BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Bonchap 6


__ADS_3

Tatapanku beralih pada wajah tampan yang membukan, sepertinya aku akan lebih cepat menggantikan pak Langit di hatiku.


"Bu, gerak cepat sebelum disalip Anet." Bisik Dwi menggoda.


"Aku sudah menggaetnya terlebih dulu. Jangan ada yang berani-berani!" Ancamku pada Dwi.


Ya ampun kenapa hatiku deg-degan seperti ini, pengganti pak Waryo benar-benar segar dan pemandangannya sungguh luar biasa aku sampai dibuatnya terpana.


"Pak Raffi, anda mau kopi atau teh? Saya akan membuatkannya," tanyaku pada atasan baruku itu. Padahal sama pak Waryo, aku tidak pernah sekalipun membuatkannya.


Pak Raffi menatapku penuh arti, biar saja aku dikatakan GR atau terlalu percaya diri. Toh memang kenyataannya seperti itu. Apakah ini efek dari diriku yang di make over?


"Boleh, Bu Agnes. Jangan terlalu manis ya," ucapnya padaku sambil tersenyum manis.


Tidak pakai gulapun bila minumnya sambil melihat pak Raffi juga pasti manis ko. Ya ampun kenapa aku jadi selebay ini.

__ADS_1


Dua cangkir kopi spesial aku bawa ke meja pak Raffi, padahal aku hanya modus saja membuatkan satu cangkir lagi. Biar aku diajakin ngobrol dulu, setidaknya bisa tahu nomor whatsaapnya.


Aku pura-pura membawa cangkir milikku untuk dibawa ke ruanganku, biar pak Raffi nahan untuk minum bersamanya. Kaya adegan-adegan di sinetron-sinetron. Otakku mulai terkontaminasi cerita sinetron di Tv.


"Bu Agnes, kita ngopi sama-sama saja. Sekalian saya mau menanyakan beberapa hal tentang pekerjaan pak Waryo. Bisa kan Bu?"


Jangankan masalah pekerjaan, masalah pribadi saja aku siap. Dalam hati aku berteriak. Menatap wajah pak Raffi itu sungguh memabukan bagai candu. Baru sehari rasanya sudah satu tahun. Betah.


Bulu matanya lentik, bibirnya tipis. Wajahnya putih bersih. Mirip pria metroseksual zaman sekarang. Tapi aku tidak harap pak Raffi punya kelainan.


"Bu Agnes sudah berapa lama bekerja di sini?" tanya pak Raffi.


Pak Raffi manggut-manggut. Aku terbilang karyawan senior di antara teman-temanku yang lain.


Lalu pak Raffi menunjukan berkas-berkas peninggalan pak Waryo. Memintaku menjelaskan ulang. Dengan keahlian bicaraku tentu saja pak Raffi akan paham lebih cepat.

__ADS_1


3 jam bersama di ruangannya terasa 30 menit, baru sebentar malah sudah jamnya makan siang.


"Bu Agnes biasa makan dimana?" Tiba-tiba pak Raffi bertanya padaku saat aku baru akan kembali ke ruanganku.


"Saya biasa makan di kantin, Pak." jawabku cepat.


"Kalau begitu kita barengan saja ke kantinnya, saya juga tidak terlalu hafal dengan bagian-bagian perusahaan ini."


Dengan semangat 45 aku langsung menyetujui ajakan pak Raffi.


Kami berdua layaknya pasangan baru. Banyak mata memandang kami. Lebih tepatnya mungkin siapa yang berjalan di sebelah pria tampan itu.


Aku tertawa jahat dalam hati, sekuat inikah efek make up. Meski Dwi sudah bilang wajahku pada dasarnya sudah cantik.


Sebagai partner kerja, lebih tepatnya atasanku. Aku sangat menjaga sikapku di hadapan pak Raffi. Aku tidak boleh terkesan pecicilan, karena aku memang tidak pernah begitu.

__ADS_1


Selama kami makan, pak Raffi sedikit banyak membahas pekerjaan. Kami yang akan sering pergi dinas luar, ketemu klien bahkan makan berdua. Seperti sekarang ini. Entah aku tertarik pada pandangan pertama karena ketampanannya atau karena rasa kagumku saja pada sosok muda yang menjadi kepala divisiku ini.


***


__ADS_2