BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Debaran hati dan Detak jantung


__ADS_3

Tepat di sudut ruangan, di sebuah meja dengan dua tempat duduk. Sam atau Samieer dan juga Sava kini sudah berada di sana, duduk dengan saling berhadapan.


"Jadi langsung saja ya, ini struk bukti perbaikan motor ku. Aku hanya menuntut ganti rugi kerusakan motor ku saja. Itu tidak termasuk biaya aku berobat." Sam menyodorkan sebuah struktur pada Sava. Sava kemudian meraih struk yang Sam sodorkan untuk nya.


Begitu melihat jumplah nominal biaya perbaikan motor dalam struk yang ia baca, seketika membuat mata Sava membulat.


"10 juta?" pekik Sava.


"Kurang lebih segitu, jumplah uang yang harus kau bayarkan pada ku." ucap Sam.


"Apa kau tidak salah perincian, ku rasa motor mu bukan tergolong motor mahal. Kenapa biaya perbaikan nya semahal itu. Aku belum ada uang dengan jumlah sebanyak itu." kilah Sava. Nampak kecewa, karna menurut nya, jumlah itu terlalu berlebihan.


"Motor ku memang bukan motor mahal. Tetapi motor ku itu motor antik. Yang mahal itu onderdilnya." ucap Sam, menjelaskan.


"Walau itu antik, kurasa jumplah itu terlalu besar." jawab Sava masih ngotot.


"Jadi kamu tidak percaya, atau tidak mau bayar." tanya Sam.


"Aku bersedia membayar setengah nya saja." jawab Sava kemudian. Dan Sam pun terkekeh.


"Kau ini. Mana bisa begitu. Aku tidak mau tau, kau harus membayar nya." ucap Sam kekeh.


Sava kemudian menatap tajam kearah Samieer. Tetapi saat Sava memandang lekat ke wajah Samieer, Sava tidak menyadari, jika diri nya kini telah terjebak dalam sebuah pemandangan, yang membuat mata nya terlena.


Wajah tampan Samieer telah membuat hati dan jantung Sava mengalami desiran dan juga getaran aneh.


"Kenapa, aku tampan?" Samieer berucap, sambil melambaikan telapak tangannya ke wajah Sava. Dan Sava pun akhirnya tersadar dari lamunan nya.


"Baiklah, aku akan membayar semua kerugian itu. Aku sudah tidak ada lagi yang harus di bicarakan, aku undur diri." kemudian Sava berinsut dari kursinya.


"Apa kau bekerja di hotel sebrang itu?" tanya Sam, ketikan Sava hendak melangkah pergi.


"Iya, aku bekerja di sana, sebagai housekeeping." jawab Sava, Sesaat mereka hanya saling diam.


"Aku akan menghubungi mu kembali saat uang nya sudah siap." tutur lagi Sava. Kemudian ia melangkah kaki nya pergi meninggalkan ruangan kafe.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hari makin sore, dan mendung pun terlihat sangat gelap, suara gemuruh guntur di atas sana terdengar menggelegar.


Sava yang kini mempercepat langkah kaki nya agar cepat sampai di halte bus dengan tidak sengaja tersandung.


Sehingga dia terjengkap dan kemudian terjatuh. Ketika Sava bangkit, lutut nya yang putih mulus itu kini nampak bersemu merah. Luka lecet di satu sisi lututnya kini mengeluarkan darah.


Kemudian, dengan sedikit tertatih-tatih Sava mencari tempat duduk. Agar diri nya bisa lebih mudah mengecek luka yang kini ia rasakan perih di bagian lutut nya itu.


Akhirnya, di sebuah bangku kosong di tepi jalan, Sava mendudukkan dirinya di sana. Dan mengecek lututnya yang kini terluka.


"Bisa bisa nya aku terjatuh. Mana mau hujan, pasti aku terlambat lagi menjemput Zee." guman Sava.


Yang kemudian mencari cari sesuatu dari dalam tas nya untuk membantu luka nya.


"Kamu kenapa?" suara merdu tertangkap oleh panca pendengaran Sava.


Sava yang tadi nya membungkuk mengecek luka di lututnya kini menengok ke arah sumber suara.

__ADS_1


Dan disana Samieer yang masih duduk bertengger di motor menatap dirinya.


"Aku terjatuh. Lutut ku terluka." jawab Sava singkat.


Dan kini, Samieer tampak turun dari motornya, kemudian berjalan kearah Sava.


"Boleh ku priksa?" tanya Samieer ragu ragu.


"Hanya luka biasa, tidak apa apa," ucap Sava sambil meringis kesakitan.


"Itu bukan luka biasa saja." jawab Sam kemudian ia nampak mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


Tetapi, tiba tiba saja sebuah mobile mewah berhenti tepat di pinggir jalan. Mobil itu kini menepi, tak jauh dari Sava yang kini sedang duduk.


"Sava, kamu kenapa." ucap seseorang yang baru saja keluar dari dalam mobil dengan nada suara kawatir.


"Pak Matthew,"


Dan sedetik kemudian Metthew sudah berjongkok sambil memeriksa luka di lutut Sava.


"Ayo kita ke klinik terdekat." ucap Metthew seperti sangat kawatir. sampai sampai ia tak menyadari ada seseorang lain di deket nya.


"Gunakan ini dulu untuk menutupi luka mu." ucap Sam, memberikan sapu tangannya pada Sava.


Dan detik itu pula Metthew baru sadar, jika ada orang lain tadi yang bersama Sava.


"Kau kenal." tanya Metthew pada Sava.


"Dia orang yang aku tabrak kemarin. Dan kami janjian tadi untuk membahas ganti rugi yang aku harus tangung."


"Ganti rugi karena aku telah menabrak motor antik nya." jawab Sava.


Dah Metthew kemudian mentaap Samieer dan beralih melayangkan pandangan ke motor yang terparkir di belakang mobil nya itu


"Berapa ganti rugi nya." tanya Metthew pada Samieer.


"Aku sudah deal untuk membayar nya pak."


"Ia, berapa jumlahnya."


"10 juta." Jawab Sava lagi.


Metthew kemudian bergegas ke mobil nya. Lalu ia nampak membuka dasbor mobil dan mengambil sesuatu dari dalam sana.


Setelah itu, Metthew kembali pada Sava.


"Karena kau karyawan ku, aku akan membayarkan semua hutang mu pada nya." jelas Metthew.


Kemudian ia mengambil sebuah pena dari balik jas nya. Lalu nampak menuliskan sesuatu pada sebuah lembaran kertas.


"Ini uang mu aku bayar 20 juta. Jagan lagi kau meminta ganti rugi padanya, oke." ucap Metthew pada Samieer. Dan Samieer pun nampak bingung.


"Jangan berlagak sok jual mahal, aku membayar dua kali lipat ganti ruginya." tambah Metthew tak sabaran.


Samieer yang bigung kemudian meraih cek itu.

__ADS_1


"Jangan terima cek nya Sam, aku yang akan membayarnya dengan uang aku sendiri." ucap Sava kekeuh.


"Ya kau memang akan membayarnya dengan uang mu, aku akan memotong gaji mu." ucap Metthew tegas.


Dan Sava pun akhirnya tidak bisa berbuat apa apa.


"Kau bisa mencarikanmya. dan jangan lagi ngangu Sava."


"Aku tidak menggangu nya. Aku hanya ingin menolong nya" ucap Sam.


"Sekarang sudah ada ada aku, silahkan pergi." jawab Metthew menguasai keadaan.


"Aku tidak mau merepotkan kalian semua. Aku bisa sendiri." kilah Sava yang kemudian dengan tanpa aba aba, Sava langsung mencoba berdiri.


Tetapi saat ia hendak berdiri, lututnya yang terluka tadi menimbulkan rasa nyeri, sehingga Sava reflek limbung.


Dengan gerakan cepat Samieer menangkap tubuh Sava yang terhuyung itu.


Dengan gerakan cepat Samieer menangkap tubuh Sava.


Kini tubuh Sava sudah berada dalam dekapan Samieer. Untuk berpegangan, Sava pun memegang erat bahu Samieer. Saling tatap antara Samieer dan Sava pun tak terhindarkan.


Setiap kali Sava melihat iris mata warna cokelat itu, mengingatkan dirinya pada seseorang.


Wajahnya yang rupawan, senyum nya yang hangat, perlakuanya yang selalu manis, dan turur kata nya yang selalu lembut. Wajah Emieer kini memenuhi pikirannya. Tatapi Sava sadar, yang di hadapannya ini bukanlah Emieer nya, tetapi dia adalah Samieer.


Saat melihat Samieer, Sava selalu teringat Emieer.


Emieer, Samieer...... Emieer..... Samieer


Dan kini, desiran aneh, gelombang kegugupan, dan jantung yang berdetak kencang mulai menyerang Savanah. Keringat dingin mulai mengucur deras dari dalam diri nya.


Apa artinya itu. Apakah itu sebuah tanda jika hati nya sudah bisa menerima kehadiran seseorang yang lain.


Yang pasti, itu membuat Sava kalut.


Georgia Savanah Almeera



Emieer Sadiq



Edward Samieer



Metthew Wilson



Jangan lupa baca karya ke dua ku, tentang seorang CEO yang punya dua istri.


__ADS_1


__ADS_2