BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Cinta Masa Kecil (2)


__ADS_3

Langit berusaha menahan tawanya tak kala melihat Maryam mengerucutkan bibirnya sedari tadi, tak ada senyum malah Langit disuruh berhenti memijat.


"Hei, Sayang. Kenapa kamu marah mendengar ceritaku, itu hanya cerita masa lalu. Pasti anak seusiaku dulu pernah mengalaminya," ucap Langit santai.


"Tapi kamu mestinya ngasih tahu aku kalau kamu pernah suka sama dia," kata Maryam kesal.


"Sayang, cinta anak esde kamu pasti tahu kan gimana. Ayolah jangan kekanak-kanakan." Dicubitinya pipi Maryam yang sudah mual chuby menggemaskan.


"Mas, kalau aku tahu kamu pernah suka sama dia. Aku pasti bakalan jaga sikap aku jaga jarak aku, Mas jangan dulu protes di sini aku wanita yang jadi istri kamu, setiap wanita pasti akan bersikap biasa-biasa saja tidak terlalu mengakrabkan dirinya. Minggu kemarin aku ikut mama ke rumahnya, nganterin makanan. Pantesan saja dia begitu senengnya." Maryam masih tidak terima pernyataan Langit.


Langit menyerah tidak seharusnya ia mengungkit kisah cinta di masa kecilnya, terkadang wanita sensitif seperti istrinya selalu punya cara melebih-lebihkan masalah hingga berujung pertengkaran. Ia memilih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidak mengacuhkan Maryam yang terus mengoceh tidak berhenti.


Tetangga seberang kediaman Langit bernama Diana, masih single dan seorang pegawai bank milik pemerintah. Langit tidak menceritakan kalau ia dan Diana pernah berpacaran lagi menginjak SMA namun tidak lama hanya bertahan 6 bulan saja. Mendekati wisuda, Diana kembali mendekati Langit tapi sayangnya Diana tidak mendapatkan respon.

__ADS_1


Cukup cerita masa lalu jangan diungkit lagi, simpan baik-baik untuk kita sendiri.


***


Saat ini Langit dan Maryam sedang berjalan kaki menuju rumah lama Harsa. Di sana sudah ada Anin dan Amira yang datang lebih dulu melihat kondisi rumah. Rumah yang letaknya tak jauh dari kediaman Herlambang sehingga bisa dituju hanya dengan jalan kaki saja, Maryam bersikukuh tidak mau naik motor beralasan jalan-jalan di sore hari. Padahal niatnya tak lain ingin melihat Diana.


Rumah Diana apabila dilihat dari jarak kediaman Herlambang memang tidak akan terlihat. Makanya Maryam sekalian ingin menunjukan kemesraannya dengan Langit.


Tangan Maryam mengapit mesra tangan suaminya. Sesekali matanya melirik pada pintu rumah Diana, tertutup dan tampak sepi.


"Ko kamu sampai tahu dia belum pulang? Kamu diam-diam sering memperhatikannya juga ya, Mas?" Kesalnya.


Langit mengusap wajahnya kasar, entah harus bagaimana menghadapi wanita posesif yang sedang hamil ini.

__ADS_1


Langkah Maryam semakin cepat meninggalkannya jauh di belakang. Tak berapa lama sampailah mereka di depan gerbang rumah besar bercat putih. Terlihat Anin melambaikan tangannya.


"Oh jadi ini rumahnya? Asri juga ya, perumahan di sini masih terjaga keasriannya tidak seluruhnya di ubah total dengan bangunan." Maryam melihat-lihat ke belakang, ada Willy dan tukang juga.


"Kenapa Will? Ada genteng yang bocor?" tanya Langit ikut memindai keadaan rumah omnya.


"Ada sedikit, keran airnya juga tidak nyala. Lagi dibenerin dulu sekarang biar besok bisa ditempati," jelas Willy.


"Tante, di dalam semua barang masih lengkap. Tinggal diangkat saja penutupnya. Sengaja dibiarkan saja tidak dikosongkan, Tante dan Anin bisa pilih mana barang yang mau dipakai atau dibuang."


Rumah Harsa sering diperiksa secara rutin, Adam menyuruh pegawai rumah yang memeriksanya. Menyalakan lampu depan rumah di sore hari dan mematikannya pada paginya lagi, biar tidak dibiarkan gelap tak berpenghuni. Adam yakin suatu saat ini pemilik rumah akan kembali meskipun tidak tahu kapan waktunya.


***

__ADS_1


Bersambung...


Semoga bisa up tepat waktu dengan semangat yang menggebu..


__ADS_2