BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Rumah Masa Depan


__ADS_3

"Ma, mas Langit kemana ya?" tanya Maryam mencari-cari suaminya di semua ruangan rumah. Pagi-pagi ia tidak mendapati suaminya di kamar.


"Oh Langit sama papa lagi lihat rumah. Katanya mau cek sudah sampai mana pengerjaannya, kalau mau lihat biar Mama anter yuk." Ainun menawarkan dirinya pada Maryam untuk melihat pembangunan rumah yang akan ditempati putera dan menantunya setelah lahiran.


Jarak rumahnya tidaklah jauh hanya berjarak 50 meter dari rumah orang tuanya. Kebetulan ada lahan kosong cukup untuk membuat rumah sebesar rumah orang tuanya saat ini.


"Mama nggak lagi sibuk?" tanya Maryam.


"Nggak, Mama lagi santai. Palingan mau antar Aisya nanti sore ke dokter kandungan sama Zayn."


"Ya sudah kalau begitu kita nyusulin mas Langit sama papa yuk, Ma." Ajak Maryam, dirinya hanya mengenakan dress panjang motif floral yang dibalut cardigan panjang warna orange.


"Yuk, sambil jalan-jalan pagi. Kita jarang banget jalan-jalan di pagi hari padahal sangat bagus udaranya untuk kesehatan. Mama sama papa pas lagi hamil Langit sering banget diajakin jalan keliling komplek, pagi sama sore itu rutin. Papa sering luangin waktunya, jadi pulang kantor sengaja lebih awal." Ainun mengingat kembali masa-masanya dulu.


"Pasti papa romantis ya, Ma."

__ADS_1


"Nggak, kata siapa. Ya nggak beda jauh sama Langit, romantisnya itu tidak bisa diduga-duga. Kalau lagi pengen romantis ya papa lakuin tapi kalau nggak meski mama maksa mana papa mau." Ainun jadi kesal kembali bila mengingat hal itu.


Ayah dan anak tidak ada bedanya punya karakter yang sama.


Pembangunan rumah sudah hampir 90 %, Langit terlihat sedang melihat-lihat ke dalam. Memeriksa satu persatu ruangan. Kamar utama dan kamar untuk anak-anaknya nanti. Rumah itu tetap memiliki konsep ruang kerja sesuai permintaannya, tempat yang akan menjadi area favoritnya setelah kamar.


Pria tampan yang masih berbaju koko dan bersarung kotak-kotak itu masih menatap lekat rumah masa depan yang akan menjadi tempat naungannya nanti. Sesuai keinginannya, rumah berlantai tiga dengan lift.


"Mas." Panggil Maryam.


"Sama mama, mama lagi sama papa di bawah. Ini kamar kita, Mas?"


"Iya, kamar kita. Kamu suka?"


"Suka, Mas. Aku suka, aku paling suka kamar dengan balkon besar seperti ini. Nanti kita taruh kursi ayun di sana ya, dan juga kursi santai. Buat baca kalau sore, kamu selalu tahu apa yang aku mau." Maryam tersenyum lebar menampilkan gigi putihnya yang berderet rapi.

__ADS_1


"Tahu dong, kan kamu pernah bilang ingin kamar dengan balkon yang besar." Tangan Langit melingkar di perut Maryam.


"Kamar anak kita sudah siap? Aku mau lihat," ujar Maryam menarik tangan Langit supaya mengikutinya keluar.


Kamar bernuansa biru yang segaja letaknya bersebelahan dengan orang tua mereka. Langit mendesainnya senyaman mungkin, kamar yang luasnya sama besarnya dengan kamar mereka. Nantinya Langit ingin membuat kamar yang bisa sekalian dijadikan tempat bermain untuk anaknya.


"Tapi Mas, kalau menurutku kamar anak sama tempat main harus bedalah. Biar nggak berantakan, kamar ya khusus untuk istirahat." Maryam punya pandangannya sendiri, yang tercipta dalam pikirannya sama dengan yang diucapkan pada suaminya.


"Sayang, namanya juga kamar anak. Nanti kalau anak kita punya ade baru aku pisahin. Anak kadang suka nggak nyadar kalau mereka lelah atau ngantuk suka tidur sesukanya. Jadi biarkan saja dulu seperti ini ya?"


Maryam mengangguk terpaksa. Membiarkan seperti itu untuk sementara.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2