BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Baby Gala


__ADS_3

Mobil Langit langsung berhenti tepat di depan pintu Instalasi Gawat Darurat, Ryan, Prisa dan para perawat sudah menyambut kedatangan Maryam dengan brankar pasien. Di perjalanan tadi, Langit sudah menghubungi Ryan agar segera mempersiapkan segala sesuatu untuk kelahiran bayinya.


Sejak semalam Maryam merasakan gejala aneh yang terjadi pada perutnya, pergerakan bayinya dirasa sangat berbeda dari pergerakan -pergerakan sebelumnya. Bila sebelumnya bayi yang dikandungnya akan bergerak aktit biasa maka tadi malam bayinya seperti berputar sekaligus seolah bergerak mencari jalan keluar.


Sejak semalam pula, Langit terus siaga memijat pinggang istrinya yang pegal dan panas. Ia hanya bisa melakukan itu tanpa merasakan apapun mungkin hanya tekanan akibat panik yang dirasanya terlalu tinggi.


Istrinya seperti orang gelisah, tidur tidak nyaman dan bergerak-gerak seolah mencari posisi ternyamannya.


"Dokter Prisa, sepertinya sudah akan lahiran ya?" tanya Langit dengan keawamannya menjadi seorang ayah baru.


"Iya Pak, air ketuban juga sudah pecah dan merembes. Beruntung bu Maryam tidak terlalu panik dan lumayan tenang. Anda bisa menemaninya untuk mengurangi tingkat stress pada ibu hamil ketika melahirkan," jelas Prisa mempersilahkan Langit memasuki ruang tindakan.


Langit mendengar Maryam mengaduh sesekali sambil memegangi perutnya.


"Bagaimana rasanya? Apa sakit?" Terdengar bodoh tapi Langit ingin tahu apa yang dirasa istrinya saat ini dan ia ingin memahami seperti apa rasa sakitnya.


"Mulas, Mas. Lebih sakit dari sakit perut mens." Maryam meringis menahan sakitnya yang timbul tenggelam.


"Tarik nafas, Sayang." Mungkin itulah salah satu cara sedikit mengurangi sakitnya.


"Mas, aku takut."


"Jangan takut, pasrahkan semuanya sama Allah. Kamu sedang berjihad di jalanmu." Tak terasa pelupuk mata Langit basah, ia tidak mengira seperti itu sakitnya yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Keringat memenuhi dahi Maryam, sesekali Langit menyekanya.


"Sebentar ya, Pak. Kami mau periksa detak jantung bayi dan pembukaannya sudah berapa." Dua orang perawat datang membawa alat deteksi jantung bayi yang ditempelkan di perut ibunya. Setelah memeriksa, seorang perawat satunya lagi memakai sarung tangannya di jalan lahir bayi.


"Aaww." Maryam meringis, terlihat darah mengenai sarung tangan yang dipakai perawat itu.


"Baru pembukaan empat ya, Pak. Sabar saja dulu, ajak bicara ibunya dan kalau bisa dan kuat ajak jalan-jalan di ruangan ini saja sambil dipegang sama Bapaknya," tukas perawat itu.


Langit mengangguk pelan, jujur ia shock dan bingung apa yang harus ia perbuat ternyata Maryamnya sudah berdarah-darah seperti itu.


Melihat puteranya pasti akan panik, Ainun membantu Maryam dan menemaninya di sana.


"Sabar, Sayang. Kita baca sahalawat sama-sama." Ainun membacakan shalawat dengan suara yang merdu. Sementara Maryam tetap mengikuti seraya menarik nafas dan membuangnya pelan-pelan. Beberapa menit kemudian Maryam sudah mulai bernafas dengan normal.


"Uuuuhhh." Maryam mengalami kontraksi lagi. Sekarang sudah menetap per 5 menit dan rasanya jangan ditanya, seperti nikmat-nikmat nyeuri yang sulit didefinisikan.

__ADS_1


Allah itu maha adil, kebayang kalau kita masih bisa merasakan kontraksi itu gimana rasanya pasti akan banyak wanita yang menyetop hamil lagi. Tapi kenyataannya, banyak para wanita yang hamil anak ke 2, 3 bahkan 4. Karena rasanya sama sekali ingat-ingat lupa. Malah bikin ketagihan.


"Kamu yakin tidak mau operasi saja, kamu nggak bakalan sakit begini." Langit merasa kasihan melihat istrinya kesakitan seperti itu.


"Nggak Mas, aku mau melahirkan normal kecuali kalau ada apa-apa dengan kandunganku maka aku siap dioperasi." Maryam mantap berkata demikian, selama dia bisa dan mampu kenapa tidak apalagi ganjaran wanita hamil dan melahirkan itu sudah Allah perhitungkan.


"Ya sudah kalau kamu maunya begitu, kita berjuang bersama. Aku akan menemanimu selalu." Bisik Langit.


Maryam tiba-tiba saja berurai air mata, tangisnya tak terbendung lagi. Ia ingat pada ibunya, tapi tidak mengurangi rasa syukurnya ditemani mertua sebaik Ainun.


"Aaaahhh, sakit Mas. Huhhuh." Diremasnya tangan Langit sekuat mungkin sampai meninggalkan bekas cakaran kuku di tangannya.


Ponsel Langit berbunyi terdapat panggilan dari Aisya, pasti dia ingin menanyakan kabar kakak iparnya yang sedang kontraksi hebat.


"Iya, sudah mau melahirkan. Baru pembukaan empat."


"Siapa, Nak?" tanya Ainun.


"Aisya, Ma. Katanya mau datang."


"Duh kalau bisa nggak usah datang, dia suka bikin riweuh."


Tas perlengkapan koper bayi dan segala sesuatunya sudah diantarkan pak Ujang dan Adam yang menyusul. Tadi saking paniknya Langit meninggalkan segala sesuatu yang sudah Maryam persiapkan semalam.


Kontraksi Maryam semakin lama semakin tidak bisa ia tahan-tahan lagi, perutnya serasa diremas-remas. Sakit rasanya, peluh keringat sudah membasahi sekujur tubuh.


Di luar ruang tindakan sudah ada Adam, Aisya, Zayn, Amira, Anindya dan Willy. Pak Ujang juga siap siaga apabila dibutuhkan mengantar-antar.


Tidak ada yang tidak panik, dari keluarga besarnya baru saat ini saja ada anggota keluarganya yang melahirkan. Merasakan tegang bukan main, apalagi yang Langit rasakan di dalam.


Perdua jam dokter dan perawat kembali memeriksa jalam lahir, apakah sudah bertambah membesar atau belum.


"Beruntung sekali karena pada kondisi Ibu Maryam proses pembukaannya terhitung cepat. Ini sudah menunggu 8 jam sampai pembukaan 6. Kita tunggu sampai pembukaan lengkap. Berdo'a ya, Bapak dan Ibunya."


Langit mendesah pelan, ia mengusap wajahnya gusar. Semakin lama rasanya ia semakin tidak tega.


"Sabar, sebentar lagi. Kamu mendingan sholat dan berdo'a." Ainun mengusap punggung puteranya untuk memberikan ketenangan.

__ADS_1


Semua keluarga yang hadir juga ikut cemas, apalagi Aisya. Ia sekalian ingin melihat bagaimana kakak iparnya itu melahirkan, apakah rasanya sakit atau tidak.


*


*


*


*


*


Tepat pukul 23.15 Maryam melahirkan dengan selamat bayi mereka dengan berat normal 3.5 kg dan panjang 55 cm. Setelah menunggu lebih dari 24 jam merasakan kontraksi yang teramat sakit. Bayinya segera mendapatkan Inisiasi Menyusui Dini dan ditempelkan di dada sang ibu. Maryam dan Langit tak kuasa menahan haru, bersuka cita akan kehadiran buah hati di tengah-tengah mereka.


"Selamat, bayi tidak ada kekurangan sedikitpun." Semuanya tidak ada yang tidak bernafas lega, proses kelahiran lancar tidak ada suatu kurang apapun. Terlebih Maryam tidak harus mendapatkan jahitan pasca melahirkan.


"Mas." Tangis Maryam pecah mendapati buah hati yang sangat ia rindukan dalam dekapannya.


"Iya, Sayang. Anak kita, Assalamu'alaikum Nak." Sama dengan istrinya, Langit juga tidak bisa membendung air mata bahagianya.


Pintu ruang bersalin terbuka, Langit berjalan dengan berlinang air mata menghampiri keluarganya yang juga sedang mengharap cemas.


"Kak,"


"Nak,"


"Mas Langit,"


"Kenapa? Apa ada sesuatu dengan Maryam?" tanya Anindya.


"Alhamdulillah tidak, Maryam sudah selamat melahirkan bayi laki-laki kami."


"Alhamdulillah." Semuanya mengusap syukur penuh haru.


***


Bersambung..

__ADS_1


Akhirnya papa Langit sama Mama Maryam bisa nimang Baby Gala ya.. Senangnya.


__ADS_2