
Mobil Langit terlebih dahulu terparkir di carport kediamannya, diikuti mobil Willy yang membawa Anin beserta orang tua mereka.
Langit turun diikuti Maryam, mempersilahkan Hamidah dan Amira memasuki rumahnya. Kebetulan malam ini Adam dan Ainun berada di rumah.
Amira merasakan was-was luar biasa, ia harus mempersiapkan mentalnya saat bertemu dengan Adam nanti.
Bu Lela sudah membuka pintu utama, dipersilahkannya semua masuk. Tidak ada yang bersuara, hening. Hanya suara denting jam dinding besar di ruangan itu.
"Bu Lela, tolong panggilkan papa dan mama." Perintah Langit.
"Baik Den." Bu Lela melirik pada wanita paruh baya berkerudung lebar yang terus tertunduk. Ia sangat mengenali siapa wanita itu. Wanita yang pernah diusir neneknya Langit di rumah besar.
Bu Lela cepat-cepat memanggil majikannya untuk turun. Memberitahukan mereka kalau Langit membawa tamu penting.
Suara langkah terdengar mulai mendekat, jantung Amira semakin berdebar cepat. Kakinya mendadak lemas. Inginnya ia lari dari sana, seperti kejadian dulu.
__ADS_1
"Pak Adam." Sapa Hamidah, menyalami Adam dan memeluk Ainun.
"Bu Hamidah, kapan datang?" tanya Ainun.
"Tadi pagi, mendadak ini juga." Hamidah tersenyum.
Tatapan Adam beralih pada Anin dan Amira.
"Amira." Suara Adam tercekat, begitupun dengan Ainun tidak mengira bisa bertemu lagi dengan istri dari adik sepupunya. Semua keluarga Herlambang mengenal siapa Amira.
Wanita malang yang harus mendapat ketidakadilan dari Saudah, nyonya besar keluarga Herlambang. Sang penentang karena Amira berasal dari keluarga miskin tidak pantas bersanding dengan cucunya. Amira harus menahan kepahitan seorang diri dengan membawa janin dalam kandungannya.
"Amira, duduklah." Ainun menghela Amira duduk bersebelahan dengannya tidak pernah melepaskan tangannya sedikitpun.
"Mira, Harsa sampai meninggal karena sakit. Dia tidak menemukanmu dimana-mana. Ibu sampai menyesal karena telah memisahkan kalian. Setelah Harsa meninggal, ibu seperti kehilangan hidupnya. Penyesalan sangat terlihat sekali di wajah ibu." Cerita Adam.
__ADS_1
Dulu Amira harus berpindah-pindah tempat dari kota ke kota demi menghindari kejaran Harsa dan keluarga Harsa. Amira tidak mau lagi terganggu sedikitpun. Sampai Amira kembali ke kampung halamannya di Bogor ketika usia Anin menginjak 5 tahun.
"Maafkan kami karena dulu kami tidak punya kekuatan apa-apa sehingga tidak bisa membantu kalian. Kamu tahu ibu akan melakukan apapun demi tujuannya tercapai."
Amira mengangguk paham. Ia tidak menyalahkan siapapun atas kesalahan Saudah.
"Ibu meninggalkan rumah untuk Harsa, jadi rumah itu otomatis jadi milik kalian. Rumah di utara rumah ini, aku akan mengurusnya untuk kalian. Tinggalah berdekatan dengan kami agar keluarga kita bersama kembali. Maukan Amira?" tanya Adam.
Amira hanya diam berpikir lama.
"Saya tergantung anak saya saja, saya tidak mau mengambil keputusan tanpa membicarakannya terlebih dahulu."
Adam mengangguk paham, ditatapnya Anindya. Wajah Anindya dominan lebih mirip Harsa. Dan anggunnya sangat mirip Amira.
"Pak Adam, saya ingin melihat dimana ayah saya dimakamkan." Akhirnya Anin bersuara, ia memilih melepaskan rasa sakit yang selama ini dirasanya. Semua rasa sakitnya berganti dengan kelegaan yang harus diterimanya.
__ADS_1
***
Bersambung...