
"Va, kamu kenapa? kok melamun." tanya Resty teman satu tim Sava, yang tadi siang memberi tau diri nya bahwa ia di suruh menghadap ke ruang Direktur.
Sava dan Resty ketika itu sedang berada di area halte busway. Saat Resty membangunkan Sava dari lamunannya, Sava kemudian menoleh ke arah temen akrabnya tersebut.
"Aku heran saja, tadi Pak Metthew memberikan aku cek dengan nilai yang sangat besar. Dan kurasa nominal sebanyak itu terlalu berlebihan. Rasa nya tak sewajarnya deh," ucap Sava pada Resty dengan raut wajah penuh rasa bimbang dan juga bigung.
"Kau menerima cek itu?"tanya Resty lagi.
"Awalnya aku menolak. Tapi karena dia memaksa ku, aku tak punya pilihan lain. Kata dia, jika aku menolak, tanda nya aku sombong dan tak menghargai dirinya beserta perusahaan. Dan itu aneh." ucap Sava yang kemudian memijat pelipisnya karna merasa hari itu terasa sedikit melelahkan dan juga membingungkan bagi nya.
"Dia bos Sava, dia bebas melakukan apapun. Kau tau tidak, dia itu duda. Istri nya meningal karena suatu penyakit. Rasa nya tak mungkin juga seorang CEO sampai mencari mu ke sela sela kamar hotel. Dan dari sana aku bisa simpulkan, mungkin pak Metthew menyukai mu Sava." kilah Resty, yang kemudian membuat Sava geli mendengar penuturan temenya tersebut.
"Kau ini apa apa sih, Umur nya saja beda jauh dari ku. Aku lebih pantas menjadi adik atau bahkan anak nya dari pada harus menjadi_"
Sava tak meneruskan kata kata nya. Karena ia tak sanggup membayangkan jika ia bisa mencintai orang lain selain belahan jiwa nya Emieer. Yang kini telah pergi selamanya.
Kemudian Sava pun mendadak berwajah mendung. Menyadari sikap nya terlalu lancang, kemudian Resty tanpak menyesal.
"Maaf Sava," ucap nya, kemudian mengelus pundak Sava.
"Tidak perlu minta maaf. Memangnya kau salah apa." tutur Sava sambil tersenyum.
🍁🍁🍁🍁🍁
Seusai Sava menjemput baby Zee dari rumah Bik Inah, Sava langsung bergegas pulang ke rumah kost.
"Apa kabar anak mama hari ini, harus pintar ya sama Bibik Inah, jangan merepotkan Bibik saat Mama sedang bekerja. Mama bekerja untuk mu sayang." ucap Sava yang saat itu sedang berjalan menuju rumah kost sambil mengedong baby Zee.
Baby Zee yang kala itu sedang tidak tidur, memandangi wajah sang Mama yang sedang mengajaknya bicara.
__ADS_1
Tak lama kemudian setelah Sava sampe di kamar kost. Sava langsung bergegas menaruh baby Zee ke dalam rajang box baby nya. Sava menaruh baby Zee di box baby agar lebih aman dan tak terjatuh.
Beraktivitas seharian membuat tubuh Sava terasa lengket, gerah dan juga kotor. Maka dari itu Sava pun buru buru ke kamar mandi dan melakukan ritual mandi secepat nya.
Hidup berdua saja dengan sang putera benar benar mengubah hidup Sava.
Menjadi ibu di usianya yang masih muda ternyata tak membuat nya depresi walau ia harus berjuang sendiri dan melakukan apapun sendiri.
Perasaan naluriah seorang ibu sangat kental ia rasakan terhadap sang putera. Rasa sayang dan begitu cinta nya Sava dengan mendiang sang suami Emieer membuat Sava mencintai anak nya itu makin hari makin besar.
Karena, saat ia sedang melihat sang putera, ia seperti sedang melihat Emieer. Dan hidup berdua saja dengan sang putera saat ini sudah cukup membuat hari demi hari yang Sava lewati berjalan dengan begitu semangat, menyenangkan dan juga bahagia.
Seperti biasa, Sava menyusui baby Zee sampe baby Zee tertidur pulas. Baru lah setelah itu Sava punya waktu untuk melakukan hal hal yang perlu ia lakukan.
Seperti makan malam, merapikan barang-barang sang putera untuk esok hari. Yang akan ia titip kan ke Bik Inah. Dan kegiatan terakhirnya di malam hari biasanya yaitu memompa ASI.
Setelah semua hal hal penting telah Sava lakukan, baru lah ia punya waktu sejenak untuk diri sendiri.
Kemudian Sava teringat pada kata kata Resty yang mengatakan jika sang big bos Metthew menyukai diri nya.
Dan tiba tiba saja hal itu saya sangat menganggu Sava. Sava kemudian bangkit dari rebahanya, lalu terduduk sambil bersandar pada dinding kamar. Pikiran nya terbang jauh melayang layang tak jelas.
Kemudian ia menoleh ke arah foto Emieer yang ada di atas nakas, di samping ranjang nya. Kemudian Sava mengambil foto tersebut dan memandangi nya lekat lekat.
"Emieer, aku merindukan mu." ucap Sava. Dan sejurus kemudian ia mencium foto tersebut dengan perasaan yang amat teramat sangat rindu dengan sang suami. Tapi sebesar apapun rindu yang Sava rasakan. Sava tak akan pernah bisa memuaskan kerinduan hati nya pada lelaki yang sudah memberikan ia keturunan itu.
"Jika seumpama Zee tidak ada, aku mungkin sudah bunuh diri menyusul mu Emieer." ucap Sava, mencemooh diri sendiri. Dengan tindakan bodoh dan gila tersebut.
"Tapi sekarang, mana mungkin aku melakukan itu. Aku akan menjadi orang paling jahat untuk anak ku sendiri jika aku melakukan itu." ucap Sava lagi bermonolog.
__ADS_1
"Mana mungkin aku membiarkan anak ku bernasib sama seperti mama nya waktu bayi dulu. Yang dengan tega orang tua ku membuang aku yang masih merah di hamparan perkebunan teh. Bahkan waktu itu dalam keadaan hujan. Tidak, aku tidak setega itu Emieer. Aku janji akan merawat anak kita." ucap Sava kembali bermonolog.
Biasanya Sava selalu merasa lega jika sudah berbicara dan mengoceh sendiri sambil memandangi foto Emieer. Itu adalah cara berexpresi Sava untuk mengeluarkan semua keluh kesah nya.
Dan setelah ia puas mengadu di hadapan foto Emieer baru ia akan merasa tenang. Bahkan kadangkala Sava sampai tertidur dengan memeluk foto sang suami yang tak lagi bisa memberikannya kehangatan itu.
🍁🍁🍁🍁🍁
Ke esokan hari nya di tempat kerja. Seperti biasa Sava sedang melakukan aktivitas nya membersihkan kamar hotel.
Ketika itu Sava sedang fokus membersihkan area di kamar mandi di ruangan hotel. Dan tiba tiba saya dari belakang Sava di sapa oleh seseorang.
Hal itu sontak saja membuat Sava terkaget. Sehingga tanpa sengaja gagang shower yang ia pegang terarah pada seseorang yang tadi mengagetkan nya.
Dan hal itu mengakibatkan seseorang tadi basah kuyup oleh guyuran air dari shower tersebut.
"Hai, hai apa apa ini." ucap seseorang itu. Yang ternyata orang tersebut adalah Metthew.
"Apa yang Bapak lakukan di sini," tanya Sava dengan tatapan penuh tanda tanya. Metthew yang sudah basah kuyup sambil mengusap wajah nya yang basah tadi kemudian terdiam. Mencoba mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Sava.
"Datang lah ke kamar no 335 di lantai 7. Aku tunggu kau di sana, kalau kamu tidak datang kamu akan saya pecat." ucap Metthew tanpa menunggu Sava menjawab, Metthew sudah berlalu dari hadapan Sava yang masih memegang sikat pembersih dan di sisi lain tangan nya masih memegang gagang shower tersebut.
"Apa sih mau nya. CEO aneh." ucap Sava dengan nada kesal.
Metthew Wilson
jangan lupa mampir di cerita baru ya gaes 🤗😊 judul nya Dua istri sang CEO
__ADS_1