
"Saya ingin bertemu dengan pak Langit." Pinta Ibra pada bagian resepsionis.
"Sekarang ini pak Langit dan jajaran direksi sedang meeting, Pak. Apa anda sudah membuat janji terlebih dahulu?" tanya Weni.
"Belum, apa saya bisa menunggu beliau?"
"Sebentar, saya akan memberitahukan sekretaris beliau." Weni menghubungi Gia lewat interkom.
"Silahkan ke lantai dimana ruangan pak Langit berada. Nanti sekretaris beliau akan menyuruh anda menunggu di ruang tunggu." ucap Weni sambil menyebutkan lantai ruangan Langit.
Ibra paham iapun menekan tombol sesuai lantai khusus petinggi Medika.
Lift berdenting di lantai tempat ruangan Langit.
Ibra segera menemui sekretaris Langit, Gia. Memberitahukannya perihal kedatangannya.
"Silahkan Pak, tunggu di ruangan tunggu. Pak Langit masih meeting mungkin sebentar lagi baru akan selesai." Ujar Gia ramah dan mempersilahkan Ibra menunggu.
Sesuai perkataan Gia, Langit selesai meeting 30 menit kemudian.
__ADS_1
"Pak, ada Ibra Malik ingin bertemu Bapak. Katanya beliau kakaknya Zayn Malik, calon adik ipar Bapak." Lapor Gia.
"Ibra? Oh iya dia kakaknya Zayn. Dimana sekarang?"
"Di ruangan tunggu, Pak."
"Oke, aku langsung kesana." Ujar Langit sambil melangkahkan kakinya ke ruangan tunggu yang tidak jauh dari ruangannya.
"Pak Langit, senang bertemu lagi dengan anda. Maaf saya mengganggu waktunya." Mereka berdua berjabat tangan setelah terakhir bertemu di acara lamaran adik mereka.
"Sama-sama Pak Ibra, saya juga senang anda berkunjung ke tempat saya. Pasti ada hal penting membuat anda mau repot-repot datang," ucap Langit ramah. Ia membuka kancing jasnya agar lebih leluasa duduk.
"Anak? Maksud anda Arsy?" tanya Langit memastikan.
"Iya, Arsy. Anak saya dan Zoya. Lebih tepatnya mantan istri saya,"
"Apa ada masalah yang dibuat Zoya lagi?" Langit mengira kedatangan Ibra karena menyangkut ucapan Zoya tempo hari pada Maryam.
"Mungkin anda lebih tahu tentang Zoya dari pada saya sendiri, saya hanya bertanya maaf jika anda tersinggung karena saya harus memastikannya sendiri,"
__ADS_1
"Iya katakan saja, lebih baik terus terang."
Gia masuk membawakan dua cangkir kopi untuk Langit dan tamunya. Setelah Gia keluar mereka kembali melanjutkan pembicaraan.
"Saya akan langsung mengatakan ini, apa benar kalau Arsy adalah anak Pak Langit dengan Zoya?" tanya Ibra.
"Hahahhaa," Langit malah tertawa mendengar pertanyaan Ibra yang menurutkan lucu dan tak masuk akal.
"Pak Ibra, bagaimana saya mau punya anak dengan Zoya kalau tidur dengannya saja saya tidak pernah. Memang benar kami pernah berpacaran lama tapi bukan berarti kami bebas melakukan apapun. Dan ketika dia sedang berpacaran dengan saya, dia hilang entah kemana. Datang lagi kemarin-kemarin membawa anak yaitu Arsy. Saya tidak perlu bertanya pada anda kenapa Zoya bisa dengan anda atau menikah dengan anda. Karena itu sudah tidak penting lagi. Saya punya rumah tangga sendiri dan sangat bahagia dengan istri saya sekarang. Zoya hanya ingin membuat rumah tangga saya hancur itu saja." Jelas Langit.
Ternyata hanya akal-akalan Zoya.
"Iya saya juga bisa melihat anda dan istri anda sangat berbahagia. Saya menanyakan hal ini bukan karena tidak percaya Arsy adalah darah daging saya sendiri hanya saja kalau boleh jujur kami bercerai karena Zoya tidak pernah bisa melupakan anda. Saya hanya terluka dan kecewa pada Zoya, dia dengan tidak berperasaannya mengatakan Arsy bukan darah daging saya. Itu sangat melukai hati saya, Pak Langit." Pelupuk mata Ibra tampak basah. Hanya Arsy sumber kelemahannya, ia tidak ingin terpisah sedetikpun dengan Arsy.
Awalnya Ibra akan membuat perhitungan pada Langit kalau benar Arsy bukan darah dagingnya, Ibra tidak akan membiarkan pernikahan Zayn dan Aisya terjadi. Ibra akan menentang keras hubungan mereka.
***
Bersambung...
__ADS_1
Berikan like dan komen kalian ya....