
Aisya semakin meradang mendengar Zayn kalau bicara suka seenaknya.
"Kamu nyesel?"
"Nggak,"
"Kalau gitu aku mau pulang saja ke rumah mama, biar mama dan bu Lela yang ngurusin aku."
Zayn mengusap wajahnya dengan kasar.
Menghadapi istri manjanya memang butuh kesabaran penuh. Sama sekali Zayn tidak menyesal menikahi Aisya karena sudah menjadi pilihan hatinya. Hanya saja Zayn selalu memendam rasa cintanya seorang diri, Zayn hanya mengungkapkannya dengan perbuatan sebagai bentuk segala rasanya pada Aisya.
"Yakin kamu mau pulang ke rumah mama?" tanya Zayn memastikan.
"Yakin, karena kamu nggak mau ngurusin aku." Aisya sudah tidak bernafsu untuk makan.
"Ya sudah, nanti aku antar kamu ke rumah mama. Mau berapa hari?"
Aisya menatap wajah Zayn tak percaya. Bagaimana bisa suaminya tega meluluskan keinginannya. Bukannya malah melarang malah Zayn ingin mengantarkannya sendiri.
"Iih kamu ini benar-benar ya." Aisya mendengus kesal, tangannya bersidekap.
Makanan seafood yang dipesan Zayn datang, Aisya hanya mendelik tidak suka.
"Makanlah, aku tidak mau anakku kelaparan gara-gara sikap manjamu itu." Bagai pedang menghunus jantungnya, rasanya Aisya ingin berteriak minta tolong pada mamanya.
Bukannya lagi hamil itu disayang-sayang, malah dijutekin seperti itu. Dasar Zayn tidak ada manis-manisnya sebagai suami.
Oke, aku akan lihat. Kamu bakalan tahan tidak kalau aku tinggal di rumah mama.
*
*
*
*
*
Benar saja, pagi harinya Zayn mengantarkan Aisya ke rumah Ainun. Ia turut menurunkan koper kecil berisi baju-baju Aisya.
Ainun sempat heran karena Zayn pamit pergi, tidak bilang akan menemani Aisya dan ikut menginap di sana. Zayn hanya bilang akan pergi ke kampus karena ada jadwal ngajar pukul 11 siang.
Wajah Aisya terus ditekuk, Langit sudah mencium-cium bau percekcokan di antara mereka.
"Hubungan kamu dengan Zayn baik-baik saja kan, Nak?" Ainun cemas melihat ekspresi wajah Aisya yang murung apalagi dengan koper yang dibawanya. Biasanya kalau hanya menginap, Aisya hanya membawa barang pribadinya saja karena pakaian ganti masih banyak di kamarnya.
__ADS_1
"Ma, Zayn itu ko dingin banget sih. Dia itu titisannya Kak Langit, mereka itu sama-sama menyebalkannya." Aisya merengut kesal.
"Kamu kenapa sih, Dek. Ko malah bawa-bawa Kakak," ucap Langit protes.
"Habisnya sikap kalian itu sama, Kakak sama Zayn sama-sama dingin dan datar. Kenapa kalian bisa semenyebalkan itu sih,"
Ainun tersenyum tipis, rupanya puterinya itu sedang merajuk.
"Ais, kalau Zayn sikapnya dingin. Dia nggak bakalan nyentuh kamu loh," kata Maryam.
"Maksud Kakak?"
"Kalian kan tidak melalui proses pacaran, jadi kalau menurut Kakak kalian harus saling mengenal. Kalian harus tahu kebiasaan, sikap, watak kalian itu seperti apa. Biar tidak ada kesalahpahaman. Kamu harus lebih banyak menggali lagi suami kamu itu seperti apa," jelas Maryam disetujui Langit dan Ainun.
Aisya diam mencerna setiap kata yang keluar dari mulut kakak iparnya. Aisya jadi sadar, selama ini ia sendiri yang lebih banyak menuntut tanpa tahu apa yang diinginkan suaminya.
"Sebagai seorang istri dari suami yang paham agama, harusnya kamu kembali pada suamimu. Minta maaflah, walaupun tadi Zayn yang mengantarmu sendiri siapa tahu dia tidak ridho.
Perkataan Ainun membuatnya terhenyak, ia tahu makna kata ridho suami itu seperti apa.
"Aisya nanti sore pulang, Ma."
***
Aisya menggeliatkan tubuhnya, matanya perlahan membuka, ia terperangah melihat Zayn tidur sambil memeluknya. Aisya tersenyum, entah kenapa ia merasa bahagia menemukan keadaan seperti ini sekarang, Zayn tertidur dan ia berada dalam dekapan suaminya.
dengan wajah dari salah satu makhluk ciptaan Allah yang menurutnya sempurna ini.
Tiba-tiba mata Zayn sedikit terbuka karena merasa terganggu dengan sentuhan di wajahnya.
Wajah Zayn mendadak pucat, ia tertangkap basah sedang menikmati ciptaan Allah itu.
"Sayang," ucap Zayn dengan suara serak khas orang bangun tidur. Mata Aisya membelalak, baru hari suaminya memanggil 'sayang'. Ia langsung menjauhkan tangannya dari wajah Zayn. Ia hendak bangkit tapi tangannya kembali ditarik oleh Zayn hingga membentur
dada bidang Zayn.
"Kamu mau ke mana?" tanya Zayn pada Aisya yang kini wajahnya berada tepat di depan wajah Aisya.
"Aku, aku ingin ke kamar mandi." Aisya terbata.
Aisya ingin sekali memukul kepalanya. Kenapa dirinya bisa segugup itu di hadapan suami dinginnya dan kenapa juga Zayn bisa berada di kamarnya.
Mata Aisya melihat ke arah luar jendelanya. Hari masih siang, tapi kenapa Zayn bisa bersamanya.
"Kakak sudah pulang ke kampus?" tanya Aisya.
"Sudah, hanya dua SKS. Kamu mau makan? Biar aku ambilkan," ucap Zayn.
__ADS_1
"Nggak, perutku masih kenyang. Kakak kapan pulang ke rumah kita?"
"Pulang? Katanya kamu mau nginap di sini. Makanya aku pulang ke sini juga," kata Zayn.
"Jadi kita nginap di rumah mama kan? Kakak tidak keberatan kan?" tanya Aisya bersemangat.
"Tidak, kita akan menginap di sini sesuai keinginanmu. Jadi jangan merajuk lagi, ya."
Aisya tampak senang, ia mengecup pipi Zayn sebentar. "Terima kasih suamiku."
Hari ini hari yang tidak akan Aisya lupakan selama menikah dengan Zayn. Sikap Zayn mulai melunak padanya. Aisya berharap hari-hari berikutnya sikap suaminya akan bertambah mesra padanya.
"Kak, kita turun yuk. Lihat bu Lela sama bu Marni masak apa. Aku ko pengen rujak cingur ya," Aisya menaik-turunkan alisnya berharap sauminya peka.
Zayn mengikuti langkah Aisya dari belakang. Sebagai suami ia harus selalu siaga mengikuti apa saja yang diinginkan istrinya selama ia bisa dan mampu.
Pembicaraannya kemarin dengan bu Wanda, salah satu rekan dosen di kampusnya. Banyak menyadarkan dirinya tentang peran suami apalagi kondisi Aisya sedang mengandung buah hatinya.
Wajar jika Zayn tidak begitu paham, dalam keluarganya hanya ia dan Ibra saja saudara kandungnya. Orang tuanya juga tidak selalu ada di rumah. Ia jarang meminta saran pada sesama wanita, sebab siapa yang melawan bicaranya.
Kata bu Wanda, sangat mudah membuat hati wanita senang. Kita tinggal ikuti saja apa maunya, simple tidak harus debat kusir atau ribut berkepanjangan.
Sekarang tinggal Zayn praktekan sendiri, bagaimana membuat Aisya bahagia dengan caranya.
"Cari rujak cingur dimana ya?" Ulang Aisya karena merasa kode kerasnya tidak di dengar Zayn.
Aisya mendelik kesal, baru saja suaminya bersikap manis masa sudah kembali ke tabiat awalnya lagi. Suaminya malah sibuk menatap layar ponselnya.
"Kak,"
"Iya, sebentar." Zayn masih sibuk rupanya ia sedang melakukan pemesanan di aplikasi ponselnya.
"Aku kan bilang mau rujak cingur," ucap Aisya.
"Iya, ini aku lagi pesenin. Makan di rumah saja ya, aku sudah pesan lewat pesan antar." Zayn memperlihatkan pesanan di ponselnya sesuai dengan permintaan Aisya.
Ainun hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar puteri bungsunya merajuk kekanakan.
"Pa, lihat tuh Ais. Dia itu manjanya kebangetan. Beruntung suaminya sabar. Mama khawatir sifat manjanya akan membuat kesal suaminya nanti." Ainun dan Adam memperhatikan tingkah manja Aisya dari kursi santai di ruang belakang yang menghadap ke kolam.
"Ais kan mirip Mama waktu lagi hamil, apa-apa Mama minta. Untungnya Papa suami siaga jadi nggak masalah Mama minta itu ini juga Papa kabulin."
"Ah masa iya sih, yang ada kita itu harus berantem dulu karena Mama banyak maunya."
Ainun senang, Zayn mau mengalah dan menuruti kemauan Aisya. Untuk menginap di rumahnya selama Aisya mau. Penuh syukur ia ucapkan juga karena mempunyai 2 menantu seperti Maryam dan Zayn.
***
__ADS_1