BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Bonchap 4


__ADS_3

Bonchap datang lagi, kali ini aku datang dengan cerita teman-teman setia Maryam di divisi produk. Cerita pertama aku kisahkan tentang Agnes, si ibu wakil divisi produk yang terkenal judes.


***


Suara langkah kaki terdengar menggema di seluruh lantai divisi produk, divisi yang beranggotakan 25 orang itu tidak ada yang berani membuka suara ketika sosok Agnes Mardian berjalan memeriksa setiap kubikel dengan seksama. Tatapannya lebih galak dari pak Waryo, kepala divisi produk.


Diusianya yang sudah terbilang matang, Agnes terkenal disiplin dan konsisten. Ia tidak pernah sekalipun melakukan kesalahan, dalam benaknya hanya da kata 'fokus dan fokus' sampai suatu hari Langit datang untuk pertama kalinya sebagai direktur utama menggantikan Adam.


Tingkah Agnes yang keras mendadak melunak, yang tadinya garang mendadak lembut. Diusianya yang sekarang ini harusnya ia sudah menikah dan punya anak. Menurut kabar burung, Agnes mempunyai kriteria khusus tentang calon suaminya. Haruslah yang seperti Damar Langit.


"Bu Agnes itu ketinggian, masa pak Langit jadi incerannya sih." Dwi bergibah di pojokan kantin bersama Anet dan Celin. Sementara Maryam dan Anin sedang berbincang serius di tempat berbeda.


"Huus, nanti bu Agnes denger baru tau rasa lu." Anet menunjuk muka Dwi.


"Gue bicara fakta, masa dipanggil pak Langit ke ruangannya pake ngaca sampai setengah jam ditoilet." Dwi bersungut-sungut dengan mulut penuh makanan.


"Hah masa?"


"Serius, gue gak bohong." Dwi menunjukan jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Mungkin bu Agnes butuh belaian kali ya," ucap Anet sambil tertawa renyah.


"Emangnga bu Agnes janda. Tuh diem bu Agnes datang."


Keduanya mendadak bisu pura-pura membicarakan hal lain.


Dwi menatap lekat wajah Agnes, wanita yang menjadi atasannya itu punya kulit yang bagus dan cantik. Hanya saja bingkai kaca matanya yang tebal yang membuatnya terlihat kolot. Bibirnya yang merah merekah karena lipstik itu juga mempengaruhi kesan kolot di wajahnya.


Kegagalannya mendapatkan Langit karena menikah dengan bawahannya menjadikan Agnes terpukul. Usahanya menggaet direktur utama berujung zoonk.


***

__ADS_1


"Apa benar kata Dwi kalau aku terlihat kolot dengan penampilanku?" Agnes berkaca di depan cermin kamarnya. Ia memperhatikan lekuk tubuhnya yang indah.


Dahi Agnes merengut, apa yang salah pada dirinya. Kenapa ia sulit sekali mendapatkan pasangan. Sementara anak buahnya sudah punya pasangan masing-masing.


Jujur saja hatinya masih mendamba pada Langit tapi hanya sebatas mengagumi saja karena Langit sudah menjadi milik Maryam malah mereka sudah memiliki anak.


Ia menimang-nimang ajakan Dwi dan Anet untuk pergi ke salon. Ia berpikir keras terngiang kata-kata Dwi kemarin.


Yang namanya berubah itu butuh keberanian.


Agnes mendesah pelan, diambilnya tas tangannya di atas meja cermin. Ia mengambil ponselnya di dalam tas, melihat pesan Dwi.


"Ivan Gunawan hair&salon make up studio," ucapnya mengulang. "Aduh pergi nggak ya." Agnes benar-benar dilema.


Agnes berdiri tegak di depan cermin.


"Oke, aku akan pergi sekarang. Demi perubahan dan calon imam." Agnes menarik satu sudut bibirnya, penuh percaya diri ia pergi dan menghubungi Dwi untuk ikut bersamanya.


***


Aku melihat pantulan diriku di depan cermin besar salon milik selebritis ternama tanah air. Aku melihat perubahan besar pada diriku sendiri, wajahku di make over dengan kekuatan make up. Ya ampun, rasanya aku ingin pingsan saja karena tidak mengenali diriku sendiri. Bukan hanya gaya make upku yang berubah natural gaya orang korea tapi semua yang ada di diriku juga. Model rambut dan pakaianku sudah dipermak habis.


Model rambut sebahu layer jadi pilihan hair stylishnya. Tak lupa rambutku yang hitam berubah warna jadi dark brown. Tubuhku yang biasanya tertutupi blazer model jadul sudah diganti dengan model blazer kekinian. Dan aku menyingkirkan kaca mataku yang tebal, berganti dengan softlens.


Sejujurnya aku tidak nyaman memakai softlens seperti ini membuat mataku tidak nyaman dan berair tapi aku bulatkan tekadku kembali, demi calon imam.


Aku yakin usaha tidak akan membohongi hasil.


Bukan hanya aku saja yang tidak mengenali diriku, Dwi yang ikut aku juga sama sekali tidak mengenalku. Mata Dwi membelalak melihat tampilanku yang baru.


Aku nyengir kuda melihat ekspresinya yang tak biasa.

__ADS_1


"Bu, Ibu ko terlihat lebih muda dari pada aku." Teriaknya tidak rela padaku.


***


Aku selalu membenarkan kata Dwi sekarang, dengan langkah penuh percaya diri aku melangkahkan kakiku di lobby perusahaan menuju lift. Dan kalian tahu seolah semesta mendukung perubahanku yang besar, aku melirik ke kiri kananku. Kemana orang-orang, biasanya jam pagi seperti ini lift sangat penuh.


Pintu lift tertahan dengan kedatangan seorang pria yang aku tidak kenal siapa dirinya itu. Mungkin dia adalah karyawan di bagian divisi lain. Pria itu tersenyum padaku, oh ya ampun apa tidak salah ada pria tampan tersenyum padaku di pagi hari seperti sekarang ini.


Pukul 08.00 teng semua karyawan berkumpul. menunggu pengarahan dari manager HRD, bu Alma dan pak Akmal sebagai wakil direktur memperkenalkan kedatangan kepala divisi baru kami.


Mataku membulat sempurna melihat pria yang menjadi kepala divisi kami ternyata adalah pria yang satu lift denganku tadi.


"Bu Agnes, saya senang dengan penampilan anda yang sekarang. Segar dan cantik," ucap pak Akmal memujiku rasanya serasa aku terbang ke awan.


"Perkenalkan, ini namanya Pak Raffi yang akan menggantikan posisi pak Waryo."


Pernyataan pak Akmal sontak membuatku terkaget-kaget bukan main. Kenapa aku tidak tahu pak Waryo diganti. Asisten macam apa aku ini.


Konon katanya pak Waryo mengajukan pensiun lebih awal, harusnya beliau pensiun tahun depan. Pak Waryo hanya cerita padaku tentang rencana setelah pensiunnya. Beliau cerita setelah pensiun ingin tinggal di desa menempati rumah peninggalan orang tuanya dan hidup dengan tenang sambil bertani.


Kenapa aku sampai melupakan pak Waryo yang pensiunnya terkesan mendadak. Meski aku kadang suka kesal pada beliau, beliau suka telepon malam-malam atau dini hari hanya sekedar menanyakan jadwal. Aku akui kinerja beliau sangat bagus dan konsisten.


Tatapanku beralih pada wajah tampan yang membukan, sepertinya aku akan lebih cepat menggantikan pak Langit di hatiku.


"Bu, gerak cepat sebelum disalip Anet." Bisik Dwi menggoda.


"Aku sudah menggaetnya terlebih dulu. Jangan ada yang berani-berani!" Ancamku pada Dwi.


Ya ampun kenapa hatiku deg-degan seperti ini, pengganti pak Waryo benar-benar segar dan pemandangannya sungguh luar biasa aku sampai dibuatnya terpana.


"Pak Raffi, anda mau kopi atau teh? Saya akan membuatkannya," tanyaku pada atasan baruku itu. Padahal sama pak Waryo, aku tidak pernah sekalipun membuatkannya.

__ADS_1


***


__ADS_2