
Kami berdua naik motor ke restauran yang sudah ditunjukan pak Herman.
Di tempat yang sudah direservasi, aku melihat punggung pria menyebalkan itu dari belakang.
Umi dan aku langsung menyalami kedua orang tua Arik. Kemudian mataku bertatapan dengan mata elang milik pria menyebalkan itu.
Cih, rasanya aku ingin melahapnya habis-habis sampai tak bersisa.
"Ya ampun Nak Anin cantik sekali, ayo-ayo Bu Amira kita duduk." Bu Herman mempersilahkanku dan umi duduk bersebelahan dengannya. Menjadikanku duduk bersebelahan dengan pria menyebalkan itu.
"Arik, sapa dong Nak Aninnya. Masa diam saja dari tadi," kata pak Herman pada Arik.
Kalau dilihat-lihat sikap Arik itu tak lain karena orang tuanya terlalu memanjakannya. Dan lagi mana aku mau dengan pria seperti itu.
Rasanya aku ingin memukul kepalanya saat pria itu hanya diam saja meski sudah diperingatkan orang tuanya. Kalau aku jadi orang tuanya aku akan memperingatkannya saat itu juga. Anak itu memang kurang diajar.
"Ayo Bu Amira kita langsung makan saja hidangannya nantinya keburu dingin," kata bu Herman.
Umi, pak Herman serta bu Herman asyik makan sambil berbincang, sementara aku? Jangan tanya, aku makan sambil hati dongkol bukan main. Si Arik itu juga makan sambil melirikku dengan tajam. Seolah aku menangkap makna di balik tatapan kejamnya 'JANGAN KAMU TERIMA PERJODOHAN INI!'.
__ADS_1
"Jadi bagaimana Arik, Nak Anin. Kalian sudah pikirkan rencana perjodohan keluarga kita kan?" Pak Herman langsung ke intinya membuatku membelalakan mata tidak siap.
"Sa,-"
"Aku tidak mau, aku tidak mau dijodohkan. Ini zaman modern mana ada perjodohan seperti ini, lagian aku tidak suka padanya. Gayanya saja seperti pembantu. Bisa saja keluarganya nanti hanya akan jadi benalu. Jadi aku harap perjodohan ini dibatalkan!"
Dadaku rasanya terpukul mundur, bukan sebab pria itu menolak dijodohkan tapi perkataannya yang mengatai gayaku seperti pembantu. Lupakan rasa sakitku, tapi bagaimana dengan umi?
Aku melihat umi tetap menampilkan senyumannya, tapi aku tahu hati umi pasti sakit. Dengan uangnya umi membelikanku pakaian baru tapi pria itu malah mengatai dengan seenak jidatnya.
"Arik!" Suara pak Herman terdengar meninggi.
"Pa, Arik berkata seadanya dari pada dipaksakan tapi ujungnya bercerai bagaimana?"
Tanpa merasa berdosanya Arik pergi meninggalkan tempat kami makan. Ia berlalu pergi dengan tingkat kearogansiannya yang tinggi.
Sejak saat kejadian itu umi tidak pernah lagi membujukku untuk berkenalan atau menikah. Umi membiarkanku memilih jalan hidupku sendiri.
Kalau boleh jujur, aku sebenarnya sakit hati mendapatkan mendapatkan penghinaan seperti itu. Aku ingin membalas sakit hatiku dengan cara yang indah.
__ADS_1
6 bulan kemudian aku wisuda. Umiku sangat bangga dengan nilaiku yang memuaskan. Berbekal penghinaan dan rasa sakit hatiku, aku mencoba mendaftar di perusahaan Medika. Perusahaan multinasional, salah satunya perusahaan utama bergerak di bidang alat-alat kesehatan.
Mungkin Allah punya rencana tersendiri untukku dan umi. Baru satu minggu memasukan lamaran, alhamdulillah aku mendapatkan panggilan. Proses wawancara, test dan segala macamnya aku lewatkan tanpa ada kesulitan. Ada do'a-do'a umi di sana.
"Selamat Bu Anindya, anda diterima bekerja di bagian divisi produk." Bu Alma sebagai manager HRD yang memberikan hasilnya di depan pelamar yang lain.
Aku mengucap syukur, bagaimana tidak. Perusahaan bergengsi sekelas Medika menjadi naunganku mencari uang.
"Bruk." Aku terdorong sedikit, seorang wanita seumuranku berlari terburu-buru menuju lift. Alhasil ponsel dan camilan yang aku makan saat menunggu hasil wawancara terakhir tumpah berserakan.
"Iih dasar orang kota, bisa-bisanya jalan terburu-buru nggak lihat-lihat. Abis kan semua," Aku merengut kesal.
Sementara si wanita sudah pergi entah kemana.
Selepas aku diterima, aku langsung menghubungi umi. Aku mengabarinya kabar kalau aku diterima.
Apartement yang tidak jauh dari perusahaan jadi tempat keduaku setelah rumah. Apartementnya tidak terlalu besar tapi sangat nyaman sekali, design interiornya juga kekinian.
Kini, aku bisa berdiri dengan kakiku sendiri. Aku Anindya tidak akan pernah membiarkan siapapun menghinaku apalagi umi.
__ADS_1
***
Yang ini cerita Anindya dulu, maafkan aku jika salah nama atau apalah anggap saja itu typo yang indah 😄😄😄