BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Kakak


__ADS_3

Sepertinya Ibra tidak perlu sampai jauh melakukan tes DNA dengan Langit membantah keras saja Ibra sudah percaya Arsy darah dagingnya sendiri. Ibra juga sudah mengupayakan hak asuh anak jatuh padanya, Ibra tidak mau Arsy terkena imbas masalah Zoya. Cukup pernikahan mereka yang kandas akibat ambisi.


Niat hati ingin pulang lebih awal malah terlambat dua jam, Langit merasa bersalah meninggalkan istrinya terlalu lama di rumah saat keadaannya tidak baik.


"Sayang." Langit memanggil Maryam dari lantai bawah menuju kamar di lantai atas.


"Sayang, kamu dimana?" Langit mencari Maryam keseluruh penjuru kamar mereka tapi Maryam tidak menunjukan batang hidungnya sedikitpun.


"Langit, Maryam tadi pamit sama Mama mau ke rumah lamanya. Katanya ada sesuatu yang mendesak," kata Ainun.


"Loh ke rumah lamanya. Bukankah cukup jauh ya, Ma. Ko dia nggak ngasih tahu Langit dulu sih." Langit terlihat kesal.


"Mungkin karena terburu-buru.


Di rumah lama, Maryam datang terburu-buru setelah mendapatkan kabar dari tetangganya kalau kakaknya pulang. Kakak yang selama ini dicarinya, Maryam ingin sekali bertemu dengan kakaknya itu.


Ia di antar pak Ujang, sopir keluarga Langit.

__ADS_1


Rumah lama yang hanya bercahayakan lampu temaram itu tidak terkesan menakutkan tapi justru terkesan hangat walau sudah lama tidak ada yang mengisi.


Detak jantung Maryam seolah berlomba, nafasnya tak teratur. Ia datang terburu-buru meski harus berjibaku terjebak macet saat pulang jam kerja. Sampai di rumah kedua orang tuanya menjelang malam.


Maryam melihat ada mobil berwarna silver terparkir di depan rumah. Iapun masuk pelan-pelan tidak mau membuat seseorang di dalam sana jadi tidak nyaman dan pada akhirnya kabur sebelum bertemu.


Pintu rumah yang terbuka membuat Maryam bisa langsung masuk. Rumah orang tuanya memang dipercayakan pada tetangganya di sana, kuncinya juga dititipkan. Kalau ada yang ingin mengontrak bisa lewat tetangganya itu sebagai penghubung. Paling Maryam memberikan upah sebagai ucapan terima kasih saja sudah menjaganya. Untuk urusan bayar listrik ia langsung bayar sendiri masuk ke dalam tagihannya. Maryam tidak membiarkan rumah peninggalan orang tuanya benar-benar kosong.


Seorang perempuan berambut panjang mengenakan dress selutut sedang memandangi foto ibu Maryam yang menempel di dinding. Tangannya mengusap-usap wajah ibu Maryam yang sudah tiada itu.


Perempuan itu langsung menoleh mendengar ada suara memanggilnya kakak.


"Kamu," ucap Maryam.


"Kamu," ucap Zoya bersamaan.


Maryam dan Zoya sama-sama diam mematung.

__ADS_1


"Jadi kamu Zoya kakakku?" tanya Maryam seakan tak percaya.


Reaksi Zoya lebih histeris, ia bahkan sampai berteriak menyebut Maryam adik yang tak diharapkannya dan Maryam juga sebagai perebut kebahagiaannya.


"Aku tidak mengira bahwa adik tiriku itu kamu! Cih, kamu bukan hanya merebut kasih sayang ibu tapi kamu juga sudah merebut Langit dariku, adik macam apa kamu?" teriak Zoya tak terelakan.


Semburat kecewa di wajah Maryam tak dapat disembunyikan. Ia tidak menduga Zoya masih menganggapnya merebut kasih sayang ibu mereka.


Banyak yang berubah pada diri Zoya, terutama wajah Zoya. Operasi mata dan juga bentuk wajah yang tak sama lagi dengan Zoya kecil. Namanya bukanlah Zoya melainkan Marina. Kenapa Zoya bisa mengubah identitasnya sedemikan rupa. Hanya ada satu yang membuat mereka sama, bola mata hazel mereka yang sama-sama Langit sadari sejak dulu bertemu Maryam.


***


Bersambung...


Tuliskan komentar kalian di bawah... Jangan lupa likenya ya...


Aku up lewat jam 12 malam ini, tadinya gak up ngantuk tapi mau tidur malah nggak hisa

__ADS_1


__ADS_2