
Tangan Maryam meraih dasi premium strip motif silver mengalungkannya ke leher Langit dan memasangkannya dengan rapi, sebagai pelengkap tampilannya malam ini yang dipadukan dengan jas hitam mahalnya. Sebagai seorang direktur utama perusahaan maju dan ternama tentunya penampilan menjadi hal penting sebagai komponen utama terjalinnya kerja sama.
Sama halnya dengan Maryam, ia mengenakan helter dress warna gold yang dibawa suaminya tadi. Sangat cantik dan warnanya cocok untuk kulit putih Maryam, terlihat elegan untuk pesta yang diadakan di ballroom hotel bintang 5.
"Tidak adakah heels yang lain?" Tatapnya pada high heels yang dikenakan Maryam. Untuk wanita hamil tidak dianjurkan memakai high heels seperti itu, bagaimana nanti kalau kaki Maryam keseleo.
"Tapi warnanya hanya cocok yang ini, sama warna gold." Maryam merengut tidak rela jika harus diganti, masa iya penampilannya malam ini tidak fashionable.
"Tunggu, siapa tahu Aisya punya yang cocok untuk dressnya." Dicarinya heels warna gold yang masuk untuk pakaian yang dikenakan Maryam. Beruntung Aisya tidak membawa semua barang-barangnya, ada satu heels milik Aisya kondisinya tampak baru dan masih berada di kotak sepatunya.
"Coba angkat kakimu." Langit berjongkok memakaikan heels di kaki Maryam.
Maryam tersenyum tipis, Langit memang tidak segan mengurus segala sesuatu untuk dirinya. Tidak ada alasan untuk tidak mencintai Langit. Pria itu selalu membuat hatinya tersentuh.
"Ini pas, Mas. Aisya nggak apa-apa kan kalau aku pinjam?" Maryam mencobanya berjalan beberapa langkah.
"Nggak usah dipinjam, nanti ganti saja suruh beli yang baru." Langit mengulurkan tangannya menghela Maryam bersiap pergi.
Selama di perjalanan, Langit beberapa kali menoleh ke sebelah kursi penumpang. Ditatapnya Maryam sambil tersenyum, malam ini Maryam sangat cantik. Rambutnya di sanggul modern menampilkan leher putihnya. Inginnya Langit mencium ceruk leher Maryam yang membuatnya tertarik itu.
"Mas, apa rekan-rekan bisnismu tidak akan memandangku aneh. Karena penampilanku ini?" tanya Maryam membuat dahi Langit mengerut.
Langit memindai penampilan Maryam setelah mereka keluar dari mobil.
"Memangnya kenapa penampilanmu? Tidak ada yang aneh, kamu sangat cantik. Pasti rekan bisnisku akan memuji kalau Nyonya Langit sangat cantik," kata Langit tidak berbohong.
"Aku hanya tidak pede, Mas." Maryam tiba-tiba minder.
Diremasnya jari-jemari Maryam yang mulai mendingin.
"Sayang, jangan minder. Justru aku sangat percaya diri mendapatkan istri seperti kamu yang tidak ada bandingannya di dunia ini." Langit mencium puncak kepala Maryam setelah itu mengusap wajahnya dengan lembut.
"Tersenyumlah." Pinta Langit.
__ADS_1
Maryam mengurai senyumannya setelah itu mereka berdua menuju ballroom.
Suasana di Ballroom sudah ramai, tamu undangan banyak yang sudah berdatangan. Burhan sebagai tuan rumah menyambut kedatangan Langit secara pribadi. Meski usi Burhan sama dengan Adam tak mengurangi rasa hormatnya pada Langit yang lebih muda.
"Pak Langit, senang anda bisa datang. Saya sangat tersanjung sekali, Bu Langit." Sapa Burhan bergantian menyalami Langit terus Maryam.
"Sama-sama, Pak. Terima kasih sudah mengundang saya, dan selamat juga atas produk Pak Burhan yang semakin laris."
"Anda terlalu berlebihan memuji saya, Pak. Silahkan Pak Langit, jangan membiarkan istri yang sedang mengandung terlalu lama berdiri." Burhan menepuk pelan lengan Langit menyuruhnya menduduki tempat yang telah disediakan.
"Huh." Maryam menghembuskan nafasnya saat ia sudah duduk.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, rupanya aku tidak kuat berdiri lama sekarang. Kakiku terasa pegal sekali, Mas." Kalau bukan di acara pesta Maryam akan memijit kakinya sendiri. Sayangnya banyak orang penting hadir.
"Maryam." Suara seorang pria menyapanya dari kejauhan. Otomatis Maryam dan Langit menoleh bersamaan melihat siapa yang memanggil.
Langit menatap Maryam, meminta jawaban siapa pria yang disebut 'Kak Gavin' itu.
"Aku tidak mengira bakalan ketemu kamu lagi di sini? Kamu sudah menikah, tahu-tahu lagi hamil saja ini anak." Dicubitnya hidung Maryam sampai kemerahan.
Melihat itu Langit memalingkan wajahnya tidak suka, diraihnya satu gelas minuman lalu diteguknya sampai tandas tak bersisa.
"Jangan mencubitku, bisa-bisa riasanku jadi rusak." Keluh Maryam merengut kesal.
"Ck, anak mama sudah pintar berdandan. Aku akan marah karena kamu tidak memberitahukan pernikahanmu."
"Jangan merajuk, Kak Gavin tidak pantas merajuk seperti anak kecil. Kak Gavin sudah tua pantasnya sudah punya anak." Maryam terkekeh. Diantara mereka berdua tidak kesan canggung setelah sekian lama tak bersua.
Langit semakin kesal karena hanya dianggap patung. Membiarkan keduanya asyik berbincang.
"Maaf Kak Gavin, aku lupa belum memperkenalkan suamiku. Kenalin Kak, ini suamiku Mas Langit."
__ADS_1
Langit dan Gavin saling berjabat tangan sangat erat. Tatapan keduanya mempunyai arti masing-masing dan hanya mereka yang tahu apa arti dari tatapan itu.
Tatapan Langit seolah meremehkan begitupun tatapan Gavin.
"Pak, ayah anda sudah memanggil." Bisik salah satu pria pada Gavin. Hanya anggukan dari Gavin.
"Kalau begitu aku permisi, Pak Langit saya permisi dulu." Gavin mengulas senyumnya terlebih dahulu pada Maryam setelah itu berlalu meninggalkan keduanya.
Semua tempat yang sudah tersedia tampak penuh. Dari arah depan panggung, berdiri Burhan ditemani Gavin di sebelahnya.
"Loh ko kak Gavin dengan pak Burhan ya, Mas." Maryam heran kenapa keduanya terlihat akrab.
"Kamu dapat dari mana orang seperti itu?" tanya Langit ketus tanpa melihat pada Maryam.
"Maksud Mas, kak Gavin?"
"Ya kak Gavinmu itu. Dari mana kamu mengenalnya?"
Merasa suaminya sedang kesal, Maryam tahu diri mungkin suaminya tidak suka pada Gavin.
"Aku kenal di kampus, dia kakak kelasku." Maryam tidak lagi bicara. Kenapa tiba-tiba suaminya jadi marah seperti itu.
"Selamat malam, selamat datang para tamu undangan yang berbahagia. Pada malam ini saya ingin memperkenalkan penerus dari trah bisnis saya, tidak lain adalah putera saya sendiri yang akan menggantikan posisi saya sebagai direktur utama G-Farma. Perkenalkan Gavinendra, putera sulung saya." Burhan memperkenalkan Gavin untuk pertama kalinya setelah kepulangannya dari luar negeri.
Gavin mengambil alih podium, dirinya sangat gagah dan bersahaja dalam balutan jas hitamnya. Untuk pertama kali juga Maryam baru tahu kalau Gavin merupakan seorang putera dari pengusaha terkenal. Maryam hanya tahu kalau Gavin berasal dari keluarga sederhana karena gaya hidupnya tidak terlalu mencolok sebagai orang kaya.
"Jangan bilang kamu juga baru tahu kalau Gavin itu anaknya pak Burhan," ucap Langit masih saja ketus.
"Iya Mas, aku baru tahu. Tapi sebentar, kenapa kamu jadi ketus gitu sih." Bisik Maryam, tidak ingin memulai keributan ditengah-tengah suasana hening. Saat ini hanya suara Gavin yang terdengar menggema di seluruh Ballroom.
***
Bersambung lagi Kakak.. Ayo seperti biasa tinggalkan jejaknya ya..
__ADS_1