
Kandungan Maryam sudah terlihat semakin membesar, 2 bulan lagi menuju hari lahirannya. Menginjak usia 7 bulan kehamilan, ia sering gampang lelah dan kalau tidur malam harus pasang suhu AC sedikit dingin dari biasanya. Hawa gerah mulai melanda, rasa sesak di dada mulai terasa. Sangat wajar dirasakan wanita hamil pada umumnya.
"Sayang, ini Suster Mira. Suster Mira ini nanti akan bantuin kamu dan jaga kamu selama aku di kantor. Kalau Mama kan tidak setiap waktu tapi Suster Mira dikhususkan menjaga kamu. Dan kalau anak kita lahir Suster Mira ini yang akan bantuin kamu jaga anak kita." Langit memperkenalkan wanita berusia sekitar 35 tahun yang didapatnya dari yayasan. Akhir-akhir ini pekerjaan Langit sangat banyak, ia sering pulang malam dan khawatir istrinya tidak ada yang menjaga.
"Ya Allah Pa, sampai ada suster segala. Aku kan masih bisa melakukan sendiri apa-apanya."
Bisik Maryam tidak enak.
"Sayang, gimana aku mau tenang. Buat jalan saja kamu sudah mulai ngap-ngapan, gimana kalau mau ini itu sendiri. Sudah jangan protes ya, biar aku kerja juga tenang."
"Ya Bu, Bapak benar. Lagian usia kehamilan menginjak 7 bulan dikhawatirkan kenapa-napa kalau kelelahan, ibu juga jangan terlalu banyak aktivitas kalau kata dokter sangat rentan." Dari sikap dan nada bicaranya suster Mira pastilah berpengalaman.
"Ya Sus, sebenarnya saya memang sudah mulai susah jalan. Rasanya bagian bawah sudah sakit. Tapi sejauh ini masih oke ko, Mas Langit saja yang selalu berlebihan."
"Kalau begitu Suster sekarang bisa istirahat saja dulu nanti bu Lela akan tunjukan kamar untuk Suster," ucap Langit.
"Baik, Pak." Suster Mira keluar dari kamar Maryam menemui bu Lela yang sedang berada di dapur.
"Pa, aku mau ke dokter ya. Cek kandunganku ini, ko aku jalan agak sakit ya, kayak kepala itu sudah mulai masuk ke sini." Tunjuknya pada daerah bawah kewanitaannya.
"Rasanya gimana?" tanya Langit.
"Nggak nyaman saja kalau jalan," jawab Maryam sedikit meringis.
"Mm kalau gitu aku buatkan janji dulu dengan dokter Prisa ya. Nanti kita ke dokter habis maghrib."
Maryam mengangguk menyetujuinya.
Setelah membuat janji dengan dokter Prisa. Langit, Maryam beserta suster Mira berangkat ke Rumah Sakit Medika. Tampak Maryam terlihat kurang nyaman saat berjalan.
__ADS_1
"Mas, uuhh." Maryam merasakan perutnya kencang saat memasuki lobby Rumah Sakit.
Wajah Langit terlihat panik, ia tidak tahu harus bagaimana.
"Bu, anda tenang ya. Tarik nafas dalam-dalam, biasanya hanya sebentar." Suster Mira berusaha menenangkan Maryam.
Langit menghela Maryam menuju ruangan pemeriksaan obgyn.
"Kenapa Bu?" Melihat Maryam kurang nyaman sambil memegangi perutnya yang besar, dokter Prisa menyuruh Maryam membaringkan tubuhnya di bed pemeriksaan.
"Perut saya tiba-tiba kencang Dok, saya juga kurang nyaman kalau jalan."
"Kita lihat dulu ya, Bu. Kita USG." Maryam menaikan pakaiannya, gel mulai dioleskan ke bagian perut bawah sampai dopler mulai begerak memperlihatkan bagian dalam dari rahim.
Dari layar monitor sudah terlihat jelas, gambar bayi dalam kandungannya. Di dalam monitor yang sama tergambar jabang bayi warna hitam putih sedangkan di sebelahnya tergambar jabang bayi dalam gambar 4 dimensi.
Air mata Maryam menetes begitu saja, inginnya ia segera menimang sang buah hati. Memeluk dan menciuminya.
"Bu, kalau dari gambar ini posisi kepala sudah bagus ya. Jadi kenapa Ibu jalannya agak kurang nyaman itu disebabkan kepala sudah masuk ke panggul tapi hati-hati Bu, meskipun posisi sudah bagus tapi masih bisa berubah-ubah." Prisa menjelaskannya secara terperinci.
"Tapi saya bisa kan melahirkan secara normal? Saya tidak mau operasi, Dok."
Prisa mengulas senyumnya. "Bisa Bu, kondisi anda juga sehat. Nanti Ibu di cek untuk protein dan HB nya ya sekalian."
"Iya, Dok. Tapi jenis kelaminnya apa Dok?"
Hal utama yang ingin Maryam ketahui.
"Selamat ya Bu, bayi Ibu berjenis kelamin sama dengan papanya."
__ADS_1
"Pa." Langit dan Maryam saling menggenggam tangan. Senyum terulas tak pernah lepas dari bibir masing-masing.
Langit dan Suster Mira menunggu hasil pemeriksaan, 30 menit kemudian Prisa kembali memanggil Maryam.
"Dari hasil pemeriksaan, proteinnya normal tapi untuk HB Ibu Maryam kurang. Jadi ibu perbanyak istirahat yang cukup, makan makanan bergizi, sayur dan buah-buahan. Saya juga akan meresepkan suplemen untuk Ibu. Kalau untuk berat badan sudah cukup ya 3.02 kilo."
Langit dan Maryam sangat bersyukur secara keseluruhan kandungannya sehat tidak bermasalah. Tinggal menunggu hari sampai waktunya tiba.
*
*
*
*
*
Langit bersidekap mengintrogasi istrinya setelah kepulangan mereka dari Rumah Sakit.
"Bukan karena drakor, Papa. Cuma akhir-akhir ini kurang nyenyak tidurnya. Hawanya panas dan bikin gerah, lagian pinggangku rasanya sakit dan pegal gitu." Bela istrinya.
"Nanti sebelum tidur pasang Acnya rendah saja, biar tidak gerah. Kalau gitu ayo kita tidur, ini sudah jam 9. Maksimal kamu harus tidur 8 jam untuk kesehatan kamu."
Maryam mengerucutkan bibirnya, ia sudah tidak punya alasan lain untuk menonton drama favoritnya lagi.
***
Bersambung...
__ADS_1