BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Kembali ke rumah besar 2


__ADS_3

"Jadi kau ingin resign" ucap Metthew pada Sava. Sava ketika itu sedang berada di ruang kerja Metthew.


"Iya, Pak," jawab Sava mantap.


"Kakak. Kan kita sudah sepakat, jika kau mau aku angkat sebagai adik." ujar Metthew mengingatkan Sava.


"Aku kira itu bercanda," jawab Sava, kemudian Metthew tertawa.


"Kau ini ada ada saja. Aku serius Sava, aku benar benar mengangkat mu menjadi adik ku. Bahkan aku sudah mengurus proposal untuk memberikan mu saham 5 persen dari total saham yang aku punya."


"Apa, saham?" ucap Sava bingung.


"Ia, saham. Aku sudah memindahkan 5 persen saham ku untuk mu," tutur Metthew, kemudian Metthew berjalan ke arah nakas di ruang kerjanya dan mengambil sebuah map.


"Kali ini aku tidak menerima penolakan. Jika kau tidak mau saham 5 persen dari ku, berikan saja saham itu untuk putra mu. Anggap saja itu uang jaminan pendidikan untuk putra mu." ucap Metthew, kemudian Sava membuka map tersebut. Dan mata Sava pun membulat kaget, karena benar, Metthew sudah menandatangani proposal pengalihan saham 5 persen untuk dirinya.


"Kau tidak perlu lakukan ini Metthew." tutur sava.


"Aku sudah bilang, aku tidak menerima penolakan." ujar Metthew.


"Aku tidak punya orang tua Sava. Aku juga tidak punya saoudara, istri ku pun meningal, aku juga tidak punya anak. Aku merasa Deket dengan mu, karena aku tidak mungkin memiliki mu, bisa kan kita tetap terhubung sebagai kakak beradik walau hanya tiri." dan tanpa Metthew duga, kini Sava sudah beranjak dari kursinya dan memeluk Metthew.


"Terima kasih banyak, kau bisa menganggap ku adik mu. Kita bersaudara mulai sekarang." tutur Sava, kemudian ia mengudarkan pelukannya dan menatap Metthew yang mempunyai postur badan tinggi besar itu.


"Terimakasih Savanah. My little sister." keduanya pun kini terkekeh.

__ADS_1


"Jadi, setelah ini kau akan kemana?"


"Aku akan kembali pada keluarga ku. Mereka mencari ku dan menyuruh ku kembali ke rumah besar."


"Jadi kau ini sebenarnya bukan orang yang miskin kan?" tanya Metthew, dan Sava pun tersenyum.


"Aku putri angkat Hasan Malik."


"Hasan Malik, pengusaha showroom dan onderdil mobil mobil mewah Hasan Malik Copr?" tanya Metthew.


"Ya,"


"Wah, aku tak menyangka. Kau ternyata bagian dari keluarga kaya raya itu."


"Aku hanya anak angkat, tapi mereka adalah keluarga ku."


🍁🍁🍁🍁🍁


"Sama sama Sava, aku senang bisa membantu mu Nak. Aku pasti akan sangat merindukan Zee nanti." tutur Bik Inah, yang kini mata nya sudah menganak sungai. Melihat wajah sedih wanita paruh baya itu membuat Sava kembali ikut bersedih. Sava kemudian memeluk lagi Bik Inah.


"Sesekali aku janji, akan bawa Zee kesini untuk mengunjungi mu Bik," ucap Sava.


"Semoga kau selalu bahagia bersama putramu Sava. Kau wanita muda yang hebat. Kau pantas mendapatkan kebahagiaan dan kebaikan dari keluarga mu kembali."


"Iya Bik. Oya, ini ada sedikit uang lebih dari ku. Terimalah Bik," ucap Sava sambil menyerahkan brungkusan uang dalan sebuah amplop pada Bik Inah.

__ADS_1


"Ini terlalu banyak Sava." ucap Bik Inah merasa tidak enak.


"Itu tidak sebanding dengan semua kebaikan yang Bik Inah sudah lakukan untuk ku." tutur Sava, yang saat ini masih memakai seragam housekeeping nya sambil menggendong baby Zee.


"Aku juga sudah mengundurkan diri dari pekerjaan ku Bik. Aku akan kembali meneruskan kuliah ku. Zee akan di rawat oleh pegasus di rumah besar jika aku sedang ada kegiatan kuliah nanti."


"Kau pantas mendapatkan kebahagiaan Sava, setelah semua yang kau lalui," ucap Bik Inah, kemudian mereka pun kembali berbepelukan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Berada di kamarnya kost nya setelah menidurkan baby Zee. Sava merasakan gunda pada hati nya. Bagaimana tidak, esok hari ia sudah akan meninggalkan kamar kost. Tempat yang selama ini di anggapnya rumah, tempat penuh dengan kehangatan dan kenangan bersama Emieer. Tempat di mana dia dan Emieer kala itu menjalani kehidupan rumah tangga walau singkat.


Tempat di mana ia dan seseorang yang sangat ia cintai memadu kasih. Tempat dimana ia dan belahan jiwa nya saling bercerita tentang masa depan bersama. Walaupun pada akhirnya, Emieer hanya bisa menemani Sava kurang tak kurang dari satu tahun setelah mereka menikah.


Akan tetapi kehadiran sang putera seperti sebuah oase di tengah tengah hamparan guruh yang gersang di hati Sava. Hanya dengan menyentuh dan memandang sang putra, rasa rindu itu seakan terobati dan cintanya pada Emieer seakan tidak pernah memudar.


"Emieer, aku akan kembali ke rumah besar. Dan aku akan meninggalkan tempat ini. Tapi percayalah sayang, hati dan cinta ku untukmu tidak pernah teralihkan. Aku masih memiliki rasa cinta yang sama besarnya terhadap mu, walaupun kau sudah tiada." ucap Sava kemudian ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kamar kost.


"Dan tempat ini, tempat kost ini, akan selalu aku rawat, dan akan selalu aku jaga. Walaupun aku tidak lagi tingal di sini, aku akan tetap menyewa tempat ini untuk tidak di tempati oleh orang lain. Dan jika aku merindukan mu, aku akan kemari" tutur Sava, seperti biasa bermonolog di depan foto Emieer.


"Aku merindukan mu, selalu. Dan aku juga mencintaimu, selamanya." kemudian Sava mencium figura yang di dalam nya ada foto Emieer tersebut.


Sava mendekap erat erat foto itu ke pelukannya, membawa nya sambil tiduran. Dengan air mata yang mengalir penuh kerinduan, Savanah mencoba untuk memejamkan mata nya. Mengistirahatkan tubuhnya untuk menyambut pagi esok hari.


__ADS_1



__ADS_2