
Baru saja sampai ke rumah, Maryam langsung menyerobot bungkusan berisi mangga muda pesanannya. Ia lekas ke dapur dan memindahkannya ke wadah kecil berikut bumbu rujaknya juga. Langit dan Ainun sampai menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Maryam seperti orang kalap.
"Pelan makannya, Sayang. Tidak akan ada yang akan menghabiskan makananmu ko." Langit lalu terkekeh karena ekspresi istrinya. Hamil kemarin Maryam masih malu-malu mungkin karena hubungan mereka masih sebatas atasan dan bawahan.
Suaminya itu menyerahkan semua barang belanjaannya pada Bu Lela untuk dibereskan tak terkecuali banyak dus susu khusus ibu hamil rasa strawberry favorit istrinya.
Dengan cekatan Langit membuka satu, memidahkannya ke wadah berpenutup. Ia membuatkan satu gelas sedang untuk diminum siang ini.
"Ini susunya kamu harus minum ya." Maryam menghela nafas panjang selama hamil kemarin ia tidak terlalu suka minum susu hamil ada rasa beda dari susu biasa dan itu membuatnya muntah. Beli satu duspun tak pernah disentuhnya lagi.
"Tapi Mas, aku suka enek kalau minum susunya." Maryam takut-takut.
"Coba saja dulu, aku udah tanya-tanya ke espegenya. Katanya susu ini nggak bikin enek. Kamu coba dulu minum," Langit memang minta pendapat SPG di bagian susu ibu hamil di mall tadi.
Ragu-ragu Maryam meminumnya, ia menyesapnya pelan. Rasanya tidak enek seperti dulu. Ia meneguk hampir setengahnya dan menandaskannya langsung.
"Kalau enek itu bisa jadi dari hormon juga yang nolak, padahal susu ini sama dengab susu yang kamu minum dulu ko. Yang kamu buang di tempat sampah apartemen." Langit mengingatkan, ia melihat satu dus besar susu di tempat sampah teronggok begitu saja setelah dua bulan dibeli dan tidak dilanjutkan diminum lagi.
"Oh iya, aku kan habis nyobain segelas udah nggak dilanjut lagi. Dibiarin gitu saja dua bulan dalam lemari ya udah dibuang pastinya udah berjamur." Celotehnya seraya melanjutkan memakan mangga mudanya.
*
*
*
Setelah memastikan pintu tertutup rapat, Maryam naik ke atas tempat tidur. Suaminya sudah terlebih dahulu di sana. Siang ini rasanya tubuh Maryam lelah, ia ingin tidur siang sebentar.
Langit merentangkan tangannya dan membawa Maryam dalam pelukannya. Maryam menyandarkan kepalanya di lengan suaminya. Tangan Langit satunya lagi melingkar di pinggang Maryam dan memeluk Maryam.
"Tidurlah, Sayang. Aku akan menemanimu." Langit ingin memastikan Maryam agar bisa istirahat.
"Mas, makasih ya karena selama bersamaku kamu tidak pernah mengeluh sedikitpun. Kamu selalu ada, menyempatkan waktu untukku di sela-sela kesibukanmu. Aku tahu Mas, sebelum kita menikahpun perhatianmu begitu besar untukku. Kamu tulus menjagaku tak pernah meminta imbalan, aku beruntung memilikimu. Kamu belahan jiwaku, Mas." Maryam mengeratkan pelukannya. Tak terasa air mata kembali lolos dari kedua pelupuk matanya. Ia tak bisa menahan untuk tidak bisa menangis.
__ADS_1
Langit mengusap puncak kepala istrinya, senyumnya tersungging. Satu kata yang ada dalam pikiran Langit saat ini, bersyukur. Ia bersyukur memiliki Maryam, Maryam hadir dalam kehidupannya membawa cerita yang berbeda.
Cerita yang tak pernah Langit rasakan sebelumnya. Bagaimana mencintai tanpa balasan, kadang Langit dulu berpikir kalau Maryam tidak akan pernah jadi miliknya.
Tak lama terdengar dengkuran halus, diliriknya Maryam lewat ekor matanya. Rupanya Maryam sudah tertidur pulas di pelukannya, Langit tersenyum tipis, istrinya benar-benar selalu membuatnya mendapatkan cerita baru. Langitpun ikut memejamkan matanya, menyusul Maryam tidur siang bersama.
***
Pagi ini Langit sudah bersiap diri berangkat ke kantor, Maryam sudah membantu memakaikan dasi dan memastikan suaminya sudah rapi.
"Aku berangkat dulu ya, Sayang. Mungkin pulangnya agak telat, aku mau ninjau langsung ke pabrik ada bahan-bahan datang, sebentar saja ko nanti langsung pulang." Dikecupnya kening Maryam lalu Langit beralih pada bibir Maryam yang merekah menggoda tanpa tersentuh lipstik.
"Iya, Mas hati-hati ya. Kabari aku, nanti aku siang ke kantor nganterin surat resign aku sekalian pamit sama teman-teman," ucap Maryam.
"Nggak usah, biar aku bicara langsung ke bagian personalia. Nanti teman-temanmu suruh datang saja ke rumah biar kalian leluasa ngobrolnya," jelas Langit.
"Bener, Mas?" tanya Maryam dengan mata berbinar.
"Hoek, hoek." Pagi ini Maryam kembali mual-mual, perutnya lagi-lagi bergejolak. Ia menahan diri akibat parfum milik suaminya tercium membuat kepalanya mendadak pusing. Dengan sigap Langit kembali memijat tengkuk sang istri, setidaknya bisa membuat Maryam terasa lebih nyaman.
"Mas, sarapan saja duluan. Nanti aku nyusul nanti kamu telat berangkat lagi," ucap Maryam sambil melirik ke arah suaminya, wajah Maryam tampak memerah sekarang.
Langit merogoh ponsel di dalam saku celananya, ia memghubungi Willy.
"Wil, gue telat. Berangkat agak siang. Maryam mual-mual lagi." Hanya itu saja yang dikatakan Langit pada asisten kepercayaannya di kantor.
"Sayang, aku buatin dulu kamu teh herbal ya. Bisa ngurangin mual kamu." Maryam mengangguk lemas, suaminya memapah Maryam untuk duduk di sofa.
Langit menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, ia tidak mau istrinya menunggu terlalu lama.
"Bu Lela, dimana nyimpan teh herbal?" tanya Langit.
"Buat siapa, Nak?" tanya Ainun yang sedang menyiapkan sarapan.
__ADS_1
"Buat Maryam, Ma. Dia mual muntah lagi, Langit mau membuatkan teh herbal dulu."
"Kamu sarapan saja dulu, biar Maryam ada Mama yang urus. Bukannya kamu bilang tadi malam, pagi ini mau ketemu klien ya." Ainun mengingat Langit bercerita tadi malam.
"Iya, Ma. Tapi Willy sudah mengaturnya. Kasihan Maryam, dia keliatan pucat." Setelah selesai membuat teh, Langit lekas membawanya ke kamar.
"Minum ini pasti mualnya berkurang."
Maryam menyesapnya sedikit demi sedikit, rasa hangat dari teh menbuat lambungnya terasa sedikit nyaman.
"Mas berangkat gih, aku tidak mau Mas telat." Maryam jadi merasa bersalah, ia maah menyusahkan suami dan keluarganya.
"Aku akan berangkat setelah kamu sarapan," ucap Langit.
"Baiklah, aku akan sarapan di sini saja. Aku tidak mau membuat mama sama papa kehilangan selera makan akibat mual muntahku, Mas. Gak enak."
"Ya sudah, suruh bu Lela nganterin ke sini saja ya."
Maryam mengangguk, kali ini tubuhnya terasa lemas.
Sarapan yang di bawa Bu Lela untuk Maryam dan Langit segera Maryam habiskan. Tinggal suapan terakhir tapi perutnya lagi-lagi bergejolak. Sekuat hati Maryam menahan agar tidak keluar lagi.
Langit melihat Maryam tidak nyaman, ia segera menghabiskan roti sandwichnya.
"Kamu mau muntah lagi?" tanya Langit.
"Maryam menganguk pelan." Dan tak lama setelahnya Maryam kembali ke kamar mandi memuntahkan semua isi perutnya yang baru saja diisi sarapannya.
***
Bersambung...
Mana atuh like,
__ADS_1