BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Terhanyut Dalam Kesedihan


__ADS_3

"Maryam, perkenalkan namaku Kanaya. Aku istrinya Langit sekarang." Kanaya mengulurkan tangannya pada Maryam saat mereka bertemu di sebuah tempat yang penuh dengan bunga-bunga.


Maryam hanya diam bergeming menatap Kanaya. Wanita yang dulu pernah merebut suami pertamanya.


Tak lama Langit muncul dari belakang Kanaya lalu ia memeluk wanita itu di depan Maryam.


"Mas, kamu tega." Isak Maryam hampir berteriak.


"Maaaasssss." Teriak Maryam.


Keringatnya bercucuran, dilihatnya Langit juga terbangun karena teriakan istrinya.


Dada Maryam naik turun dengan nafas memburu.


"Kamu kenapa? Minum dulu?" Langit menyodorkan segelas air pada istrinya.


"Mas, aku takut." Maryam memeluk Langit dan menangis sesenggukkan.


Tangan sebelah Langit memegang gelas dan satunya lagi membalas pelukan istrinya.


"Kamu kenapa? Kamu mimpi buruk?" tanya Langit penasaran.


"Aku mimpi Kanaya, Mas. Dia memperkenalkan dirinya sebagai istri kamu," ujar Maryam pelan.


Langit tergelak.


"Mimpi macam apa itu? Mimpi bodoh, meskipun dalam mimpi tidak akan ada orang yang akan merebut aku dari kamu. Aku pastikan itu!" Tegas Langit menenangkan kegundahan hati istrinya. Langit tahu Maryam masih menyimpan trauma mendalam akan masa lalunya.


Dikecupnya kening Maryam, ibu jarinya mengusap air mata yang menetes dari pelupuk mata indah istrinya.


"Minumlah dulu lalu kita tidur lagi, masih jam 1 malam."


Maryam mengangguk, diraihnya gelas dari tangan suaminya. Diteguknya sedikit, lalu ia baringkan lagi dirinya melanjutkan istirahatnya yang terganggu.

__ADS_1


Mungkin kamu butuh liburan, aku akan membawamu liburan nanti.


***


Mobil Willy sudah terparkir di lobby apartemen, menjemput Anin dan Amira untuk berziarah ke makam Harsa. Mereka berangkat pukul 08.00 pagi, karena jalan menuju bukit cukup menanjak dan sedikit licin. Kalau sore dikhawatirkan turun hujan dan menyulitkan akses jalannya.


Bukan tanpa alasan, pemilihan makam keluarga di bukit ujung kota tak lain karena di sana terdapat rumah tua bekas tempat Harsa dikurung dulu dan di belakang rumah ada hamparan lahan luas yang kemudian dijadikan tempat pemakaman keluarga.


Tangan Anin meremas tangan Amira dengan kuat, telapak tangannya sudah mendingin sedari berangkat tadi. Meskipun Harsa dan Saudah sudah lama tiada, tidak menjadikan ketakutan Anin mereda. Apalagi sosok Saudah didalam benaknya seperti sosok nenek yang kejam dan tak berperasaan.


Amira membalas meremas tangan Anin, tatapan matanya menghangat memberikan ketenangan agar puterinya jangan khawatir.


"Semuanya akan baik-baik saja, ayo kita keluar. Keluargamu yang lain sudah menunggumu di sana." Tunjuk Amira dengan dagunya ke arah keluarga Herlambang yang sudah lebih dulu tiba.


Anin dan Amira turun bersamaan. Sedangkan Hamidah dan Willy turun setelahnya. Mereka berdua mengikuti Anin dan Amira dari belakang.


Rasanya lulut Anin mendadak melemas, membaca gapura masuk ke pemakaman bertuliskan 'Pemakaman Khusus Keluarga Herlambang'.


Hati Anin seolah diremas-remas, sakit.


"Amira, Anin kemarilah." Ajak Adam melambaikan tangan pada keduanya.


Tampak keluarga Herlambang yang lain Fatimah beserta anak-anaknya dan keluarga Adam sendiri.


"Itu makam Harsa, Anin itu makam ayahmu. Bersebelahan dengan makam kakek nenekmu. Sedangkan makam nenek Saudah berada di depannya bersama makam kakek." Jelas Adam menunjukan satu persatu keluarga mereka yang sudah tiada.


Amira tak kuasa membendung air matanya, apalagi Anin. Ia bersimpuh tidak peduli pakaiannya akan kotor terkena tanah basah. Terlebih dulu Anin mengusap nisan bertuliskan nama Harsa.


"Ayah, sudah lama Anin ingin bertemu dengan ayah tapi bukan dengan cara seperti ini." Isak Anin, tangisnya pecah. Tubuhnya bergetar meremas bunga-bunga yang berjatuhan.


"Nak, ayahmu sudah tenang di sana. Ikhlaskan ya dan maafkan." Amira menarik Anin mendekap tubuhnya hingga mereka saling berpelukan.


"Mbak Amira, Anin." Suara lembut memanggil keduanya, menyadarkan dari kesedihan yang tiada berujung.

__ADS_1


"Fatimah," ucap Amira tercekat. Adik dari suaminya, Harsa.


"Mbak." Fatimah memeluk Amira, menangis bersama dan terhanyut dalam kesedihan yang sama juga.


"Kami mencari Mbak kemana-mana setelah wafatnya mas Harsa. Tapi tak kunjung kamu temukan. Alhamdullilah kita dapat bertemu kembali, jangan pergi lagi Mbak. Ini amanah mas Harsa, mas Harsa ingin keluarga berkumpul bersama." Ungkap Fatimah.


"In Sha Allah, Fatimah. In Sha Allah," ucap Amira.


Maryam turut berderai air mata menyaksikan Anin dapat berkumpul kembali dengan keluarganya, ia juga senang karena Anin bisa menjadi bagian dari keluarganya.


"Jangan bersedih, kalau emosimu naik turun nanti ngaruh pada anak kita ini." Usap Langit pada perut istrinya.


"Aku sedih sekaligus bahagia, Anin jadi keluarga kita."


*


*


*


*


*


Keluarga Herlambang berkumpul penuh suka cita di kediaman Adam. Sekalian hari ini akan dilakukan permintaan Willy untuk meminang Anin. Willy sudah membicarakannya terlebih dahulu dengan Langit, ia akan melamar langsung pujaan hatinya dalam waktu dekat ini. Tidak ada acara ta'aruf terlebih dahulu seperti yang sudah ia rencanakan di awal.


"Iya, saya bersedia menikah dengan Bapak." Anin menerima lamaran Willy di depan keluarga besarnya.


***


Bersambung...


Ayo-ayo tinggalkan jejaknya... Makasih

__ADS_1


__ADS_2