BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Bonchap 14


__ADS_3

Zayn meregangkan ototnya yang terasa kaku dengan memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Di depannya, ada laptop yang masih menyala, ia baru saja selesai membuat Power Point untuk materi yang akan diajarkannya besok.


Tiba-tiba saja Aisya menghampirinya dan melemparkan ponsel milik Zayn begitu saja ke atas meja.


Zayn ssdikit terkesiap ponselnya dilempar dengan kasar.


"Kamu kenapa marah-marah gitu?" tanya Zayn.


"Lihat saja ada pesan di whatsaap kamu," ucap Aisya sambil bersidekap.


Sesuai ucapan Aisya, Zayn membuka pesan whatsappnya.


0852xxxxxxxxx : Pak, boleh saya berkunjung ke rumah Bapak?


"Siapa dia?" tanya Aisya tidak suka.


"Mana aku tahu, nomornya saja tidak ada dikontakku."


Bibir Aisya mengerucut, wajahnya ditekuk. Sudah dipastikan wanita hamil itu sedang marah besar pada suaminya. Aisya mengira pesan whatsapp itu dari selingkuhan Zayn.


"Kalau Kakak tidak tahu mana mungkin dia ingin berkunjung," ucap Aisya kesal.

__ADS_1


Zayn menghela nafas beratnya. Kalau Aisya sudah begini urusannya bakalan panjang.


"Katakan, Kak. Kamu punya selingkuhan?" tanya Aisya ngotot.


"Ya Allah, Aisya ko kamu berpikiran buruk sama aku. Aku beneran nggak tahu itu nomornya siapa. Coba kamu balas dan tanyakan siapa dia!" Mau marahpun Zayn tidak bisa semuanya serba canggung di kehamilan istrinya sekarang, semuanya serba dikaitkan dengan hormon.


*


*


*


*


*


"Aisya, kamu mau bikin anak aku kelaparan di dalam perut kamu? Dari pagi kamu belum makan? Kalau kamu mau marah ya marah saja, marahin aku sepuas kamu tapi jangan sampai merugikan anak dalam kandungan kamu. Anak itu butuh asupan nutrisi dari ibunya!" Kesal Zayn dengan suaranya yang meninggi.


Zayn melirik jam di tangannya, sudah jam


setengah dua dan Aisya belum sarapan sekaligus makan siang.

__ADS_1


"Ayo ikut aku ke bawah," ajak Zayn pada istrinya.


Aisya merasa bersalah, benar kata Zayn kalau dirinya tidak harus mengorbankan perutnya sendiri demi marah pada suaminya. Sesungguh nya perutnya sangat lapar dan ia gengsi kalau makan makanan di rumah suaminya. Andaikan mereka berada di rumah mamanya pasti Aisya makan dengan lahap melupakan rasa kesalnya.


"Ayo makan dulu, Sayang." suruh Zayn karena Aisya masih saja diam memaku.


"Aku nggak lapar!" Protesnya.


"Ayolah, Sayang. Kalau kamu nggak lapar minimal anak kamu harus makan." Zayn mulai kesal.


"Aaa, " Zayn mengulurkan sendok berisi nasi dan lauk ke depan mulut Aisya


Mau tak mau Aisya membuka mulutnya dengan lebar dari pada makanannya tumpah begitu saja.


"Aku bisa makan sendiri," ucap Aisya merebut sendok dari tangan Zayn.


Zayn tersenyum tipis, istrinya itu meski sering marah tapi malah menbuat kadar kecantikannya makin bertambah.


Aisya harus memasang telinganya lebar-lebar, karena saat ini Zayn sedang menasehatinya tanpa jeda. Aisya hanya tersenyum saja itupun terpaksa dari pada Zayn menambah waktu ceramahnya semakin panjang.


Zayn tersenyum melihat Aisya yang pasrah. Zayn semakin yakin kalau Aisya bisa menjadi istri yang baik.

__ADS_1


Zayn dan Aisya duduk di balkon sembari menikmati setengah cangkir kopi di waktu sore mereka. Zayn sudah menjelaskan jika pengirim whatsaapnya tadi malam adalah mahasiswinya di kampus. Zayn juga bercerita sudah memperingatkan pada semua mahiswa dan mahasiswinya di kampus harus ada batasan antaranya dirinya dengan mereka.


***


__ADS_2