
"Rujak cingurnya enak?" tanya Zayn sambil menatap heran karena melihat Aisya yang makan dengan rakus, seperti sudah seminggu tidak makan, Aisya hanya mengangguk. Ia menyanderkan punggungnya pada
sandaran kursi. Aisya menarik nafas lega setelah kenyang menyantap
makananya.
Yang menjadi pertanyaan Zayn, saat mereka berdua baru bangun tidur tadi. Ia menawari istrinya makan tapi istrinya menolak masih kenyang. Lah terus sekarang rujak cingur satu porsi sudah hampir tandah pindah ke dalam perutnya.
"Sayang, kamu ini lapar atau? Makanmu rakus sekali." Zayn tertawa geli. Benar juga kata bu Wanda, kita akan menemukan sesuatu yang unik dari pasangan kita dan itu membuat kita ta npa sadar menyukainya.
“Ih Kakak meledekku? Aku lapar karena bahagia jadi bawaanya lapar terus," jawab Aisya.
"Hubungannya bahagia dengan lapar?"
"Ya ada, banyak hubungannya. Aku kan tadi pagi gak nafsu makan karena Kakak beneran biarin aku nginep di sini tapi sekarang aku lapar karena bahagia Kakak mau nginep bareng di sini. Kita nggak jadi jauhan."
Zayn terpaksa mengangguk. Jawaban istrinya belum dapat ia terima di otaknya dari pada ribut mendingan Zayn pura-pura mengerti.
"Kak." Aisya menyipitkan mata, ia menatap lekat ke wajah Zayn. Sementara Zayn yang merasa ditatap hanya gugup. Belum pernah ia merasakan debaran jantung secepat itu kala ditatap lawan jenisnya. Seorang Zayn Malik kalah, kali ini ia kalah. Kalau biasanya lawan jenis yang akan kalah bila beradu pandang dengannya tapi sekarang malah sebaliknya.
“Kenapa menatapku seperti itu? Aku memang tampan, Aisya?" Salah satu upaya Zayn mengalihkan tatapan Aisya padanya.
Mendadak mendapatkan pertanyaan seperti itu, Aisya mendadak bersemu merah. Kedua kalinya ia tertangkap basah, suaminya mendapati dirinya sedang asyik menatap wajah tampannya.
***
"Apa masih perih?" Langit memindai keadaan bagian tubuh istrinya yang lecet akibat terserempet mobil orang yang tidak dikenalnya.
Langit belum menemukan siapa orangnya, ia sangsi jika Maryam hanya kecelakaan biasa. Pasalnya menurut sepengetahuan security komplek mobil hitam milik orang asing yang masuk ke wilayahnya tidak berplat nomor polisi. Security tidak melihat yang mengemudikannya apakah pria atau wanita.
__ADS_1
"Masih perih, Mas. Kalau ditekuk kulitnya kaya ketarik gitu," ucap Maryam mengoleskan gel agar lukanya tidak kasar dan menimbulkan sakit.
"Itu gel apa? Salep?"
"Bukan, ini gel untuk kulit kering. Katanya aman digunakan untuk lecet juga biar tetap terhidrasi dan cepat sembuhnya." Langit membaca keterangan di kemasannya. Ia mengerutkan dahinya membaca gel itu untuk bagian-bagian tubuh yang kering.
"Memangnya ini bisa?"
"Bisa, Sayang. Sudah jangan khawatir, Gala sudah tidur kan Mas?"
"Sudah, dia sudah nyenyak dari tadi. Kamu tidur saja duluan, aku sambil periksa kerjaan di sini. Nanti kalau Gala bangun, aku yang kasih susunya."
Maryam mengangguk pelan, matanya sudah sangat mengantuk. Untungnya suaminya sangat pengertian sekali.
Maryam seperti sedang gelisah, ia membalik tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
"Sayang, kamu kenapa kaya orang gelisah gitu?" tanya suaminya siapa tahu Maryam sedang tidak enak badan akibat keserempet mobil atau Maryam tidak bisa tidur karena lapar.
"Penasaran? Penasaran kenapa?" Langit menyimpan pekerjaannya sejenak. Ia menghampiri tempat tidur istrinya.
"Itu loh, Mas. Drama korea yang sedang aku tonton. Belum ending dua episode lagi jadinya aku penasaran banget," keluh istrinya sambil nyengir kuda.
Langit mendesah pelan, ia ingin tertawa geli mendengarkan pengakuan istrinya. Drama korea.
Bibir Maryam mengerucut. Matanya melirik Langit kesal. Dia tidak
suka dengan penolakan Langit untuk menemaninya menonton drama korea.
Langit pura-pura tidak tahu jika Maryam sedang meliriknya kesal. Dia
__ADS_1
menatap lurus pada dokumen-dokumen yang berserakan di meja.
Melihat istrinya terus-terusan seperti itu, Langit akhirnya mengalah demi keamanan dan kenyamanan rumah tangga. Konon bila istri marah jangan harap suaminya dapat jatah.
Langit mulai menikmati film yang disuguhkan di drama korea favorit istrinya. Adegan panas mulai bermunculan. Entah kenapa perasaan Maryam mulai tidak enak, ia melihat seringaian di wajah suaminya. Langit yang sudah terbawa suasana jalan ceritanya pun menonton
dengan khidmat padahal dia tadi sangat tidak berminat menonton film itu karena pekerjaannya sedang menumpuk.
Diam-diam Maryam tersenyum saat memperhatikan wajah suaminya
terlihat serius, tapi tetap tampan. Pria itu memang sangat tampan walau cahaya
yang sangat minim seperti ini tetap tidak berkurang. Merasakan istrinya terus menatap ke arahnya, Langit menarik tubuh istrinya agar menyandar di dada bidangnya. Sebisa mungkin Langit menahan sesuatu yang sudah menegang di bawah sana. Rupanya Langit sudah terbawa suasana film yang menampilkan adegan dewasa,
istri cantiknya di sebelahnya malah semakin merekatkan tubuhnya ke tubuh Langit hingga tubuh suaminya langsung meremang.
Tingkah Maryam mulai aneh, Langit bisa merasakan itu. Bisa jadi Maryam mirip kucing kawin yang mengeong mencari pasangannya. Bedanya Maryam seolah sedang menggoda suaminya, bisa jadi hanya akal-akalan Maryam menonton film drama yang menyuguhkan adegan dewasa tapi sebenarnya ia menginginkan adegan yang sama seperti yang mereka tonton.
"Kamu mau coba kayak yang ada di film itu?" Maryam melirik layar sekilas lalu kembali menatap Langit menggoda. Di film itu menampilkan sepasang kekasih yang sedang berciuman panas berujung hubungan ranjang.
Tatapan Langit semakin tajam. Wajahnya memerah dengan napas memburu, matanya sudah tampak sayu. Ciri khas Langit jika hasratnya sudah membara.
"Kamu yang mulai, Sayang." Langit membaringkan tubuh istrinya dan mulai menindihnya. Kali ini Langit tidak akan memberikan istrinya pengampunan, ia akan melakukan sesukanya. Sampai istrinya mengerang nikmat.
Nafas Maryam tersengal, suaminya sudah berbaring terlentang di sebelahnya. Mereka berdua melakukannya dengan panas tanpa jeda.
Maryam merasakan sentuhan kembali di perutnya, ia melirik ke arah suaminya. Pria tampan itu menyeringai dengan tatapan menggoda.
"Kita lakukan lagi." Seringainya.
__ADS_1
***