
Flashback on
Sava POV
Sepanjang perjalanan menuju suatu tempat, yang aku tidak tau kemana Emieer membawa ku. Aku tak melepaskan kedua tangan ku yang melingkari perutnya. Aroma parfum maskulin Emeeir selalu membuat ku mabok kepaya.
Bahkan aku makin merangsek menempelkan tubuh ku ke punggung Emieer. Ku eratkan kuncian ke dua tangan ku yang melilit perut nya, Ia bahkan sempat protes karna merasa sesak nafas, aku tak peduli, biar saja aku di kata ular yang sedang menjerat mangsa. Perasaan ku teramat melambung bahagia saat ini.
Aku masih tak percaya, bahwa kini aku sudah menikah dengan nya. Aku juga masih tak percaya jika aku sudah menjadi seorang istri, dan memilik seorang suami sekarang.
Emieer, entah bagaimana perasaan ku saat ini, tapi aku sungguh mencintai mu. Aku tidak tau apa yang akan terjadi pada ku, jika aku tidak di pertemukan dengan mu.
Pria dengan sifat lembut, sejuk dan menentramkan. Berada di sisi nya, bagaikan candu, magnet, aku tak bisa jauh dari nya. Beranda di sisi nya bukan lagi sebuah ke inginan, tapi juga bagian dari kebutuhan ku.
Sempat ragu menerima pinangannya, karna menikah muda memang tidak ada di list yang ku rencana kan. Tapi karna nasib yang membuat semuanya berubah, aku juga harus merubah semua daftar list yang aku rencanakan. Kadang kita memang hanya bisa merencanakan, tapi takdir mengubah nya, serta Tuhan ber kehendak lain.
Sekarang apa yang harus aku lakukan. Apa saja tugas seorang istri. Bagaimana aku mengurus Emieer.
Ya Tuhan......
Aku sungguh tak bisa membayangkan, semoga saja Emieer tetap sabar menghadapi ku, seperti yang sudah sudah. Selama ini dia selalu sabar menghadapi ku, bahkan aku tak pernah merasakan di kasari oleh nya. Emieer benar benar pria idaman dan gentleman.
🍁🍁🍁🍁
"Kak, sebenarnya kita mau kemana?" tanya ku sudah tak tahan lagi, penasaran kemana sebenarnya aku akan di ajak pergi. Karena, ternyata Emieer tak mengarahkan motor yang ia lajukan ke tempat kost, dimana kost an kini menjadi tempat tinggal ku bersama pria yang ku dekap erat ini.
"Apa tidak ada pangilan sayang untuk ku, sudah jadi suami masih aj pangil kak!" protes Emieer.
"Apa harus di ubah panggilan nya?"
"Aku juga sering pangil kamu sayang kan!" balas ku
"Tidak juga sih, tapi aku akan senang, jika kau panggil aku sayang,"
Merasa gemas dengan nya, aku cubit pinggang nya, hingga suara meng aduh keluar dari mulut Emieer.
"Jangan kasar, sayang," ucap Emieer, dan aku malah semakin gemas pada nya, semakin mempererat dan menempelkan tubuh ku pada nya.
"I love you, Emieer," bisik ku di ketelinga nya.
"Love you too, my little wife," balas Emieer, tapi aku tidak suka di pangil istri kecil. Aku merasa sudah dewasa, apa selama ini Emieer mengangap aku gadis bocah.
"Aku bukan anak kecil sayang ," sergah ku dengan nada sedikit kesal. Emieer kemudian terkekeh.
"Kalau begitu, kita buktikan nanti,"
"Bukti kan bagaimana?" tanya ku penasaran.
__ADS_1
"Sudah nanti aku kasih tau, pegangan yang erat, aku akan menambah kecepatan." ucap Emieer dan aku pun semakin merangsek ke arah nya, menempel kepala ku di punggung nya, serta pasrah di bawa kemana pun oleh nya.
🍁🍁🍁🍁
Belum juga sampe di tempat yang di tuju, hujan tiba tiba turun dengan sangat deras. Mau tak mau Emeeir menepikan sepeda motor milik nya, kemudian menarik tangan ku untuk mencari tempat berlindung.
Akhirnya kami berteduh di sebuah ruko kosong di tepi jalan. Hujan turun makin deras, bahkan angin kencang mulai meniup. Ranting dan dahan dahan pepohonan seperti sedang menari nari tersapu oleh tiupan angin kala itu.
"Apa masih jauh tempat nya, kak ?" Aku bertanya, sambil merapikan jaket yang ku kenakan.
Hujan deras bercampur angin membuat suasana dingin, apa lagi, sebenar lagi jelang petang.
Emieer yang tadi nya berdiri memperhatikan situasi, kini menoleh ke arah ku, tersenyum sambil melangkah mendekat.
"Tidak jauh lagi, sudah dekat. Tapi jika di paksakan, apa mau kamu hujan hujan nan," Ucapnya kemudian duduk di samping ku.
"Kenapa dingin, mau tambahan jaket?" Emieer kemudian tampak melepaskan jaket yang ia kenakan, dan memberikan nya pada ku. Merentangkkan jaket nya ke tubuh ku. Kemudian ia juga menarik tubuh ku masuk ke dekapan nya.
Berada dalam dekapan seorang Emieer Sadiq sungguh menentramkan. Pria ini sungguh membuat ku sangat nyaman. Hembusan nafas nya, aroma, dan keringat bercampur parfum nya seperti obat pemenang untuk ku.
Dan menempelkan tubuh ini pada nya, kini menjadi suatu hal yang tak lagi risi atau sungkan untuk ku lakukan. Tentu saja Pria ini halal untuk ku, dan aku halal untuk nya.
Memikirkan itu tiba tiba membuat ku gugup, aku dengan spontan menarik diri.
"Emieer, kita pergi berapa hari?"
"Hanya dua hari, Senin aku sudah kembali kerja, kenapa ?" tanya Emieer nampak bingung melihat expresi perubahan ku.
Sekarang aku jadi makin penasaran,jika kita akan pergi dua hari, berarti harus nya aku membawa beberapa potong baju ganti.
"Kenapa kawatir baju ganti, tenang sayang,aku sudah siapkan semua nya." ucap Emieer tersenyum jail,aku jadi semakin curiga dengan nya .Tapi aku bisa apa.
🍁🍁🍁🍁
Akhirnya, tiba lah kami di sebuah tempat. Dan yang membuat aku melongo adalah, Emieer mengajak ku ke hotel berbintang di pusat kota.
Sial.....
Aku mengumpat dalam hati.
Setelah Emieer memakirkan motornya, ia kembali ke arah ku. Dengan terus mengembangkan senyum di wajahnya, Emieer mengandeng tangan ku, dan aku menurut saja.
Sesampai nya kami di dalam hotel, Emieer langsung bergegas berjalan ke arah resepsionis.
Aku melihat Emeeir sedang berbicara dengan salah seorang resepsionis. Dari Indra pendengaran yang aku tangkap, seperti nya Emieer akan cek in selama dua malam, berarti selama itu kami akan menginap di hotel berbintang ini.
Tapi yang membuat aku terkejut bukan soal kami akan menginap. Tapi, dari mana uang untuk membayar sewa kamar hotel yang menurut ku mahal ini, dan sebenarnya ini tidak perlu.
Emieer sudah menguras semua tabungannya untuk acara pernikahan kami. Dan aku tau untuk membayar sewa semalam saja di hotel ini sangat mahal. Tapi aku tidak berani menginterupsi apa yang sedang Emieer lakukan.
__ADS_1
Dan aku pun pura pura menyibukkan diri bersama ponsel ku, duduk di sebuah kursi di ruang tunggu tak jauh dari nya yang masih berkutat di depan resepsionis.
Beberapa saat kemudian Emieer menghampiri ku.
"Ayo sayang," ucapnya, dan aku perhatikan sikap Emieer yang memang sudah lembut, malah semakin lembut hari ini, bahkan lebih lembut. Setiap ucapan yang keluar dari mulut nya seperti aliran listrik yang selalu menyetrum ku. Tidak ada bahasa yang bisa ku diskripsikan jika sudah membahas tentang Emieer.
Demi dia aku rela kabur dari rumah. Demi dia aku rela kehilangan apa yang aku dapatkan di rumah besar.
Apakah aku sudah gila, ya bisa jadi. Cinta memang gila bukan.
"Kenapa kau tersenyum senyum sendiri," tanya Emieer kala kami berjalan beriringan di lorong hotel menuju kamar kami.
Dan tiba tiba pikiran ku menangkap sesuatu hal. Biasanya seseorang jika sudah sah menjadi suami istri mereka akan melakukan ritual itu. Dan tiba tiba tubuh ku terasa panas jika sudah memikirkan hal itu.
"Emieer........apakah kita ke sini untuk?" aku menghentikan langkahku, berdiri kaku dengan melayangkan pandangan bertanya pada pria yang kini sudah menjadi suami ku ini. Dan menyebut dia suami saja juga sudah membuat ku sesak napas.
"Kamu pikir apa, kita akan menghabis malam pertama yang datang sekali seumur hidup di tempat kost?" Emieer bicara dengan lugas bahkan lantang, dan itu membuat ku malu.
Sampai sampai aku dengan spontan menutup mulutnya dengan tangan ku. Saking malu nya aku, karna beberapa orang tampak melewati kami.
Tapi Emieer justru malah menertawakan ku.
"Kamu berhutang penjelasan pada ku, Emieer."
"Penjelasan apa? aku orang yang jujur sayang."
"Menginap di sini mahal Emieer, dari pada menginap di sini menghabiskan uang, aku lebih suka tidur di tempat kost." Mendengar ucapan ku Emieer terkekeh dan malah merangkul ku gemas.
"Umur mu 19 tahun tapi, tapi cara pikir mu seperti wanita berumur 50 tahun." ucap Emieer mengejek ku, tak terima di bilang wanita berumur 50 tahun, satu cubitan keras ku layangkan ke perut nya.
"Kau suka sekali menyubit ku." protes nya, tapi aku tersenyum puas.
Tak lama kami pun sudah sampe di kamar yang menjadi tujuan kami ke sini. Berdiri di depan pintu kamar hotel bersama pria di samping ku ini. Membuat ku kembali gugup, keringat dingin kembali mengucur dari seluruh tubuh.
Apa yang akan kami lakukan di sini.
Di saat aku di landa kegugupan, tiba tiba tubuh ku melayang. Dan entah bagaimana kini diri ku sudah ada dalam gendongan Emieer.
"Emieer, lepas....malu di liat orang." ucap ku dengan ke dua tangan melingkar di leher nya.
"Tradisi sayang." ucap Emieer singkat, tanpa peduli penolakan yang ku ucapkan. Dan dia melangkah membawa ku memasuki kamar hotel.
Apakah malam pertama memang membuat gugup hampir semua wanita di dunia.
Aku pikir ia, Aku gugup,tegang dan takut
lanjut nanti bab first night part 2 😬😁 🙏 ♥️
__ADS_1
makasih sudah Sudi baca coretan ku .🥰🤗🙏
"