BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Istri macam apa aku


__ADS_3

flashback on


Sava POV


Berjuang demi cinta bukan berarti mencari dan mengemis cinta, ingat bahwasanya diluar sana masih banyak yang akan memberimu cinta tanpa harus kau minta.


Tapi berjuang demi bisa bersama Emieer adalah pengorbanan yang aku tak akan pernah merasa menyesal. Dan perjuangan bagaimana cara Emieer menghalalkan aku untuk nya sangat membuat diri ku terharu.


Siapa yang akan mengira jika aku akan sebahagia ini sekarang. Bahkan saat aku memutuskan pergi dari rumah besar,aku sudah siap untuk menjadi seorang gelandang. Gadis muda 19 tahun yang homeless. Aku tak membawa apapun kala itu saat meningalkan rumah besar.


Bukan karna aku keras kepala dan emosional, tapi karna aku sadar siapa diri ku Aku berhutang budi pada Papa dan Mama. Aku juga berhutang kasih sayang tulus dari ke dua Kakak ku. Aku menyayangi mereka Kak Audrey dan Kak kemal. Mereka, keluarga itu sudah memberikan banyak cinta, kasih sayang dan materi yang melimpah untuk ku selama 19 tahun.


Walau kini aku tak lagi berada di tengah-tengah mereka dan papa mengusir ku, aku baik baik saja.


Aku merindukan kalian keluarga ku. Aku menyayangi kalian semua. Aku tidak menyalakan siapapun saat aku terusir. Tapi meninggal kan rumah adalah keputusan yang egois yang pernah ku pilih. Keputusan sepihak, keputusan penuh ke egoisan ku sendiri.


Tapi tenang saja, Aku sekarang baik baik saja. Dan aku merasa sangat bahagia. Dan rasa terimakasih pada keluarga Hasan Malik tak akan mampu, aku bisa membalas nya.


🍁🍁🍁🍁


Hidup ternyata sebahagia ini, semanis ini. Di cinta dan mencintai sungguh luar biasa. Suatu energi hebat yang membuat ku tak berdaya.


Emieer Sadiq, dia lah alasan ku merasakan semua kebahagiaan ini. Dia yang kini sudah menjadi suami ku, aku sangat mencintainya.


Aku merasa beruntung bertemu dengan pria sederhana, dan sangat bertanggung jawab serta penuh dengan kehangatan itu. Emieer tipe lelaki yang romantis.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Percintaan kami untuk pertama kalinya yang kami lakukan di rumah kost semalam masih saja membuat ku melayang. Kini aku masih tertidur pulas di rajang, masih malas bagun. Tak ingin merusak bagaimana aku mengingat kembali moment semalam.


Bagaima aku dan Emieer tidur berdua di rajang kami yang tak terlalu besar, bisa di bilang hanya muat dua orang, itu saja kami harus berdesakan.


Walau tingal di rumah yang sempit, bukan rumah yang sebenarnya sih, hanya tempat kost.


Tapi kami menyebutnya rumah, Emieer bilang home sweet home dan aku menyetujui itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Ruangan yang terasa hangat tiba tiba menganggu ku, mengusik aku yang masih betah bermalasan berbaring sambil mengingat ingat kegiatan panas antara aku dan Emieer semalam. Pria itu luar biasa, aku tak menyangka dia yang pembawaan lebut dan pendiam bisa seluar biasa itu, aku tersenyum sendiri menilai Emieer.



Perlahan karna suhu ruangan makin lama makin terasa hangat, walau pendingin ruangan masih dalam keadaan mode on, membuat ku bangkit dari rebahan.


Begitu aku membuka mata dan masih terduduk di di atas tempat tidur, ku amati sejenak ruangan yang terlihat berantakan sana sini. Cahaya matahari yang sudah sepengalah dan terasa silau menerobos masuk melalui jendela kaca. Beberapa menit setelah kesadaran ku sepenuh kembali, aku terperanjat kaget.


Aku mendengus kesal pada diri sendiri. Istri macam apa aku. Masa jam 10 pagi baru bagun, keluh ku. Membersihkan diri adalah hal pertama yang aku lakukan, pikir ku. Kemudian aku berjalan ke kamar mandi dengan balutan selimut.


Sepanjang acara kegiatan membersihkan diri, aku tak henti henti nya merutuki penyesalan ku karena bagun telat. Bukankah ini hari pertama Emieer kembali bekerja dengan sudah berstatus punya istri.


Harus nya aku tadi mengurusi nya. Menyiapkan sarapan nya, baju nya, menyiapkan semua keperluan Emieer pergi bekerja. Tapi aku malah asik tidur, bagun siang dan enak enak kan bermimpi.


Dasar aku.


Sesaat setelah aku sudah selesai dengan ritual membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi. Mengeringkan rabut yang basah dengan handuk. Ada hal menarik tertangkap panca Indra ku, tepat nya di meja makan kecil kami.

__ADS_1


"Apa itu?"


Ku gerakan langkah kaki menuju meja kecil deket jedela. Dan lagi-lagi aku hanya bisa melongo.


"Emieer."



Emieer membuatkan aku sarapan.


"Ya Tuhan manis sekali, masih sempat nya dia membuatkan aku sarapan pagi. Padahal aku bisa membuat nya sendiri Emieer." keluh ku masih tajub mengamati sarapan pagi yang ia sudah sediakan di meja.


Harusnya aku yang melayaninya, bukan aku yang di layani. Aku begitu merutuki momentum pertama kali, melayani suami setelah hubungan kami yang sudah sah.


Roti bakar berselai stroberi lengkap dengan segelas susu sudah siap di atas meja.


Dan yang membuat aku kembali terharu adalah tulisan tangan Emieer pada secarik kertas. Ku baca pesan yang Emieer tulis untuk ku.


Tulisan tangan yang indah,kata kata yang sederhana tapi mampu kembali membuat aku terharu. Air mata penuh cinta untuk Emieer lolos mengalir membasahi ke dua pipi.



Suami ku sayang Emieer, entah aku harus berkata apa. Aku tak pernah menyangka kau akan seromantis ini.


Pagi hari jelang siang yang sangat indah, ku nikmati sarapan pagi yang telat dengan menyantap roti bakar berselai stroberi dengan penuh Cinta. Roti buatan suami, segelas susu penambah energi, luar biasa.


Alhamdulillah bab 16

__ADS_1


salam cinta dari penulis yang baru belajar ini


💐🤗🥰🙏


__ADS_2