BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Dua Pria Asing


__ADS_3

Setelah puas berpiknik seharian, Sava dan Jessy kini sudah dalam perjalanan menuju rumah kost.


Sava yang memangku baby Zee terlihat memandangi sang putera yang dengan rasa bangga dan tajub. Sava merasa bangga menjadi orang ibu, dan juga tajub dengan perkembangan baby Zee yang tumbuh dengan sangat baik.


Dia tak menyangka bahwa hidup nya akan seperti sekarang ini.


Bekerja, merawat anak, dan juga di sibukkan dengan hal hal yang monoton. Walau begitu tak membuat diri nya bosan. Tetapi justru sebaliknya, diri selalu bersemangat.


Tidak ada hal lain yang bisa ia kerjakan. Karena sang putera hanya memiliki diri nya. Dan Sava pun juga sadar, dia tidak punya siapa siapa lagi di dunia ini.


Dan orang orang terdekat saat ini yang secara langsung ikut andil dalam membantu hidupnya ialah, bik Inayah. Tetangga yang mengasuh baby Zee ketika diri nya sedang bekerja. Kemudian paman Faizal, bibik Fatimah, dan juga Jessy teman sekaligus tetangga baiknya.


Hanya kepada mereka lah orang orang yang secara langsung punya andil besar dalam membantu hidup Sava. Sehingga diri nya mampu bertahan walau sendirian.


Meskipun demikian, kadang rasa hampa masih melingkupi hati Sava. Hampa karna merindukan seseorang yang sampe saat ini masih ia cintai, yang juga tak akan mungkin bisa ia jumpai.


Bayangan wajah Emieer masih sangat lekat di panca indra Sava. Hati nya masih terpaut pada seseorang yang kini sudah beristirahat dengan tenang di sana.


Setelah menidurkan baby Zee, Sava seperti biasa melakukan segala aktivitas yang bisa dia lakukan.


Seperti makan malam, beberes ruangan, hingga menyiapkan keperluan untuk esok hari.


Seperti biasa jelang ia beristirahat, Sava selalu memandangi foto Emieer. Ia tidak akan bisa tidur sebelum puas memandangi wajah rupawan Emieer yang sudah 4 bulan ini meningalkan dirinya.


"Emieer, besok aku akan sempatkan waktu untuk mengunjungi makam mu. Aku sudah lama tidak mengunjungi mu di sana." ucap Sava bermonolog.


"Oya Emieer, tau tidak. Tadi pagi aku menabrak seseorang, dan orang itu minta ganti rugi. Kau tau, nama nya mirip nama mu. Hanya beda Em dan Sam, nama nya Samieer." ucap Sava mengandu.


Tetapi, soal perasaan nya yang waktu itu sempat menyeruak mana kala melihat wajah Samieer untuk yang pertama kali. Sava hanya memendamnya dalam hati, ia tak mencurahkan isi hati nya hanya soal itu.


"Aku masih setia pada mu Emieer. Di hati ku selalu ada diri mu, cinta ku masih sama besar untuk mu, tak berkurang sedikitpun. Meski kau telah tiada. Jangan kawatirkan aku, aku kuat, semangat, dan bahagia sayang, terimakasih sudah memberikan teman hidup untuk ku. Zee sekarang segala nya bagi ku. Dia sumber semangat ku." kemudian Sava mencium foto Emieer.


"I Miss you. I love you."


Setelah puas mencurahkan isi hati nya pada foto Emieer setiap malam nya. Kini Sambil mendekap foto Emeeir, Sava memejamkan mata nya untuk beristirahat. Karena esok hari, ia harus kembali pada ritual yang sama.


🍁🍁🍁🍁🍁


Seperti biasa, sesampainya Sava di tempat kerja, Sava langsung bergegas ke ruang ganti, untuk menganti bajunya dengan baju seragam housekeeping.


Seragam kebesaran nya untuk mencari uang, demi menghidupi diri nya dan juga putera satu satu nya yang ia sayangi.

__ADS_1




Sava merasa bangga pada dirinya, karena ia ternyata bisa mandiri. Walau hanya berprofesi sebagai tukang bersih-bersih kamar hotel. Sava senang bisa menghasilkan uang dengan cara nya sendiri, dengan usaha dan jeripayah nya sendiri.


Ketika Sava sedang fokus dan sibuk bekerja, tiba tiba seseorang berdehem dari arah pintu kamar hotel.


Dan siapa lagi penganggu itu, kalau bukan sang Bos besar Metthew Wilson.



"Aku bangga dengan karyawan ku satu ini. Masih muda, cantik, pintar, ke ibuan, mandiri. Perfect." ucap Metthew yang kemudian melangkahkan kaki nya makin masuk ke dalam area kamar.


Dan Sava pun hanya bisa mendesah pasrah ketika sang Bos yang suka menganggu nya itu datang lagi. Sava tetap melanjutkan pekerjaannya merapikan sprei di tempat tidur kamar hotel.


"Aku bicara pada mu Sava." ucap Metthew santai ketika Sava hanya diam saja.


"Bapak kenapa kemari, ini bukan tempat yang layak untuk bapak singahi." ucap Sava, dan Metthew pun terkekeh.


"Dan seperti biasa kamu selalu jutek pada ku Sava, padahal aku kan bos mu. Apa kamu tidak takut aku pecat karena tidak sopan." jawab Metthew sedikit meneror Sava.


"Jika saya ada berbuat salah silah kan pecat saya. Tapi karena saya tidak salah, tidak ada alasan untuk memecat saya kan." jawab Sava berani.


"Dan saya sangat berterimakasih untuk apresiasi itu pak. Hanya saja maaf, saya tidak bisa menerimanya."


Sava nampaknya memang kekeh tidak menerima tawaran posisi yang di berikan Metthew.


Metthew sebenarnya juga sangat gemas dengan sikap keras kepala Sava.


Kemudian Metthew kembali berjalan lebih dekat ke arah Sava.


"Jangan takut jika kebaikan ku pada mu menuntut sesuatu yang lain. Aku bukan tipe orang seperti itu. Aku setia pada almarhum istri ku Sava, ku rasa kamu juga demikian. Kamu masih sertia kan dengan mendiang suami mu."


Deg......


Kata kata Metthew membuat Sava mengehentikan aktifitasnya.


"Kau dan aku punya kesamaan Sava, kita mencintai seseorang sangat dalam. Bahkan walau orang yang kita cintai sudah tidak ada lagi di dunia ini, tapi seolah-olah kita masih merasakan kehadiran nya di sekitar kita bukan. Dan aku yakin, kau juga belum bisa membuka hati mu untuk orang lain. Tapi aku hanya bisa sarankan, cobalah untuk membuka hati mu pelan pelan untuk orang lain. Kau masih muda Sava, masa depan mu masih pajang."


"Jangan mengurui ku pak. Saya tidak tertarik dengan pembahasan soal kehidupan pribadi. Ngomong ngomong kenapa bapak selalu menguntit ku." ucap Sava yang kini sudah mulai kesal. Tetapi Metthew menanggapi sikap kesal Sava dengan tawa yang renyah.

__ADS_1


"Kau bekerja di hotel milik ku Sava, ingat!" ucap Metthew yang memang senang sekali mengoda Sava.


"Kalau begitu jangan mengganggu saya pak, saya sedang melaksanakan tugas saya. Pekerjaan saya masih banyak. Jika urusan bapak sudah selesai di sini silahkan pergi!" seru Sava makin berani. Lagi lagi Metthew hanya menanggapi dengan tersenyum.


"Wow, wow, wow... mulai berani ya kamu Sava. Tapi baiklah, atas perintah nona cantik Georgia Savanah Almeera, aku kan pergi. Selamat bekerja Sava, ingat yang bersih," tugas Metthew yang kemudian melegos berlalu dr ruangan itu sambil bersiul.


"Bos aneh."


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Siang itu saat Sava sedang menikmati makan siang nya, tiba tiba ia di kejutkan dengan deringan nada pangilan di ponselnya.


"Halo," Sava menyapa penelpon yang nomernya ia tidak kenal.


"Halo, ini aku Sam. Bisa kita ketemu di BlueSky kafe. Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu perihal kerugian ku saat kau tabrak kemarin." ucap seseorang di sebrang telepon sana.


"Baiklah, jam berapa aku harus menemui mu." tanya Sava.


"Jam 5 sore aku tunggu di sana, ingat kalau sudah ada di depan kafe nya, kau hubungi aku dulu di nomor ini. Ini nomor ponsel ku."


"Oke." jawab Sava singkat.



Setelah pangilan telepon berakhir, Sava nampak sedikit berfikir. Kafe BlueSky, bukankah itu kafe tampat dia dan teman-temannya dulu suka hangout. Tetapi bukan itu saja yang membuat Sava berfikir. Pertemuan kedua Sava dan Emieer dulu juga di kafe itu. Bahkan sejak bertemu di kafe itu dan saling bertukar nomor ponsel, hubungan Emieer dan Sava jadi makin dekat.


"Fa, kok melamun." sapa Resty teman satu profesi yang akrab dengan Sava.


"Oh, tidak. Aku sedang menikmati makan siang ku." kilah Sava, yang kemudian melanjutkan menghabiskan makan siang nya.


"Aku liat pak Metthew tadi ada di ruangan yang kamu bersihkan. Apa dia belum berhenti menggoda mu," ucap Resty sambil di sertai tawa.


"Dia hanya usil." timpal Sava tidak mau besar kepala karena sudah di goda sang Bos.


"Semua karyawan di sini sudah tau Sava. Kalau Pak Matthew ada feeling sama kamu." ucap Resty lagi.


"Tapi aku tak mau terlalu memikirkan itu Res, fokus ku saat ini bekerja dan bekerja. Banyak kebutuhan yang harus aku penuhi. Soal hati, aku masih setia dengan Emieer ku. Walau dia tak lagi bersama ku. Aku tidak mau memikirkan hal hal semacam itu dulu, aku mau fokus bekerja saja." Sava berucap dengan mantap.


"Jadi, aku menikmati status ku saat ini. Aku sudah bahagia bersama Zee." ucap Sava lagi yakin dengan apa yang ia rasakan.


"Aku iri pada mu Sava. Kau masih muda tapi cara pikir mu sangat dewasa, mandiri, dan tidak cengeng. Semoga kau selalu di kelilingi orang orang baik." ucap Resty.

__ADS_1


"Terimakasih Res, kau bagian orang orang baik yang ada di dekat ku."



__ADS_2