dimana kesuciannya ia serahkan pada suaminya. Bukan malam pertama memang mereka melakukannya, mereka tidak tergesa-gesa dan cenderung santai.


Jantung Anin berdebar-debar tak karuan. Sedari tadi ia hanya berdiam diri di


dalam kamarnya. Ini saatnya ia melepas masa gadisnya, ia sangat takut. Kata orang malam dimana kesucian diserahkan akan terasa sakit sekali.


Dahinya terus berkeringat. Menunggu suaminya selesai dari kamar mandi seperti.

__ADS_1


Anin berjalan mondar-mandir dengan menggigit jarinya. Mungkin ini sudah 30 menit suaminya belum juga keluar. Apakah suaminya juga merasakan hal yang sama?


Handle pintu terbuka, Willy terlihat segar sehabis mandi. Pria seperti Willy juga bisa seromantis itu, mematikan lampu tidurnya terlebih dahulu dan menarik tangan Anin agar mendekat pada dirinya. Membelainya dan mencumbuinya.


Sekarang dalam perutnya yang rata telah tumbuh janin hasil buah cintanya dengan suami tercinta.


***


Langit sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya, berkat petunjuk CCTV di komplek perumahannya ia sudah mengantongi nama orang yang sudah menyerempet istrinya.


Langit sudah melaporkan aduannya ke pihak berwajib dengan segala bukti yang ada. Sengaja ia tidak memberitahukan istrinya tentang kasus ini. Ia hanya ingin Maryam fokus dengan Galaksi, sudah cukup membuat Langit tenang.


Surat pemanggilan terduga sudah dilayangkan pihak Langit, sontak Mulyadi sebagai ayah dari Adinda merasa terkejut. Ia tidak percaya Langit telah melaporkan Adinda dengan tuduhan seperti itu.

__ADS_1


Mulyadi, Adinda, dan Hilman pengacara keluarga Mulyadi sudah memenuhi panggilan di kantor polisi. Adinda menjalani serangkaian pemeriksaan selama berjam-jam, ia tidak bisa mengelak lagi. Dari CCTV lain terlihat wajah Adinda dengan jelas ketika Adinda sedang mengamati Maryam dari dalam mobilnya. Terlihat kaca jendelanya yang terbuka.


"Adinda, Papa tidak percaya kamu melakukan ini!" Mulyadi seperti hilang muka di depan Langit.


"Pa, maafin Dinda. Dinda khilaf, Pa." Adinda menangis meraung.


"Adinda, kamu masih beruntung karena kamu anak dari Pak Mulyadi. Kalau tidak mungkin aku sudah mencekik lehermu hingga mati!" Saking kesalnya, Langit sudah tidak berkata formal lagi pada Adinda di depan Mulyadi.


Kekesalannya sudah membuncah dan rasanya ingin ia cekik saja wanita ular seperti Adinda.


"Pak Mulyadi, saya tidak akan menarik kasus ini walaupun anda adalah klien saya dari dulu. Saya akan melimpahkan kasus ini agar mendapatkan keadilan. Adinda harus mendapatkan hukuman sesuai dengan perbuatannya.


Adinda meraung meminta pertolongan ayahnya, ia bahkan rela bersimpuh di kaki Langit demi pria itu menarik kembali kasusnya. Adinda juga rela mengeluarkan uang banyak demi mengganti rugi pada istrinya Langit. Sayangnya Langit tidak tertarik, ia memilih pergi melimpahkan urusannya pada pengacaranya. Ia takut khilaf hanya dengan melihat wajah Adinda saja.

__ADS_1


***


__ADS_2