
"Net, apa semuanya sudah siap?"
Anet tersenyum lantas mengangguk. "Sudah, ngomong-ngomong, Teguh kok tidak jemput ? Ini sudah malam lho." Anet melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 00.59 malam. "Sebaiknya kamu telepon saja Teguh."
Celin celingak-celinguk ke arah jalanan yang ada di depan restoran yang sudah di booking.
"Tadi aku sudah menghubunginya Net, tapi kok dia belum sampai juga ya?"
Anet mengedikkan bahunya.
"Kamu mau pulang apa mau ikutan acara ini?" tanya Anet.
"Aku sebaiknya ikut sajalah sekalian mau minta maaf sama Anin dan pak Willy. Aku merasa bersalah sama dia."
Rencananya malam ini tepat pukul 00.00, Agnes cs sudah menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Anin. Begitupun Celin, ia turut serta menyiapkan segala sesuatunya. Awalnya ia berencana hanya menyiapkan saja tapi berhubung pacar barunya belum menjemput, Celin terpaksa merayakan bersama.
"Teguh?" Celin menyipitkan matanya, memastikan bahwa itu benar-
benar Teguh pacarnya.
"Aku kira kamu nggak jemput ke sini?" Celin mendekat ke arah Teguh yang terlihat
sangat tampan memakai jaket kulitnya. Anet mengekor Celin di belakang.
__ADS_1
"Cel, ini pacar kamu?" tanya Anet penasaran.
"Eh iya, Net. Kenalin ini teguh," ucap Celin.
Teguh dan Anet saling berjabat tangan, wajah Anet seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu kenapa diam saja?" tanya Celin.
"Aku ko kaya nggak asing dengan Mas Teguh ini lihat dimana ya."
Celin dan Teguh saling melempar senyum.
"Iyalah, Mas Teguh ini model, Net. Yang sering nongol di iklan-iklan Tv," ujar Celin.
Terdengar beberapa mobil datang dan terparkir di parkiran restauran. Para undangan sudah datang, mereka saling berpasangan.
"Wah, Bu Agnes bener-bener gerak cepat." Dwi berbisik pada Maryam.
"Bu Agnes sama siapa itu?" tanya Maryam memindai pria yang datang bersama Agnes.
"Itu gebetan baru bu Agnes, namanya pak Raffi. Yang menggantikan pak Waryo." Bisiknya lagi.
Maryam menganguk paham sekarang, dalam hatinya ia memuji kecantikan Agnes yang lebih memancar.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong yang punya hajat kemana? Ko belum datang." Diliriknya jam sudah mau mendekati angka 12. Restauran yang sengaja di booking untuk malam ini sampai dengan selesai. Cake ulang tahun dan makanan lain sudah tersaji di meja dan tumpukan kado juga ada di sana.
"Mas, apa mas Willy lupa ya hari ini ulang tahunnya Anin?" Maryam jadi ikut khawatir.
"Nggak mungkin lupa, pasti ada sesuatu dengan mereka." Langit merogoh ponselnya di dalam saku jaketnya.
Ada pesan masuk dari Willy, memberitahukan kalau Anin demam dan mual-mual.
Senyum Langit terbit begitu saja lantas menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Kenapa Mas?" tanya Maryam.
"Sepertinya Gala mau punya sepupu," jawabnya santai.
"Maksudmu, Mas?"
"Anin kayaknya nggak jadi datang. Dia demam dan mual-mual,"
Mendengar Langit berucap seperti itu, sontak membuat teman-temannya ikut senang mendengarnya.
"Ya sudah ganks, tak apalah semua ini sudah kadung disiapkan. Kita nanti kasih saja kadonya buat Anin, dan dari pada mubadzir semua makanannya lebih baik kita santap saja untuk merayakan baby Anin, yeeaaah." Agnes bertindak sebagai pembawa acara.
Riuh bahagia mendengar kabar gejala kehamilan Anin sama-sama mereka rasakan bersama.
__ADS_1
***