BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Bonchap 5


__ADS_3

Baby Gala sudah berumur 39 hari sejak dilahirkan ke dunia ini. Bayi tampan itu sedang diajak main opanya keliling komplek pakai kereta dorong. Hobi baru Ainun dan Adam mengisi waktu pagi mereka apabila hari minggu tiba.


Maryam masih sibuk membereskan pakaian kotor Baby Gala ke dalam keranjang.


"Sayang," Langit melingkarkan tangannya di perut sang istri, dagunya ia sematkan di pundak wanita yang telah melahirkan bayi tampannya itu. Kelakuan Langit hari ini mirip kelakuan Langit yang sedang merayu.


"Kamu lagi kepengen ya, Mas?"


"Iya, kapan selesainya sih Sayang?" Pria tampan itu mulai mengerucutkan bibirnya. Inginnya ia protes kenapa waktu untuk menyentuh istrinya sangat lama.


"Sabar, satu hari lagi Mas." Maryam membalikan tubuhnya membuat Langit semakin tersiksa.


Godaan wanita berhalangan itu benar adanya dan fakta. Langit dan semua pria beristri melahirkan pasti merasakan hal yang sama.


Jujur saja Langit sangat tergoda melihat dua gundukan yang semakin sintal semenjak punya anak serasa ingin meremasnya.


Tahan Langit.


Langit tetaplah manusia biasa, ia tidak tahan dengan godaan yang ditampilkan istrinya. Otaknya sudah membayangkan ingin meraba dan merasakannya lagi setelah hampir 40 hari berpuasa.


Tangan Langit menarik kepala Maryam agar mendekat. Bibirnya langsung ******* habis dan mencecapnya sampai tangan Maryam meremas rambut Langit. Istrinya itu sudah sama-sama terhipnotis akan buaian memabukan sang suami.


Langit segera menyudahinya sebelum ia khilaf belum bisa menyentuh istrinya.


Maryam mengerti suaminya menginginkan lebih, hanya dengan tatapannya saja Maryam tahu Langit sedang ingin bercinta dengannya.


"Tinggal satu hari lagi kan ya?" tanyanya penuh harap.


"Sabar ya, tinggal satu hari lagi." Maryam mengecup pipi Langit dan Langit membalas meremas kedua buah dada Maryam.

__ADS_1


Langit menyeringai melihat istrinya bersemu merah.


"Mas, kamis besok kan tanggal merah disambung ada cuti bersama. Gimana kalau kita liburan ke luar kota? Kita liburan sama keluarga besar kita gimana? Anin, Aisya pasti seru Mas." Maryam mengajak sambil membayangkannya.


"Kamu maunya kapan?"


"Besok kita berangkat, Mas."


"Oke, kita berangkat sekalian bulan madu 40 harian gimana?" Langit menaik-turunkan alisnya.


"Bulan madu 40 harian?" Dahi Maryam mengerut.


"Iya, sekalian kita bulan madu di sana. Kamu beres kan nifasnya pas 40 hari." Langit inginnya sekarang merasai tubuh istrinya yang bagaikan candu itu.


Selama masa hamil, tubuh Maryam tidak banyak berubah. Hanya bagian tertentu saja yang membesar. Terutama bagian favorit Langit sudah pas apabila ia raba.


"Boleh, kita ke Bogor saja. Nginap di resort, kita pilih kamar yang dulu aku tempati waktu gathering. Gimana?"


"Boleh, Mas. Kalau gitu aku kabarin yang lainnya di whatsapp grup ya." Maryam lekas mengambil ponselnya membuat pengumuman mereka akan berangkat liburan ke Bogor.


Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, keluarga besar Herlambang fix ikut semua, Willy seperti biasa bertindak sebagai humas menyiapkan mobil untuk keberangkatan mereka. Mobil bus mewah milik perusahaan Langit.


Malam ini Maryam berkemas mempersiapkan keperluan untuk keluarga kecilnya.


"Ya ampun, cuma dua hari tapi milik Gala paling banyak. Milik aku sama mas Langit saja cuma satu koper kecil." Maryam bermonolog sambil membuka-buka lagi perlengkapan milik bayinya yang disiapkan suster Mira. "Tapi ini sudah semua ko, tidak ada yang terlewat."


Dari pada bingung sendiri, ia menyusul suaminya yang sudah terlebih dahulu beristirahat.


Rencananya mereka akan berangkat rabu sore biar langsung beristirahat.

__ADS_1


Baby Gala sudah tampan memakai jaket dan sneackers bayi. Dandanannya disesuaikan dengan papanya biar kompak dan bagus untuk foto-foto. Langit hanya diam diperlakukan sesuai keinginan hati sang istri asal ada upahnya.


Perjalanan ke Bogor tidak memakan waktu lama, beruntung jalanan tidak semacet biasanya saat akan liburan panjang. Diperkirakan kemacetan akan terjadi esok hari.


Mobil sudah sampai di depan ressort, para staff hotel menyambut kedatangan keluarga Herlambang di lobby.


Anin melirik pada suaminya, ini kali kedua bagi mereka datang ke resort itu tapi statusnya masih sama-sama jomblo. Sama halnya dengan Langit dan Maryam.


Tidak salah Adam mempercayakan bisnis resort ini pada Langit. Resort yang sudah lama tidak pernah ia sentuh sangat mengalami kemajuan pesat. Tampilan resortnya masih dijaga dari awal pembangunan sampai sekarang.


Langit dan Maryam sudah berada di depan kamar yang akan mereka tempati, salah satu kamar utama di resort itu. Langit jadi teringat masa-masa Maryam pernah hilang.


"Sayang, untuk kamar sebelah itu untuk kamar suster Mira ya. Nanti kita titipin Baby Gala biar kita bisa berduaan dulu," ucap Langit sambil mengerlingkan sebelah matanya.


Suster Mira tersenyum tipis, ia paham maksyd majikannya. Ia juga pernah mengalami masa-masa seperti majikannya itu.


"Iya Bu, biar Baby Gala sama saya tidurnya. Nanti kalau ada apa-apa saya ketuk kamar Ibu ko," kata suster Mira membuat Maryam malu.


"Mas, ih." Ia mencubit pinggang suaminya itu sampai mengaduh sakit.


Malam ini Langit benar-benar melakukannya, dirinya sudah lebih dulu terbuai suasana romantis di dalam kamar. Aroma lavender dari aromateraphy menguar di seluruh ruangan.


Tubuh Maryam yang terbalut gaun tidur warna satin membuat lekukan tubuhnya semakin terlihat jelas. Otomatis Langit menelan salivanya secara kasar. Matanya sudah tampak sayu minta untuk segera dituntaskan.


Tarikan tangan Langit secara langsung membuat tubuh Maryam berada di atas pangkuan suaminya. Posisi yang paling disukai Langit.


Tangannya sudah tidak bisa ia kontrol dan bergeriliya ke sana-ke mari. Terdengar desahan erotis dari bibir Maryam, secepatnya Langit mengulum bibir yang tengah terbuka itu, mencecapnya seakan tidak pernah bosan.


Keduanya sudah tidak berpenghalang teronggok begitu saja di lantai. Maryam mengangat tubuhnya agar milik Langit sudah siap dimasukan. Maryam menutup matanya merasakan bagian tubuh suaminya sudah memasuki intinya. Dengan gerakan liar akibat tidak tertahankan, Langit menggerakannya dengan ritme cepat.

__ADS_1


Langit sudah tidak bisa mendengarkan permintaan istrinya agar melakukannya dengan pelan.


Lenguhan mereka berdua mewarnai kamar bercat putih itu. Keduanya sama-sama terkulai lemas mendapatkan kenikmatan bersama-sama. Dengan nafas tersengal-sengal mereka saling melempar senyum.


__ADS_2