BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Mengangap mu Adik


__ADS_3

"Ikutlah bersama bos mu, tidak mungkin kamu akan naik bus dengan luka seperti itu." ucap Samieer membujuk Sava agar mau di antar pulau oleh Metthew.


Dan perkataan Samieer seakan akan menjadi kalimat perintah untuk nya. Dan Sava seolah-olah tak bisa untuk menentangnya. Perasaan aneh itu muncul kembali terhadap pria yang menyuruhnya untuk mau di antar oleh Metthew.


Metthew sejak tadi merasa gemas dengan Sava. Karena wanita itu sangat keras kelapa, tidak mau di antar oleh nya pulang ke kost an. Padahal kini mendung di atas sana semakin gelap, dan angin kencang pun mulai meniup.


Melihat bagaimana interaksi antara Samieer dan juga Sava membuat Metthew berfikir lain. Metthew memperhatikan bagaimana cara pria itu menatap Sava dan begitu pula sebaliknya. Sava terlihat memandang pria tersebut dengan kerlingan mata yang tak biasa.


Setelah menunggu beberapa menit. Sava akhirnya mau di antar oleh Metthew. Samieer pun dengan refleks membantu Sava untuk masuk ke dalam mobil mewah Pria berumur 37 tahun itu. Dan Sava tak menolak bantuan Samieer. Tapi jika bersama Metthew, maka Sava akan banyak melakukan protes.


Metthew pun lega, karena karyawan nya yang keras kepala itu akhirnya mau di antara pulang oleh nya.


Kini Sava duduk di bangku penumpang di bagian depan di sisi Metthew. Belum lama Metthew melajukan mobilnya, hujan turun dengan sangat lebat dan deras.


Hujan deras yang mengguyur sore kala itu benar benar membuat jarak pandang terganggu. Sehingga Metthew yang sedang menyetir pun terlihat nampak harus lebih fokus memperhatikan jalanan.


Di sela sela Metthew sedang fokus menyetir, ia kemudian melirik ke arah samping. Dimana Sava hanya diam saja.


"Bicaralah sesuatu Sava, jangan diam saja." ucap Metthew menepis kebisuan di dalam mobil kala itu.


"Aku sedang memikirkan anak ku pak. Aku tidak bisa menghubungi bik Inah, pengasuh putraku. Aku tidak bisa mengabari jika aku akan telat menjemput Zee. Ponsel ku kehabisan baterai" uangkap Sava cemas.


"Kau boleh pinjam ponsel ku, nikah kau mau." Metthew menawarkan meminjamkan ponselnya.


"Tidak usah Pak, terimakasih." tolak Sava halus.


"Itulah yang membuat aku kagum pada mu Sava. Tidak semua wanita seusia mu bisa bertindak dewasa seperti yang diri mu lalukan." puji Metthew.


"Hidup mengajar kita banyak hal. Jika kita peka, maka kita harus belajar dari apa yang kita alami dan kita rasakan." balas Sava.


"Dan hal itu lah yang membuat aku suka dengan mu," ungkap Metthew. Uangkapan Metthew kemudian membuat Sava kini menoleh ke arah bos nya tersebut.


"Jangan salah paham dulu. Maksud ku, aku suka dengan mu karena kamu orang yang sangat hebat." Metthew berucap sambil sesekali memperhatikan jalan.


"Walau sejujurnya aku menang sempat naksir dengan mu. Tapi sepertinya aku tidak ada harapan, bahkan aku sama sekali tidak punya kesempatan. Dan sepertinya kau juga tidak mau menerima ku." ucap Metthew kemudian ia terkekeh sendiri.


"Maaf Pak, saya belum memikirkan itu. Dan saya belum bisa membuka hati untuk orang lain." Sava menjawab diplomatis.


"Benarkah? Aku tidak yakin." bantah Metthew.


"Maksud Bapak apa?" tanya Sava bigung.


"Lelaki tadi yang membantu mu masuk mobil, seperti nya kau menyukai nya. Kau tak keberatan saat dia memapah mu. Jangan jangan,"


"Nama nya Samieer, dia seseorang yang ku tabrak tempo hari. Dia hanya membantu ku tadi." jelas Sava dengan nada ketus. Sava seperti tak suka jika perasaan pribadinya di korek.


"Samieer. Bahkan kau sudah tau namanya." ucap Metthew yang nampak senang sekali menggoda Sava.


"Aku bertemu dengannya karena untuk membahas ganti rugi. Oya, soal cek yang Pak Metthew berikan pada nya tadi nanti aku akan ganti." ucap Sava tegas.


"Tolong jangan kaku pada ku Sava, uang segitu tidak ada artinya bagi ku. Kau sudah mengembalikan uang 300 juta yang aku berikan pada mu kemarin, dan aku maklum itu. Jika yang tadi, uang 20 juta itu angao saja aku membantu mu karena kau karyawan ku. Biar kan aku membantumu kali ini. Aku bener benar akan memecat mu jika kau menolak aku bantu." ancam Metthew. Dan itu membuat Sava tegang, karena ia saat ini tidak mau kehilangan pekerjaan. Metthew yang melihat perubahan wajah Sava yang tegang kemudian berucap lagi dengan nada suara lembut.


"Jagan salah paham pada ku Sava. Dengarkan aku, mulai sekarang, aku tidak akan menganggu mu. Tapi izin kan aku untuk membantu mu. Aku ingin mengangap mu Adik ku. Jadi, mulai sekarang sikap baik ku dan segala hal yang aku lakukan pada mu itu angap saja itu sebagai tindakan seorang kakak pada adik nya. Jangan takut lagi pada ku. Dan jangan salah mengartikan perhatian ku pada mu. Karena mulai sekarang aku telah menganggap mu sebagai adik ku." jelas Metthew penuh ketegasan.


"Maaf pak, jika sudah buat bapak tersinggung. Tapi saya tidak pantas menerima ke baikan itu."

__ADS_1


"Dan. Jangan pangil aku bapak/pak. Pangil aku Metthew saja, atau kakak juga boleh." ungkap Metthew.


"Tapi,"


"Tidak baik menolak kebaikan seseorang Sava." imbuh Metthew serius.


"Jadi, Pak Metthew mengangap saya adik sekarang?" ucap Sava lagi menegaskan.


"Jika kau Sudi menerima aku sebagai kakak mu. Aku sudah tidak punya siapa siapa lagi Sava, aku anak yatim-piatu. Aku juga tidak punya Saoudara." ucap Metthew lagi.


"Sama seperti diri ku. Aku sendiri di dunia ini. Aku hanya punya Zee dalam hidup ku."


"Kau masih beruntung ada Zee, Putra mu. Sedangkan aku." Metthew terkekeh sendiri, seakan menertawakan hidupnya yang sepi.


"Mau kan, kau ku angkat jadi adik ku. Aku sudah tidak naksir pada mu lagi, walau awal nya aku memang naksir, tapi ku rasa kau tak menyukai pria dewasa dan tua seperti ku" Metthew kembali terkekeh, dan Sava pun kini berani membalas tawa Metthew dengan senyuman.


"Kau lelaki sempurna. Kau punya segalanya, jabatan, harta, kedudukan, fisik, semuanya. Jangan merasa tak berharga." imbuh Sava.


"Ya kamu benar. Tapi nyatanya aku tetap seorang pria kesepian. Jadi, bagaimana? Kamu mau kan, menjadi adik angkat ku" ucap Metthew lagi penuh harap.


Sava nampak berfikir.


"Baik lah, semoga kau tak menyesal sudah mengakat ku menjadi adik." jawab Sava.


"Aku tidak akan menyesali nya. Tapi aku justru bahagia, karna mulai sekarang aku punya saoudara." jawab Metthew senang.


Kemudian Metthew menepikan mobilnya, berhenti sejenak di tepi jalan.


"Deal," ucap Metthew memberikan jari jari kelingkingnya pada Sava. Dengan sedikit ragu, akhirnya Sava pun menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Metthew.


🍁🍁🍁🍁🍁


Ke esoknya hari nya, Sava izin tidak masuk bekerja. Karena kondisi lututnya yang terluka kemarin tidak mungkinkan ia bisa bekerja di hari itu.


Dan Metthew bukan hanya mengizinkan Sava tidak masuk bekerja, tapi Metthew juga menyuruh Resty temen akrab Sava di tempat kerja untuk pergi ke kost an Sava. Dengan alasan untuk membantu Sava beraktivitas di kost an.


"Pak bos benar benar memperhatikan mu Sava," ucap Resty yang saat itu sudah berada di ruangan kamar kost Sava. Sedangkan Sava sendiri saat itu sedang rebahan miring di tempat tidur memberikan Zee ASI langsung dari sumbernya.


"Aku dan Pak Metthew sudah sepakat menjadi kakak adik." Sava berucap memberi tau pada Resty tentang kesepakatan koyol nya bersama sang Bos Metthew.


"Apa, kau di angkat jadi adik oleh Pak Bos." ucap Resty nampak kaget.


"Ia, jadi jika dia perhatian dengan ku, itu hanya perhatian seperti layaknya kakak pada adiknya."


"Jika benar kau di angkat menjadi adik oleh nya, kau beruntung sekali Sava."


"Aku juga tidak tau. Kenapa dia mengangkat ku sebagai adik?"


"Pasti besok besok kamu akan naik pangkat."


"Aku akan tetap menjadi housekeeping."


"Ku rasa dia tidak akan lagi memperkerjakan kamu sebagai seorang tukang bersih-bersih."


"Aku tidak mau terlalu besar kepala karena mendapat perlakuan berbeda dari dia Res. Aku tidak ingin ada isu yang tidak-tidak tetang aku dengan nya."

__ADS_1


"Kamu ini beruntung Sava, tapi kamu juga keras kepala. Jika aku jadi kamu, aku sudah menerima lamaran nya waktu itu."


"Sutttttt, pelan pelan. Putera ku baru saja memejamkan mata." tukas Sava yang kini nampak dengan gerakan pelan berinsut dari tempat tidur dan membenarkan beberapa kancing baju yang ia buka setelah memberikan baby Zee ASI.


Resty nampak kagum, saat sedang memperhatikan Sava yang mengurusi baby Zee dengan sangat telaten.


"Aku kagum pada mu Sava, kau masih muda tapi sepertinya kau sudah sangat lihai sekali merawat bayi. Kau terlihat sangat terampil." ucap Resty memuji kepiawaian Sava dalam mengurus baby Zee.


"Itu namanya insting, dan naluriah seorang ibu Res. Kelak jika kau punya anak, kau juga akan punya insting itu." ucap Sava, yang kini berjalan kearah Resty yang dari tadi duduk di kursi kecil di sudut ruangan.


"Apa ini." tanya Sava pada Resty mengecek goodybag yang Resty bawa untuk nya.


"Itu titipan dari pak Metthew untuk mu. Kata nya itu makanan dan buah buahan untuk mu. Aku hanya menjalankan tugas." kilah Resty.


"Ada dua kotak lunch box, ini satu untuk mu dan satu lagi untuk ku." ucap Sava kemudian mengeluarkan kotak lunch box dari dalam goodybag, kemudian memberikan satu kotak makanan untuk temen deketnya itu.


"Itu untuk mu saja. Yang satu buat makan malam." kilah Resty.


"Mana bisa begitu. Ini ayo kita makan bersama. Sudah jangan banyak ptotes!" seru Sava.


Akhirnya mereka berdua pun kini menikmati makan siang bersama.


"Jangan lupa berucap terima kasih untuk kakak angkat mu itu." ledek Resty. Dan membuat kedua mya tertawa.


"Kau masih memajang foto Emieer?" tanya Resty di sela sela mereka sedang menikmati makan siang. Sava lalu mengikuti arah pandangan Resty yang mengarah pada foto Emieer yang terpajang di atas nakas.


"Aku tidak bisa dalam sehari tidak memandang nya. Dia masih bertahta di hati ku. Selalu dan selamanya." ucap Sava.


"Emieer memang pria baik. Dulu banyak sekali yang naksir dengan nya."


"Oya, aku tidak tau itu." jawab Sava nampak tertarik ingin tau sikap Emieer dulu terhadap orang orang yang menaksir nya.


"Apa Emieer tak cerita.?"


"Dia bukan tipe pria pengosip" jawab Sava sambil tersenyum.


"Aku juga tidak terlalu mengorek kehidupan dia sebelum aku datang di kehidupannya. Sempat ada satu perempuan yang dulu tingal di sebelah kost ini. Itu saja sudah buat aku cemburu, karena wanita itu berani melakukan pangilan video call pada Emieer kala itu."


"Oya, terus kau apakan dia." tanya Resty penasaran.


"Aku tipe istri posesif. Aku berhasil membuat dia angkat kaki dari kost an sebelah selang beberapa hari aku dan Emieer tingal bersama di sini." ucap Sava bangga.


"Tapi sayangnya, Emieer meninggalkan ku terlalu cepat." ucap Sava yang kini mendadak melow. Kemudian Resty menepuk tangan Sava yang ada di atas meja, memberikan Sava semangat dan dukungan.


"Ikhlas kan Sava, semua itu sudah menjadi takdir Emieer dan juga takdir mu. Kau wanita kuat, hebat mandiri. Aku yakin kelak kau akan mendapatkan penganti Emieer."


"Aku sedang tidak ingin memikirkan itu" bantah Sava.


Dan tak lama, ponsel nya terdengar ada bunyi notifikasi pesan masuk. Begitu Sava mengecek siapa pengiriman pesan itu, seketika hati Sava berdetak sangat kencang. Hati nya bertalu-talu dan perasaan hangat tiba tiba melingkupi hati nya. Dengan sedikit gugup ia membuka pesan chat itu.


*Hai Sava, bagaimana keadaan mu? Apa lutut mu sudah baikan?*


Begitu lah isi chat tersebut.


Kira kira siapa yang kirim pesan chat itu ?

__ADS_1


__ADS_2