
flashback on
Seusai persalinan yang teramat sangat menguras tenaga. Tubuh Sava kini terkulai lemas seperti baju yang di tanggalkan pemilik nya.
Sava yang masih berusaha mengatur napasnya merasakan kelegaan yang begitu membuncah. Diri nya bersyukur sudah berhasil melahirkan bayi nya dengan selamat dan dengan cara normal.
Ketika sang dokter meletakkan bayi yang baru saja ia lahir kan ke dada nya. Tangis Sava pun kemudian pecah.
Ada rasa haru yang membuat nya begitu tajub dengan sosok mungil yang gini bergerak gerak mengemaskan di atas dadanya itu.
"Ya Tuhan, anak ku. Putera ku," bisik Sava. Kemudian ia dengan kedua tangan nya membelai belai sang putera dengan lembut dan sesekali menciumi bayi nya yang masih berlumuran sisa sisa plasenta dan darah itu. Sedangkan sang dokter masih sibuk menjahit beberapa jahitan di **** ********** Sava.
Beberapa saat kemudian, sang dokter mengambil sang bayi untuk di bersihkan. Dan setelah itu Sava yang di bantu seorang perawat menganti baju yang Sava kenakan. Setelah itu memindahkan Sava ke ruang pemulihan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Di sebuah rumah sakit yang sama. Sebuah ambulans nampak berhenti tepat di sebuah lobby rumah sakit. Dengan sigap beberapa petugas medis langsung membawa Emieer yang kala itu nampak terluka sangat parah di bagian kepala nya langsung menuju IGD.
"Napas nya masih ada dokter," ucap salah seorang perawat.
"Cepat pasang alat bantu pernapasan," perintah sang dokter.
"Cek tenakan darah dan denyut nadi dan tekanan jantung nya," ucap dokter itu menambahkan. Sedangkan sang dokter sendiri kini sedang mempersiapkan alat kejut untuk Emieer.
Salah seorang perawat kini membuka pakaian Emieer dan salah seorang lagi dengan cepat mempersiapkan alat bantu pernapasan dan alat alat medis lain nya untuk di pasangkan ke tubuh Emieer.
Setelah melalui serangkaian tindakan pertama penyelamatan. Kini Emieer terbujur dengan banyak alat bantu yang menghiasi tubuh nya. Bunyian alat bantu di ruangan itu seakan menandakan, jika nyawa Emieer sekarang berada di ujung tanduk.
"Hubungi pihak keluarganya. Kita hanya bisa berdoa semoga pasean masih bisa bertahan."
"Pihak kepolisian yang menangani kasus kecelakaan ini, kini sedang berkomunikasi dengan pihak keluarga dokter," ucap salah seorang perawat.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Sedangkan di lain ruangan.
Sava yang kini sudah berganti baju bersih, nampak memejankan mata nya. Perjuangan melahirkan sang putera beberapa jam lalu benar benar menguras tenaga nya. Bukan hanya menguras tenaga tapi juga menguras seluruh emosional nya. Sampai sampai dia sudah tidak ingat bagaimana dan di mana Emieer kini berada.
Sava dengan begitu lelap meringkuk tidur di ruang pemulihan.
Tak lama kemudian, seorang perawat datang sambil mendorong sebuah troli yang di dalam nya ada seorang bayi. Dengan pelan sang perawan membangunkan Sava.
"Bu, putera nya sudah di bersihkan. Dan bisa di berikan ASI pertama nya." ucap sang perawat. Kemudian Sava pun membuka matanya perlahan dan bangkit dengan pelan. Setelah kesadaran nya sepenuh pulih, Sava lalu bersandar pada sebuah bantal.
"Bisa tolong berikan bayi ku ke pangkuan saya," ucap Sava minta tolong. Kemudian sang perawat meletakkan bayi mungil itu ke pangkuan Sava.
"Bagaimana cara nya menyusui?" tanya Sava pada perawat itu. Sang perawan nampak tersenyum.
"Apakah ini anak pertama,? tanya sang perawat, Sava pun tersenyum menanggapi.
"Begini caranya menyusui bayi mu dengan benar," ucap sang perawat pada Sava sambil memberikan contoh yang meletakkan bayi itu ke buah dada Sava. Kemudian dengan naluriah mulut sang bayi tersebut menyesap ASI yang Sava condong kan buah dada nya pada sang putera tercinta nya.
"Siapa nama bayi mu?" tanya perawat itu. Kemudian perhatian Sava pun teralih pada pertanyaan sang perawat. Dan ia kini baru sadar jika sejak tadi Emieer belum juga datang.
"Baikan kalau begitu, kalau suami mu sudah datang, suruh dia segera ke ruang administrasi, banyak dokumen yang harus dia tanda tangani," ucap perawat itu ramah. Sepeninggal sang perawat itu pergi, Sava kini jadi berfikir dalam.
"Emieer, kamu sebenarnya di mana? Kenapa kau belum juga sampai. Kamu sudah melewatkan menemani ku bersalin, kau tega sekali membuat aku berjuang sendiri melahirkan anak mu. Aku benar benar kesal pada mu Emieer," gerutu Sava berguman lirih. Sesaat kemudian perhatian nya teralihkan pada bayi nya yang kini sedang menikmati ASI untuk pertama kali nya. Walau awal nya Sava merasa risih, dan sedikit merasa geli. Tetapi saat sang bayi itu menyesap dengan kuat ASI nya, seolah membuat Sava melupakan semua rasa risih itu.
"Ya Tuhan, kamu manis sekali sayang. Jika tau kamu semanis ini, dari dulu mama akan sangat antusias. Maaf kan mama jika awal awal kamu hadir, mama kurang antusias menyambut mu." ucap Sava pada bayi nya. Ikatan batin Sava dan sang bayi pun kini semakin hangat terjalin. Sambil terus mengagumi wajah sang putera yang ternyata sangat mirip sekali dengan Emieer sang suami.
🍁🍁🍁🍁🍁
Tepat jelang sore hari. Paman Faizal dan Bibik Fatimah akhirnya sampe di rumah sakit tempat Emieer kini menjalani perawatan intensif.
Begitu melihat keadaan sang keponakan terbujur lemah dengan berbagai alat bantu menempel di tubuh Emieer, membuat sang Paman limbung.
"Emieer,......." pangil sang Paman dengan nada suara tercekat.
__ADS_1
"Apa yang terjadi nak. Kenapa bisa seperti ini?"
ucap Faizal dari balik pintu kaca. Karena rungan harus steril, tak ada yang di izin kan masuk untuk bisa melihat Emieer dari dekat. Kecuali para petugas medis dan Dokter.
"Sabar lah Faizal, aku yakin Emieer bisa melalui masa kritisnya." ucap Fatimah menenangkan sang suami.
"Di mana Sava, bagaimana dengan anak itu.
"Dia ada di rumah sakit ini juga, seseorang menginformasikan jika Sava sudah melahirkan siang tadi.
🍁🍁🍁🍁🍁
Ketika Sava sedang asik menikmati kebersamaan dengan bayi nya, sebuah ketukan dari pintu membuat perhatian nya terbagi.
"Paman Faizal, bibik Fatimah," sapa Sava sedikit kaget karena melihat paman dan bibik Emieer berada di hadapannya. Tanpa bisa di tahan lagi, Fatimah langsung memeluk dan mendekap Sava. Pelukan yang erat Fatimah berikan untuk Sava, disertai buliran air mata yang terus menetes membasahi pipi Fatimah.
"Selamat atas kelahiran anak pertama mu Sava," ucap Fatimah yang kemudian ikut membelai lembut kepada sang bayi.
"Terimakasih Bibik," balas Sava.
"Siapa nama bayi mu?" tanya Fatimah kemudian.
"Aku masih menunggu Emieer datang Bik, kami ada dua pilihan nama yang sudah kami siapkan. Biar Emieer yang memilik." jawab Sava. Sedangkan Faizal yang dari tadi hanya diam berdiri di tempat nya, kemudian mendekati Sava.
"Selamat ya nak untuk kelahiran putera pertama kalian."
"Terimakasih Paman," jawab Sava sambil tersenyum. Awalnya Faizal nampak ragu, apakah ia akan memberitahukan kedaan Emieer yang saat ini sedang kritis atau tidak. Tapi cepat atau lambat Sava harus tau kedaaan suami nya.
"Sava, Paman harap kamu yang tabah yaa." ucap Faizal akhirnya.
"Ada apa paman?" tanya Sava bingung.
"Suami mu, Emieer saat ini sedang berada di rumah sakit ini juga. Dia mengalami kecelakaan. Dan kondisi nya sekarang kritis. Dia ada di ruang IGD, dengan pemantau intensif dokter."
__ADS_1
Deg.......
Mendengar itu sekitar pertahanan Sava runtuh.