BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Harus Banyak Bersabar


__ADS_3

Tangan Maryam tertarik pada satu kaos warna putih bergambar beruang dan ada tulisan 'Papa'. Bukan hanya satu melainkan dua, satu lagi bertuliskan 'Mama'


"Iih ini lucu banget deh," ucapnya riang.


"Mas, sini." Panggil Maryam melambaikan tangan pada suami ya.


"Iya, kenapa Sayang?"


Maryam mengangkat kedua kaos memperlihatkannya pada Langit.


"Jangan bilang kamu suruh aku buat pakai baju itu?"


"Sayangnya iya, kamu pakai ya." Maryam memelas.


"Astagfirulloh." Langit mengusap wajahnya gusar.


"Mas." Maryam memelas dan sayangnya Langit jadi tidak tega melihat istrinya seperti itu.


Melihat tingkah menggemaskan keduanya, Ainun dan Aisya tertawa. Bisa-bisanya Maryam membuat Langit tidak bisa berkutik. Hanya Maryam yang membuat sikap keras Langit melunak. Mungkin tidak salah kalau belahan jiwa akan membuat hati pasangannya luluh.


"Ya sudah, aku akan memakainya." Langit tersenyum paksa, demi jabang bayi yang dikandung istrinya. Hatinya berkata begitu untuk menguatkan.

__ADS_1


Maryam juga memilih beberapa hijab, ia memilih warna-warna yang sesuai dengan pakaian yang dimilikinya. Mungkin suatu saat nanti ia akan memakainya, tidak tahu kapan waktunya. Hanya saja, kemarin saat pengajian pernikahan Anin dirinya merasa nyaman dan tenang. Tubuhnya terbalut gamis dan rambutnya tertutup hijab.


"Sayang." Langit keluar dari kamar ganti dengan langkah ragu-ragu.


"Ih kamu lucu banget sih, gemes tahu." Dirangkulnya tangan Langit dan Maryam menyandarkan kepalanya.


"Aku nggak kelihatan aneh pakai baju ini? Ini kayak anak-anak." Protesnya menarik kaos yang dikenakannya.


"Nggak ko, kamu lucu. Papa beruang yang lucu," ucap Maryam senang.


"Kak Langit lucu banget sih, kayak anak SMA tahu gak sih." Goda adiknya.


"Nggak apa-apa, Mas. Dibilang kaya anak SMA, berarti Mas awet muda." Maryam mengedipkan sebelah matanya pada Aisya agar diam.


***


Weekend sudah akan berakhir, Langit menghabiskan waktunya bersama Maryam dan keluarga. Setelah terlebih dahulu mengantarkan makanan untuk Arsy, hanya dititipkan saja pada asisten rumah tangganya karena Arsy dan Ibra sedang liburan ke luar kota.


Sorenya, Langit dan Maryam berkunjung ke rumah pengantin baru. Naik motor matic, mumpung tidak hujan. Tampak di teras rumah, pengantin baru sedang duduk berdua sambil ditemani teh hangat dan kudapan.


Gerbang yang terbuka memudahkan motor bisa langsung masuk.

__ADS_1


"Loh Will, lo gak pake security buat jaga? Apa gaji lo gak cukup buat bayar gajinya," ucap Langit membuat Willy terganggu.


"Gak usah Mas, lagian kami ngerasa aman ko. Umi selalu ada di rumah jarang kemana-mana," timpal Anin.


"Iya Mas, lagi pula kalau saya tidak bisa bayar kan ada Mas Langit yang akan bayarin." Willy menyeringai, kedua alisnya terangkat.


"Jijik gue dipanggil Mas sama lo," ucap Langit ketus.


Tidak heran bagi Maryam dan Anin mendengar 'kelucuan' mereka berdua.


"Sudah, dari pada ngoceh tidak jelas mendingan kita beli terang bulan di ujung jalan komplek yuk naik motor." Ajak Maryam pada Anin. Maryam sudah kangen diboncengin Anin seperti dulu.


"Sayang, Anin itu pengantin baru. Nggak baik ah kalau sudah kesana kemari," ucap Langit melarang pergi.


"Lah emang ada larangannya ya, Mas? Ya sudah sama kamu saja yuk. Aku lagi pengen makan terang bulan rasa keju susu."


Langit melirik sekilas pada Willy, menyiratkan pesan sebagai suami yang punya istri sedang hamil harus banyak-banyak bersabar demi terciptanya keamanan rumah tangga.


***


Bersambung..

__ADS_1


Bonus up hari ini...


__ADS_2