BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Sombong VS Sombong


__ADS_3

Langit melirik sekilas pada Willy, menyiratkan pesan sebagai suami yang punya istri sedang hamil harus banyak-banyak bersabar demi terciptanya keamanan rumah tangga.


Melajulah motor membawa wanita hamil di belakangnya. Langit sangat hati-hati mengendarainya apalagi melewati polisi tidur yang lumayan agak tinggi dari biasanya.


Sampai di tempat kios terang bulan, Langit langsung memesan sesuai keinginan sang istri. Terang bulan rasa keju susu.


"Bang, terang bulan rasa keju susu ya." Pesan Langit. Si abang penjual membuat kode menunjukan jempol tangannya tanda oke pada Langit.


"Bang, tambah satu rasa kacangnya ya." Maryam menambah satu lagi pesanannya.


"Siap," jawabnya.


Maryam dan Langit menunggui pesanannya sambil melihat ke arah jalan raya. Sore hari jalanan sangat ramai oleh pengendara motor terlebih di hari minggu seperti sekarang ini. Banyak pasangan muda-mudi jalan-jalan hanya sekedar mencari makan atau jajanan.


Pesanan sudah selesai dibuat tapi saat tangan Langit akan mengambilnya malah direbut oleh pembeli lain.


Langit mendongakan kepalanya melihat siapa yang sudah mengambil pesanan miliknya itu.


"Kamu."


"Kak Gavin," ucap Langit dan Maryam bersamaan.


"Ini pesanan saya, saya sudah lebih dulu memesannya." Dengan gayanya yang sombong Gavin berkata dengan nada tidak senang.


"Itu pesanan saya. Kenapa anda malah mengambilnya dan kenapa juga dari sekian banyaknya penjual, anda malah ikut-ikutan membeli di tempat ini!" kesal Langit.


"Karena tempat ini salah satu tempat legendaris jadi wajar dong kalau saya membeli di sini." Gavin tidak kalah menjawab pernyataan Langit.


"Mas, Kak Gavin. Sudah tidak enak kalau ribut hanya karena terang bulan. Ya kalau memang Kak Gavin yang lebih dulu memesan silahkan Kak Gavin ambil, kami bisa memesannya lagi ko." Maryam seakan hilang muka karena jadi objek tatapan pembeli lain.

__ADS_1


"Maaf Mas yang ini tadi pesan tapi bukan rasa keju susu. Masnya tadi nggak bilang mau rasa apa langsung pergi gitu saja jadi saya belum buatkan," ucap penjualnya pada Gavin.


Gavin masih bergeming meski hatinya menahan malu. Dihadapan Langit mana bisa ia minta maaf.


"Ya sudah Bang, ini saya bayar saja sebagai permintaan maaf saya." Dirogohnya uang satu lembar warna merah dari dompetnya.


"Tidak usah, saya juga punya uang." Langit juga mengeluarkan uang satu lembar warna merah dari dompetnya dan sama-sama menyerahkannya pada penjual.


"Ayo Sayang, kita pulang. Lama-lama aku bisa emosi terus-terusan ketemu dia!" Langit menghela Maryam untuk segera naij ke motornya membawa pesanan terang bulan yang belinya.


Gavin berdecak kesal, ia juga ikut pergi dari tempat itu.


Si abang penjual hanya diam terpaku mendapatkan dua lembar uang warna merah yang ditinggalkan kedua pria tadi.


"Sombong vs sombong, untungnya dua-duanya ganteng. Karena debat jadi aku yang untung." Si abangnya hanya nyengir kuda mendapatkan keuntungan besar dari dua bungkus terang bulan yang dijualnya.


Langit memarkirkan motornya di belakang mobilnya, ia masih diam tapi tidak marah ataupun mengumpat pada istrinya.


"Mas, kita makan di sini saja ya. Aku lagi pengen di luar."


Hanya anggukan kepala yang diberikan Langit sebagai jawabannya. Sebelum kekesalannya mereda ia akan bersikap seperti itu.


"Mas, sini coba deh ini enak." Satu suapan besar terang bulan rasa keju susu dimasukan ke dalam mulut Langit.


"Enak."


Maryam tersenyum, akhirnya Langit mau bicara juga. Ia sudah was-was kalau-kalau suaminya marah dalam waktu lama.


"Mas, jangan marah sama Gavin. Dia orangnya memang seperti itu ko, lagian dia itu memang sifatnya hampir sama kayak kamu. Sama-sama tidak mau kalah," ucap Maryam menghangatkan suasana.

__ADS_1


"Jangan samakan aku sama dia!"


"Iya, maaf. Kita habiskan makanannya ya, sayang loh kalau bersisa. Lagian mama sama Aisya kurang suka." Kembali Maryam menyuapinya dengan semangat sebagai usaha memperbaiki mood suaminya.


***


Emosi Langit kembali tersulut, dua hari sejak kejadian itu Gavin datang ke rumahnya. Hampir saja amarahnya meledak, kalau bukan Maryam cepat-cepat memperingatkannya.


Gavin tersenyum smirk, sebagai seorang pria Langit memang pemberani. Ia akui Langit bisa ia andalkan menjaga Maryam.


"Maaf Pak Langit, kedatangan saya kemari untuk memberikan kabar kalau saya akan menikah. Ini kartu undangannya, Maryam aku harapkan kalau kamu bisa datang aku akan sangat senang tapi kalaupun tidak, aku mengerti karena kandunganmu ini." Diserahkannya satu buah undangan warna gold yang terkesan mewah.


"Kak Gavin nikah juga, loh tapi ko di London tempatnya." Dahi Maryam mengerut membaca ulang tempat resepsi pernikahan Gavin.


"Iya Maryam, sayangnya harus di London. Karena calon mertuaku sedang sakit keras, pernikahan harus tetap berjalan. Semua rencana awal harus gagal." Gavin tersenyum paksa.


"Jadi sukanya Kak Gavin itu sama rambut blonde, hehe. Tapi Kak Gavin bawa istrinya nanti kan ya ke Jakarta?"


"Pastilah, kan aku nerusin usaha papa juga. Maryam, Pak Langit saya pamit pulang dulu. Sudah malam, saya sengaja datang malam karena tidak mau terlalu lama bertamu karena kalau saya sudah bersama Maryam suka lupa waktu. Dan Maryam, aku tenang kamu mendapatkan suami yang berani dan tegas seperti Pak Langit. Sudah saatnya aku mengikhlaskanmu." Gavin mengulas senyumnya.


"Makasih Kak, selama ini sudah jadi sahabat baik buatku."


"Oke, Pak Langit." Gavin mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Langit. Dan Langit membalas uluran tangan Gavin.


***


Bersambung....


Komentarnya kakak...

__ADS_1


__ADS_2