
Rombongan teman-teman dekat Maryam dari divisi produk sudah sampai di Rumah Sakit Medika. Semuanya menuju lantai 5 dimana ruang perawatan VVIP berada. Di lobby saja sudah banyak karangan bunga dari para relasi bisnis Langit memberikan ucapan selamat atas kelahiran Baby Gala.
"Ya ampun karangan bunga sini juga ada." Agnes menggeleng-gelengkan kepalanya melihat di depan ruang rawat Maryam juga ada.
"Jangan heran Bu, kan pak Langit itu bos. Jadi wajarlah nyerempet-nyerempet mirip presiden," sahut Dwi.
"Iyalah, mereka gercep banget ya tahu aja kalau bayinya pak Langit sudah launching." Agnes lantas terkekeh.
Setelah maghrib mereka sudah tepat berada di depan ruang rawat Maryam, Agnes mengetuk pintunya terlebih dahulu.
"Assalamu'alaikum," ucap teman-teman Maryam bersamaan.
"Wa'alaikumsalam," jawab dari dalam. Formasi masih lengkap belum berkurang satupun.
Ainun dan Aisya sedang menyantap nasi kebuli yang dipesan lewat pesan online sedangkan Langit dan Willy sedang membahas masalah pekerjaan. Mau tak mau semua berkas kerja dipindahkan sementara ke Rumah Sakit. Langit tidak akan masuk kantor dulu sebelum Baby Gala aqiqah.
"Maryam." Mendadak heboh seisi ruang rawat dengan kedatangan teman baik Maryam.
"Ya ampun kalian datang juga." Maryam tersenyum lebar menyambut kedatangan teman baiknya.
Teman-temannya menciumi Maryam, melepas rindu mereka karena sudah lama tidak bertemu. Kesibukan di kantor membuat mereka tidak bisa menemui istri dari bos mereka.
"Ya Allah ini Babynya? Ganteng banget ini mah." Semuanya hanya melihat tanpa menggendong, karena kalau salah satu menggendong maka yang lainnya juga akan ikut-ikutan.
Baby Gala terlihat menggeliat lalu terlelap kembali.
__ADS_1
"Ini mah mirip Pak Langit banget, kamu nggak kebagian Maryam. Hihi," ucap Anet memperhatikan ketampanan Baby Gala mengalahkan ketampanan bayi milik para artis.
"Ini, kami bawain hadiah buat babynya. Dan ini buat kamu." Serah Agnes membelikan camilan favorit Maryam.
"Ya ampun, Bu. Tahu aja ini makanan kesukaan saya." Maryam menerimanya lalu memakannya. Melinjo manis yang tak pernah absen jadi cemilan wajib di meja kerjanya kalau di kantor.
"Tahu dong, padahal saya cuma pencitraan loh di depan Pak Langit biar bonus bulanan meningkat tajam hihi." Lirik Agnes dengan ekor matanya pada Langit.
Langit mengulum senyumnya mendengarkan curhat colongan Agnes.
"Tenang saja asal anak saya kalian asuh di rumah, saya akan berikan bonus dua kali lipat dari biasanya."
"Mas," sergah Maryam.
"Wah kalau cuma ngasuh Pak masalah kecil itu, jangan khawatir. Dwi jagonya," ucap Agnes mengorbankan Dwi jadi tumbal.
Hal yang sama juga dirasakan Maryam, keakraban yang biasanya dihadirkan bersama berasa berbeda.
*
*
*
*
__ADS_1
*
"Mas, kamu ngerasa gak sih ko Anin sama Celin agak beda gitu." Maryam mengadu pada suaminya.
"Aku kurang merhatiin tuh. Apa iya yah, mungkin perasaan kamu saja kali."
"Mungkin ya cuma perasaan aku aja."
Baby Gala masih tertidur, kalau bayi itu tidak bangun-bangun dalam 2 jam. Maryam mengusik tidurnya sampai terbangun, sampai Baby Gala menangis. Cara itu dilakukan supaya Baby Gala mendapatkan asupan makanan dan terhindar dari billurubin.
***
Akhirnya Baby Gala dan Maryam sudah pulang ke kediaman Herlambang. Keluarga terdekat mengadakan penyambutan yang meriah, balon karakter dan cake bertuliskan selamat datang Baby Gala turut mewarnai penyambutan itu.
"Masya Allah, disambut lagi di sini. Jadi teharu." Matanya sudah berair lagi, hatinya tersentuh begitu banyak yang menyayangi puteranya.
"Hai Mar," sapa Zoya tiba-tiba sudah datang ikut menyambut bersama Arsy.
"Kak Zoya," ucap Maryam pelan lalu ia terpaku melihat kakaknya sudah berada di sana.
Langit juga hanya diam ingin tahu apa yang akan dilakukan Zoya selanjutnya.
"Jangan takut, aku datang karena ponakanku ini. Aku mendengar kamu melahirkan, ya sudah sekalian aku juga ingin bertemu Arsy." Tatapan tulus pada akhirnya menyadarkan Maryam kalau Zoya benar-benar datang ingin melihat keponakannya.
"Iya Kak, terima kasih sudah datang."
__ADS_1
***
Bersambung