
Langit mengusap keringat di dahi Maryam usai istrinya mengeluarkan kembali isi perutnya. Sejujurnya Langit tidak tega melihat Maryam harus mual muntah di pagi hari membuatnya terlihat tersiksa.
"Mas, berangkat saja aku sudah tidak kenapa-napa ko." Maryam kembali duduk, ia hanya minta tengkuknya di olesi minyak aromateraphy untuk menghilangkan gejala mual-mualnya.
"Aku akan menemanimu dulu setelah itu kita berangkat." Langit juga mulai gerah, ia membuka jasnya dan mengaitkannya.
"Kamu sudah minum obat pereda mual dari dokter Prisa kan? Apa efektif?"
Maryam menggeleng lemas, kepalanya di sandarkan di sofa.
"Ya sudah kalau gitu kamu istirahat saja, pasti badannya lemes. Kalau nggak baikan nanti kita ke Rumah Sakit saja aku takut kamu kenapa-napa." Langit mengusap pipinya lembut. Perjuangan wanita hamil memang berat.
"Mas." Maryam menarik tangan Langit dan menggenggamnya erat.
"Kamu kenapa baik banget sih, mau jagaian aku. Kamu rela kesiangan masuk kantor. Kamu perhatian banget sama aku." Akhir-akhir ini perasaan Maryam gampang tersentuh dan melankolis.
"Sayang, kamu begini karena aku. Aku yang membuatmu begini, masa iya aku tinggalin kamu di saat-saat seperti ini. Kamu itu tanggung jawabku. Aku nggak tega, kalau bisa aku nggak masuk kantor saja hari ini buat nemenin kamu," jelas Langit.
"Nggak, kamu masuk kerja. Aku sudah nggak apa-apa. Cuma agak lemes badannya. Ada mama ada bu Lela, bu Marni. Semuanya jagain aku. Kamu jangan khawatir." Maryam lalu bangkit. Ia mengambil jas suaminya dan memberikannya pada Langit.
"Berangkatlah Mas, biar aku tidak merasa bersalah. Aku janji bakalan ngasih tahu kamu kalau ada apa-apa," ucap Maryam meyakinkan.
"Janji?"
"Janji, Sayang." Bibir mereka saling menyatu, saling mencecap satu sama lain. Langit segera menghentikannya sebelum adiknya bangun dan minta dituntaskan. Itu lebih bahaya karena kondisi istrinya yang lemah.
***
"Pak, ini berkas yang harus anda tanda tangani." Gia menyimpan setumpuk berkas di meja kerja Langit. Willy hanya menyunggingkan bibirnya melihat Langit membelalakan matanya.
__ADS_1
"Nggak salah, Gia?"
"Nggak, Pak. Ini memang semuanya. Saya permisi ya, Pak." Gia membalikan tubuhnya. Ia melangkahkan kakinya berlalu meninggalkan ruangan bosnya.
"Gia." Panggil Langit saat tubuh Gia baru setengahnya melewati pintu.
"Iya, Pak. Ada lagi?" tanya Gia membalikan lagi tubuhnya.
"Kamu pakai parfum satu botol ya? Kenapa wanginya menguar banget." Langit mendengus.
Gia mendengus-denguskan hidungnya ke pakaian yang dikenakannya dan juga ke ruangan Langit.
"Nggak, Pak. Nggak satu botol cuma sedikit." Gia merasa bersalah.
Apa iya kecium banget sampai segitunya ya.
"Bapak kenapa? Apa indera penciumannya sedang bermasalah. Biasanya juga dia pakai parfum sewajarnya," timpal Willy.
"Mungkin ketularan bu Maryam kali, ada juga kan istrinya yang hamil suaminya yang bermasalah," tukas Willy.
Langit berpikir sejenak, ia membaca di artikel kalau ada suaminya yang mengalami gejala seperti itu. Tapi masa iya, padahal dirinya tadi pagi masih baik-baik saja. Tidak ada masalah bahkan ia memakai parfumnya sendiri.
Tak lama ponsel Langit berbunyi. Ada panggilan masuk dari Maryam.
"Iya, Sayang. Apa ada sesuatu?" tanya Langit takut-takut istrinya kenapa-napa.
"Mm, nggak ko. Aku cuma mau bilang akan ke makamnya ibu dan ayah. Sekalian mengabari kalau aku hamil. Boleh kan, Mas?" ijin Maryam.
Langit mendesah pelan, ia tidak mau Maryam pergi tidak ditemani dirinya.
__ADS_1
"Sayang, gimana kalau besok. Besok aku akan libur satu hari. Willy pasti tidak keberatan. Nanti pagi-pagi kita mengunjungi kedua orang tuamu," ucap Langit, sementara Willy menatap tajam Langit.
"Oh begitu, tapi kamu gak masalah kan kalau libur. Apa pekerjaannya tidak menumpuk?"
"Tidak, kalaupun menumpuk untuk apa aku punya asisten. Oh ya, aku sudah mengabari teman-temanmu sayangnya mereka tidak bisa hari ini. Mereka lembur, kepala divisi mereka memberikan banyak pekerjaan."
Terdengar desahan nafas di ujung telepon. Dipastikan kalau Maryam sedang kecewa.
"Sayang." Panggil Langit.
"Iya, Mas. Tidak apa-apa ko. Lain kali saja, ya sudah aku tutup ya."
"Bukannya Bapak besok harus meeting dengan pak Burhanudin?" Willy mengingatkan agenda besok.
"Iya, lalu?" tanya Langit polos.
"Saya dengar anda besok mau libur, apa saya tidak salah dengar?"
"Benar, besok gue libur satu hari. Masalah pak Burhanudin kan ada lo."
Willy menelan salivanya. Apalah daya ia tidak bisa mencegah Langit. Bisa-bisa ia di depak oleh bosnya itu.
Langit tersenyum tipis, dalam hatinya ia minta maaf pada Willy karena sering merepotkannya.
Maafkan, Will.
***
Bersambung...
__ADS_1
Dikit dulu ya readersku sayang...