
Willy dan Anin sedang berlibur mini ala mereka di Singapura. Keduanya sepakat berlibur 2 hari tanpa ada satu halpun menganggu termasuk menonaktifkan ponsel mereka masing-masing. Permintaan Anin itu sebagai buntut dari masalahnya dengan Celin. Mereka berdua sampai ribut gara-gara Anin merasa Willy tidak jujur padanya.
Dalam kesepakatan itu mereka berdua membuat peraturan yang tidak tertulis tapi disepakati. Pasangan punya hak untuk tahu masa lalu mereka masing-masing untuk alasan tidak adanya kesalahpahaman lagi. Masalah harus diselesaikan saat itu juga jangan sampai menggatung berhari-hari. Untuk menjaga perasaan masing-masing.
Keduanya mendesah pelan dan menghela napas lega. Lalu sama-sama menoleh. Dan bertatapan dalam diam. Willy didera perasaan bersalah. Tapi Willy segera merangkul pundak Anin.
Merasa bersalah karena Anin dalam hal ini merasa sudah dipermalukan di depan umum.
"Ayo, kita nikmati saja kebersamaan kita ini," kata Willy menghibur, "selama masih bisa."
Setelah seharian berjalan-jalan di Singapura, berbelanja pakaian dan kebutuhan mereka berdua. Anin baru merasakan semua kebutuhannya terpenuhi tanpa harus merogoh uangnya sendiri.
Mereka terdampar di kamar hotel, seperti pengelana yang kelelahan. Willg mengempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Tidur telentang. Memaksa melepaskan sepatu dengan kaki, lalu kedua kakinya melemparkan sepatu itu hingga teronggok ke sudut kamar. Meskipun sama letihnya, Anin tidak langsung merebahkan diri ke tempat tidur. Ia lebih memperhatikan keadaan suaminya. Seperti biasa ia bersimpuh di hadapan Willy. Ia rela merendahkan dirinya untuk melayani pria yang berstatus suaminya itu. Lagi pula itu bukan merendahkan diri tapi kewajibannya sebagai istri. Dengan lemah lembut ia membuka satu persatu sepatu yang melekat dan meletakannya di rak.
*
*
*
*
*
Malam harinya tubuh Anin demam, panas tinggi. Ia tampak menggigil dan kesakitan. Willy sampai kalang kabut melihatnya. Berkali-kali ia menempelkan tangannya ke dahi dan leher Anin.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Willy panik. Ia hilir-mudik di kamar hotel. "Aku akan memanggilkan dokter, tunggulah." Willy bergegas secepat kilat, ke lobby hotel. Takutnya jika ia meminta dipanggilkan dokter lewat layanan kamar maka akan lama. Willy juga harus memastikan dokter akan datang di malam hari ini.
Willy mendatangi meja resepsionis dengan wajah pucat. Ia bilang untuk dipanggilkan dokter karena istrinya sedang sakit.
"Silahkan tunggu, Pak. Kami akan memanggikan dokter. Jika Bapak tidak keberatan tunggulah di kamar anda, nanti kami akan mengantar dokternya ke kamar anda." Seorang pria yang berjaga pada malam itu berkata dengan ramah dan ingin memberikan pelayanan terbaiknya.
Tidak sampai 30 menit, staff hotel mengantarkan seorang dokter pria ke kamar Willy. Dokter itu menyuruh Willy mengibaskan selimut yang menutupi tubuh Anin agar dibuka saja karena orang demam tidak bagus ditutupi selimut seperti itu.
"Mungkin istri anda kelelahan, apa ada mual muntah?" tanyanya memastikan.
"Ada mual tapi tidak muntah," jawab Willy.
"Sudah berapa hari?"
"Satu minggu lalu."
Dokter itu mengangguk, lalu meresepkan obat demam dan vitamin.
__ADS_1
***
Maryam sedang duduk di gazebo belakang rumah mertuanya.
"Ehmi!" Seseorang berdehem cukup keras. Maryam langsung menoleh ke arah sumber suara kemudian Maryam mendapati Langit sedang berjalan ke arahnya dan langsung duduk di sampingnya.
"Kamu sedang apa, Sayang?" tanyanya.
"Aku sedang menikmati udara segar pagi ini, Mas," kata Maryam.
"Oh begitu. Sayang, sore ini kita pindah rumah baru kita ya, nanti suster Mira dan asisten baru aku akan cari untuk bantu-bantu di rumah kita.
Soalnya besok dan minggu-minggu ini aku harus menyelesaikan proyek baru dan harus menghadiri rapat dengan kolega. Kamu nggak keberatan?" ucap Langit.
Maryam mengerutkan dahinya. "Apa mama dan papa tidak masalah kalau pindah dadakan seperti ini? Bagaimana dengan Gala, pasti mama dan papa keberatan." Kata Maryam.
"Nggak ko, aku sudah bilang sama papa dan mama tadi malam. Lagian kita pindah juga tidak jauh, tinggal jalan beberapa meter juga sudah sampai."
"Mas sudah siapin asisten untuk di rumah kita juga? Apa semuanya sudah siap untuk ditempati?"
"Iya, Sayang. Alhamdulillah rumah baru kita sudah siap ditempati. Nanti sore kita pindah ke sana. Di sana sudah ada bu Minah adiknya bu Mirna, pak Ujang ikut kita dan pak Lukman juga ikut kita. Ada tukang kebunnya juga pak Soleh dan pak Mamat, security rumah kita," jelas Langit secara detail.
"Mas sudah menyiapkan semuanya rupanya ya," ucap Maryam senang. Suaminya sudah menghandle semua urusan rumah.
Maryam mengangguk senang, menjadi istri dari seorang Langit tidak perlu repot-repot melakukan ini itu lagi.
*
*
*
*
*
Rumah megah bercat gading sudah ditempati Maryam dan keluarga kecilnya. Maryam tidak banyak bekerja, kakinya masih sakit untuk digerakan atau berdiri lama atau berjalan jauh. Efek terserempet mobil nyatanya bukan hanya pada lututnya saja melaikan pergelangan kakinta juga.
Pagi-pagi sekali Gala sudah membangunkan mama dan papanya, nangisnya kencang bila telat diberikan susu. Setelah bayi menggemaskan itu tidur lagi, Langit meminta Maryam untuk tidak keluar kamar.
Alasannya supaya kaki Maryam tidak semakin sakit. Sehabis dari masjid menunaikan salat Subuh berjamaah, Langit pergi sebentar. Entah
ke mana. Hampir dua puluh menit Maryam menunggunya di kamar, namun belum datang juga. Maryampun beranjak dari tempat
__ADS_1
tidur. Saat hendak berdiri, kakinya terasa sakit sekali.Maryam mencoba melangkahkan kakinya perlahan dengan berjalan sedikit pincang. Aku membuka pintu kamar dan turun ke bawah.
Maryam menuruni anak tangga dengan hati-hati sambil berpegangan pada sisinya.
"Mas," Maryam berteriak memanggil-manggil suaminya yang tak kunjung datang.
"Bu, Bapak sedang keluar bawa motor." Lapor bu Minah pada majikannya.
"Bawa motor? Kemana Bu?"
"Kurang tahu, Bu. Mungkin Bapak menemui temannya karena tadi nerima telpon pas pulang dari masjid."
Maryam heran, siapa teman Langit. Perasaan suaminya tidak pernah bertemu temannya sepagi ini.
Sedari tadi indra penciumannya mencium aroma masakan, menguar sangat
nikmat. Membuat perut Maryam berbunyi nyaring.
"Bu, masak apa? Wangi banget, aromanya enak."
"Nyonya yang sedang masak, Bu. Nyonya Ainun datang pagi-pagi habis berbelanja dari pasar, banyak banget. Kata nyonya, nanti sore kita mau ngadain pengajian selamatan rumah."
"Oh jadi mama yang masak, saya mau lihat ya."
Benar saja, mama mertuanya sedang asyik menuangkan santan dan bumbu penyedap lainnya ke masakannya.
"Ma, aku kira bukan Mama yang masak." Maryam mengipas-ngipaskan tangannya agar aroma masakan tercium lebih banyak.
"Iya, Mama nggak bilang dulu. Soalnya dadakan papa maunya nanti sore kita ngadain pengajian buat selametan rumah. Pamali kalau rumah baru atau lama tidak ditempati tidak dingajiin dulu," ucap Ainun.
Maryam tidak masalah, mama mertuanya itu memang hobi masak. Ainun memang memasak sendiri untuk acara-acara dari pada pesan catering.
Tak lama kemudian Langit kembali masih mengenakan koko dan sarungnya.
"Kenapa turun kamar, kan kakimu masih sakit. Aku panggilkan tukang urut memijat kakimu itu."
Ternyata pernah belajar fisioterapis, tidak menjamin dirinya bisa mengurut dirinya sendiri. Tetap harus membutuhkan bantuan orang lain.
"Aku nyari kamu, Mas. Abis dari masjid ko nggak langsung pulang," ucap Maryam.
"Iya, tadi papa ngasih tahu ada tukang urut di belakang komplek jadi aku nyari dulu, kita tunggu di atas sebentar lagi orangnya datang."
"Iya, Mas."
__ADS_1