BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Masih Banyak Waktu


__ADS_3

Sekitar pukul 16.00 Maryam dan Langit sudah bersiap diri menghadiri pengajian sebelum acara akad nikah Anindya dan Willy besok. Keduanya memakai pakaian serba putih, tak lupa Maryam menyematkan kerudung putihnya juga. Seluruh keluarga tampak kompak dengan seragamnya hari ini. Tidak ada siraman, Anin tidak ingin melakukannya, ia akan ingat kalau ayahandalah yang akan melakukan adat itu untuk acara siraman nanti dilanjut ibu dan keluarga. Itu hanya akan membuat hati Anin teriris lagi.


Semua tamu sudah hadir untuk mengaji bersama, dihadiri para tetangga komplek dan juga keluarga dekat saja agar lebih terasa khidmat. Sebagai wakil yang menggantikan Harsa, Adam bertindak membuka acara selanjutnya diserahkan pada ustadz yang hadir untuk memberikan siraman rohani dan memimpin jalannya pengajian.


Suasana haru sangat terasa, ketika ibu dan anak itu mengaji terdengar beberapa kali suaranya bergetar. Amira menangis dalam diam, besok anaknya akan menikah dan itu artinya tanggung jawabnya sebagai orang tua akan beralih pada suami anaknya nanti.


Acara pengajian berakhir sekitar pukul 17.30, sebagai cenderamata tuan rumah memberikan hadiah berupa mukenah dan juga perlengkapan shalat.


Aisya duduk di sebelah Langit dan Maryam, sementara suaminya sudah berangkat ke Madinah sendiri. Segalanya sudah Zayn perhitungkan termasuk keadaan Aisya nanti selama di sana, kasihan kalau Aisya tidak ada yang merawat sementara dirinya sibuk di kampus. Keadaannya hampir sama dengan Maryam, hamil muda menyebabkannya mual muntah dan rewel.


"Kak, Kak Langit pernah cemburu nggak sih sama Kakak?" tanya Aisya.


"Cemburu?" Maryam melirik suaminya terlebih dahulu. "Pernah, malah kemarin Kakakmu ini cemburuan banget gara-gara Kakak ketemu teman lama Kakak. Tingkahnya mendadak pendiam," ungkap Maryam.


"Wah masa sih, Kak Langit yang dingin sedingin gunung es ini bisa cemburu juga. Aisya kira Kak Langit tidak punya hati Kak." Aisya terkekeh.


Merasa namanya disebut-sebut, Langit menatap tidak suka. Bibirnya sudah mengerucut terlebih dahulu.


"Aku tidak cemburu, kenapa aku harus cemburu dengan pria angkuh seperti dia." Tanpa Langit sadari dirinya membahas kembali pertemuan mereka dengan Gavinendra.


"Tuh kan, Kakakmu cemburu." Maryam kembali menggoda Langit. "Mas, cemburu itu tanda sayang Mas sama aku. Aku jadi tahu kalau Mas itu sangat menyayangiku, tandanya aku itu berharga dan Mas tidak mau kehilanganku."


Langit tersenyum tipis mendengar ucapan istrinanya barusan. Memang ia sangat cemburu saking sayang dan tidak mau kehilangan wanita yang sudah meluluhkan hatinya itu.


***


Pesta pernikahan Anindya dan Willy terbilang sangat mewah. Sebagai bagian dari keluarga Herlambang sudah sepantasnya pernikahan diadakan sesuai dengan nama besar Herlambang. Segala sesuatu untuk pernikahan dibantu Ainun dan Fatimah juga keluarga yang lain. Amira merasa sangat senang, dirinya tidak merasa sendiri lagi.


Anindya terlihat sangat cantik dalam balutan kebaya tradisional. Siger melekat dihijabnya, make upnya sangat sesuai dengan karakter Anin yang lembut namun berani.


Ketika Willy mengucapkan kalimat Ijab Qabul, tampak wajah Amira sangat sendu. Air matanya berkali-kali lolos, pada akhirnya waktu inilah anaknya dipersunting imamnya. Yang akan membawa Anindya mengarungi bahtera rumah tangga di kehidupan barunya.


Adam bertindak sebagai wali yang menikahkan keponakannya sendiri.


"Mas, Anin dan Willy setelah nikah nanti gimana ya? Aku penasaran deh," ucap Maryam. Ia juga ikut terharu menyaksikan sahabat kentalnya akhirnya menikah juga.


"Kita lihat saja nanti apa Willy bisa menjadi imam untuk wanita pujaannya."


Aisyah terus-terusan mencomot makanan manis sedari Ijab belum selesai. Hawanya ingin terus memakan-makanan manis.


Sorak sorai terdengar riuh mendengar Willy mengucapkan kalimat Ijab Wabul dengan lugas. Hatinya lega, ia melirik pada wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.


Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Tamu yang hadir di dominasi karyawan Medika, semua tumpah ruah ikut berpesta. Setelah Ijab Qabul dilanjut resepsi sampai dengan selesai.


"Ya Allah, Anin. Kamu tega ninggalin kita, Maryam dapat Bossnya. Kamu dapat asistennya, lah aku dapat siapa kalau kalian ambil hiks." Agnes termehek-mehek menghadapi kenyataan yang membuatnya galau sekaligus senang.


"Sabar, Bu Agnes. Ada pak Sam, anda berminat?" Goda Langit menjahili asisten kepala divisi pruduk.


"Pak Sam? Wah siapa Pak? Karyawan baru Medika?" tanya Agnes berbinar.


"Iya, beliau akan menggantikan posisi Willy." Langit menjawab dengan santainya, sementara Willy terkesiap mendengar posisinya digantikan orang lain.


"Anda jangan bercanda, Pak?" tanya Willy pada Langit.


"Siapa yang bercanda, toh memang kenyataannya seperti itu. Kalau nanti lo bulan madu maka posisi lo digantikan sementara sama pak Sam," ucap Langit menjelaskan.


Willy kembali bernafas lega, bisa-bisanya Langit mengerjainya.


"Mas, gak baik usilin mas Willy terus." Bisik Maryam.


"Nggak apa-apa itung-itung bikin sport jantung bagus untuk kesehatannya."


"Bu Boss, kalau lahiran jangan lupa kasih tahu. Nanti lahirannya mau dimana? Di Rumah Sakit kan pasti disiarkan secara live di tv yah," ucap Dwi sekenanya.


"Disiarkan? Nggalah, emangnya aku artis pake disiarkan secara live saja. Pokoknya kalau aku lahiran aku maunya suami aku yang nemenin, aku tidak mau kita jauh-jauhan. Bikinnya berdua masa pas brojolnya cuma sendirian." Maryam tergelak diikuti teman-temannya yang lain.


Kalau sudah menyangkut keromantisan antara Langit dan Maryam, mereka angkat tangan. Memang keduanya sama-sama terlihat romantis di depan semua orang.


*


*


*


*

__ADS_1


*


Anindya terlihat begitu sangat lelah, dari pagi sampai acara selesai ia begitu sangat sibuk menyambut para tamu yang hadir.


"Pak, mm saya mau mandi dulu. Boleh?" Anindya malu-malu mendapati Willy berada dalam satu kamar dengannya, mereka langsung pulang ke rumah tidak ada acara menginap khusus di hotel seperti kebanyakan pengantin lain.


"Ooh, bo-boleh. Silahkan, setelah kamu saya akan mandi juga." Willy terbata-bata menghadapi situasi yang baru baginya. Berada dalam satu ruangan membuat tubuhnya berkeringat, gerah dan serba salah. Tangannya membuka-buka kolom pencarian di internet untuk mencari 'cara menghadapi malam pertama'.


Berharap Anindya mandinya lama sehingga ia bisa mempelajarinya dulu. Hatinya berharap-harap cemas, saking cemasnya ia jadi tidak fokus baca.


"Sial." Willy mengumpat, sungguh jantungnya berdebar kencang.


"Masa iya gue harus hubungi Langit buat ajarin malam pertama." Keluhannya semakin menjadi-jadi.


Suara pintu kamar mandi terbuka, tampak Anin keluar dengan memakai pakaian tidur model kimono. Rambutnya dibalut handuk setelah keramas. Mata Willy tidak berhenti memandang wanita di hadapannya. Bila selama ini wanita itu akan selalu memakai penutup kepala dan pakaian panjang kali ini tampilannya berbeda.


Pakaian tidur yang dikenakannya sepanjang betis. Anindya terlihat santai walaupun ia juga merasakan gugup yang luar biasa di atas Willy.


"Sudah selesai?" tanya Willy.


"Sudah, Pak. Silahkan giliran Bapak," jawab Anin.


"Nin, jangan panggil Bapak. Panggil yang lain saja ya, gak enak sudah nikah tapi masih panggil Pak." Pinta Willy.


"Eh, iya. Apa ya, mm nanti kita bicarakan setelah mandi."


Willy mengagguk, ia bangkit dari tempatnya menuju kamar mandi.


Giliran Anin yang menunggu dengan harap-harap cemas, ia semakin gugup tak kala membaca chat grup divisinya sedang membicarakan malam pengantinnya.


10 menit Willy baru selesai membersihkan tubuhnya, kaos santai dan celana selutut jadi pilihannya. Keluar kamar mandi, Willy mendapati Anin sedang duduk menungguinya.


"Mas, aku panggil Mas saja ya. Biar terkesan akrab dan enak didengar."


Willy mengangguk setuju. Ia mengambil duduk disebelah Anin. Mereka saling terdiam cukup lama, tidak tahu harus bicara apa lagi. Dada Willy semakin bergemuruh, sudah bukan rahasia lagi kalau malam pengantin akan diisi dengan malam pertama sebagai pasangan suami istri identik dengan hubungan yang akan dilakukan untuk pertama kalinya bagi pasangan yang baru menikah.


"Nin," ucap Willy. Mendadak tenggorokannya terasa tercekat.


"Iya, Mas."


"Iya, Mas. Aku tidak apa-apa ko. Masih banyak waktu untuk kita." Anin bernafas lega, ia punya pikiran yang sama dengan suaminya. Tidak salah ia memilih Willy untuk dijadikan suami, pria itu tidak tergesa-gesa dan menuntut banyak.


"Kamu sudah lelah?"


Anin mengagguk, malah matanya sudah sangat ingin dipejamkan.


"Kalau begitu ayo kita tidur, besok kita masih harus terima tamu. Pasti banyak saudara kita yang masih berdatangan."


Anindya terlebih dahulu melepaskan handuk yang melilit rambutnya. Menyisirnya dengan jari-jemarinya saja. Kalau pakai sisir dikhawatirkan akan membuat rambut rontok.


Willy membaringkan tubuhnya terlebih dahulu, tak lama Anin menyusul ikut merebahkan dirinya di sebelah Willy. Mereka tidak ada yang berbicara lagi, hari ini mereka benar-benar lelah dan hanya melewatkan malam ini dengan istirahat.


***


"Mas, hari ini kamu tidak kemana-mana kan?" tanya Maryam. Hari ini hari minggu dan kantor libur.


"Kemana? Kamu mau kita kemana?" Kalau istrinya bertanya disaat hari libur itu jadi kode buat Langit.


"Aku ingin jalan-jalan ke mall, aku ingin beli makanan untuk Arsy."


"Arsy?"


"Iya, tiba-tiba aku keinget dia. Dia ponakan aku juga Mas, kita belikan baju dan makanan nanti kita antar ke rumahnya. Gimana?"


"Ya, boleh. Kalau begitu aku mandi dulu ya, eh tapi bayarannya apa?"


Dahi Maryam mengerut.


"Bayaran?"


"Iya, aku kan nganterin kamu. Kamu mau ngasih bayaran apa?"


Maryam tahu maksud ucapan suaminya apa.


"Nanti aku kasih lagi gaya yang semalam, kamu suka kan?" Maryam mengedipkan matanya menggoda.


"Dasar nakal, ya sudah aku mandi dulu."

__ADS_1


Maryam menunggui suaminya di lantai bawah, di ruang santai bersama Aisya dan Ainun. Rupanya mereka tidak jalan berdua, Maryam mengajak serta adik ipar dan mama mertuanya juga. Biar suasananya tidak membosankan jalan berdua terus.


Dengan langkah percaya diri, Langit langsung mengajak istrinya pergi. Tapi ia melirik pada adik dan mamanya yang sudah siap akan pergi juga.


"Loh kamu dan mama mau kemana?" tanya Langit pada adiknya.


"Lah, kan mau ikut Kak Langit sama Kak Maryam ke mall." Seringai licik dari bibir Aisya tercetak jelas.


Bukan masalah kalau Aisya merampok isi kartunya nanti. Tapi kenapa acara jalan berdua dengan istrinya harus terganggu.


"Mama mau ikut juga?"


"Ikutlah, masa Mama sendiri di rumah. Lagian papa kamu lagi main golf sama suaminya tante kamu. Jadi Mama pikir ikut kalian saja."


Langit tersenyum paksa, tidak apalah sekali-kali mengasuh para wanita penting dalam hidupnya dan membahagiakan mereka.


Mesin mulai dinyalakan, perlahan mobil Langit sudah bergerak dari carsport keluar gerbang rumah besarnya. Tak sengaja mata Maryam melihat ada Diana sedang menyirami bunga di halaman rumahnya, tak lupa pula Diana tersenyum pada Langit. Maryam bisa melihat itu dengan jelas.


"Mas, itu mantan kamu senyum-senyum genit gitu sih." Bibir Maryam mulai nengerucut tak pelak mengundang tawa Aisya dan Ainun.


"Loh Kakak tahu kalau tante Diana itu mantannya Kak Langit?" tanya Aisya penasaran karena wajah Maryam mendadak ditekuk.


"Baru tahu malah," jawabnya kesal. "Eh, tapi ko manggil tante kenapa?" sambungnya.


"Soalnya Kak, make upnya itu kalau menurut Aisya terlalu menor. Kaya mau syuting aja, segalanya serba tebel." Aisya heboh.


"Lah masa sih,"


"Iya, makanya lihat dari deket. Kalau di rumah sih iya pakainya yang minimalis tapi kalau kerja wah ada ibu pejabat mau berangkat." Aisya terkekeh mengingat zaman pacaran kakaknya dengan Diana dulu.


"Dek, jangan gitu. Kamu lagi hamil loh," ucap Ainun mengingatkan.


"Eh iya, Ma. Astagfirullah, Aisya nggak ngatain ko." Ralatnya.


"Nggak ngatain tapi ngejelekin iya, kamu mau anaknya nanti kaya Diana pakai make up tebel." Langit terus saja memanasi adiknya padahal ia sedang menyindir istrinya secara tidak langsung.


"Iih amit-amit jabang bayi, Kak. Janganlah."


Diam-diam Maryam juga beristigfar lalu tangannya mengetuk-ngetuk dashboard mobil.


Usaha Langit berhasil dengan begitu istrinya tidak akan berani berkata-kata yang tidak-tidak lagi.


Hembusan udara dingin dari AC di pintu masuk menerpa wajah terasa sangat sejuk.


Aisya dan Ainun berjalan bersama. Sedangkan Maryam dan Langit berjalan di belakangnya.


Butik jadi pilihan para wanita itu, ketiganya tampak asyik memilih-milih. Langit hanya menungguinya di sofa sembari membuka-buka ponselnya.


Sesekali Maryam menghampirinya, memperlihatkan pakaian yang dipilihnya. Tak lupa Maryam juga memilihkan pakaian untuk suaminya.


"Mbak, ada kaos kapel?" tanya Maryam. Rasanya hari ini ia ingin memakai pakaian yang sama dengan suaminya. Kaos couple dinilai bagus di siang hari seperti sekarang ini.


"Ada Kak, silahkan." Pegawai butik memperlihatkan deretan koas yang berjajar rapi sesuai warnanya.


Tangan Maryam tertarik pada satu kaos warna putih bergambar beruang dan ada tulisan 'Papa'. Bukan hanya satu melainkan dua, satu lagi bertuliskan 'Mama'


"Iih ini lucu banget deh," ucapnya riang.


"Mas, sini." Panggil Maryam melambaikan tangan pada suami ya.


"Iya, kenapa Sayang?"


Maryam mengangkat kedua kaos memperlihatkannya pada Langit.


"Jangan bilang kamu suruh aku buat pakai baju itu?"


"Sayangnya iya, kamu pakai ya." Maryam memelas.


"Astagfirulloh." Langit mengusap wajahnya gusar.


***


Bersambung...


Haiiiii.. aku up banyak hari ini. Tinggalkan jejaknya ya... Makasih.


Kira-kira Papa Langit mau nggak ya pakai kaos kapelan?

__ADS_1


__ADS_2