BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Menyerah


__ADS_3

Dini hari Maryam dikejutkan dengan berita kematian Faiz dari Fani. Hal tersebut tentu sangat menghantam dirinya yang pernah berstatus sebagai istrinya dulu. Kabar kematian Faiz mengungkit kembali ingatan akan sosok Faiz sebelum pria itu menduakannya. Sikap Faiz yang lembut dan penuh kasih sayang sungguh membuat Maryam begitu mencintai Faiz sepenuh hatinya. Kini sosok yang pernah menolehkan luka sekaligus suka itu telah pergi selamanya.


Mendengar suara isak tangis samar-samar tertangkap di sebelah telinganya Langit membuka matanya. Ia melihat ke sebelah kiri istrinya yang sedang duduk sambil tertunduk menangis seraya memegang ponselnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Langit, ia lantas beringsut, bergerak mengubah posisinya menjadi duduk.


"Sayang, mas Faiz, mas Faiz meninggal." Maryam sesenggukan. Bukan karena ia masih cinta karena adanya tangisan yang mewarnai kepergian mantan suaminya. Tapi rasa empatinya sebagai manusia yang pernah menjalin hubungan selama satu tahun lebih memunculkan rasa tak percaya Faiz pergi secepat itu.


Langit tak kalah terkejut mendengarnya, meskipun ia tidak suka dengan mantan istrinya bukan berarti ia juga harus mengobarkan hawa peperangan pada orang yang telah tiada. Langit masih punya kewarasan, tangisan Maryam ia anggap wajar. Ia tak marah atau menyuruh Maryam diam.


"Maafkanlah semua kesalahannya, Sayang. Agar kepergiannya tenang," ucap Langit lembut. Ia membiarkan Maryam menangis sepuasnya, menempelkan kepalanya di dada bidang sang suami. Penuh kasih sayang dan pengertian Langit mengusap lembut rambut Maryam agar merasa istrinya itu lebih tenang.


Sampai pagi menjelang Maryam tetap terjaga dalam memorinya bersama Faiz sementara Langit tertidur pulas. Maryam mengerti Langit butuh istirahat karena jadwal pekerjaannya yang padat kemarin malam. Langkah kaki jenjang Maryam perlahan menuruni ranjang sepelan mungkin agar tak menimbulkan suara. Ia tak mau Langit terganggu sampai terbangun.


Maryam membersihkan tubuhnya sekitar 15 menit. Ia berganti pakaian berniat untuk takziah pagi ini. Mental dan hatinya sudah dipersiapkan dengan matang takut-takut mantan keluarga mertuanya tidak mau menerima kehadirannya di sana.


Blouse polos hitam dan celana bahan hitam ia kenakan tak lupa kerudung hitam dan juga kaca mata hitam untuk menutupi matanya yang sembab. Keluar dari wardrobe ia mendapati Langit sudah duduk sambil bersidekap dengan kepala bersandar pada headboard.


"Sayang, kamu bangun. Kirain kamu mau istirahat," kata Maryam menghampiri suaminya dan duduk di tepian ranjang.


"Kamu mau pergi sendiri?" tanya Langit ketus, "Kamu tidak mengajakku untuk ikut? Aku ini suamimu sudah sepantasnya aku menemanimu di pemakaman mantan suamimu. Apa kata orang nanti," ucap Langit berkelakar dengan alasannya.


"Aku mau ajak kamu cuma takut kamu nolak lagian kamu kelihatan cape banget," jelas Maryam.


"Tunggu aku! Jangan dulu berangkat sebelum aku selesai." Perintah Langit seraya dirinya bangkit dan bergerak ke kamar mandi.


Maryam terkekeh sebentar atas sikap Langit yang diam-diam cemburu. Cemburunya Langit memang terselumbung harus pintar-pintar sendirinya yang peka.


20 menit berlalu Langit telah siap dengan pakaian serba hitamnya. Ia mengajak Maryam agar sarapan lebih dulu. Pukul 07.30 mereka baru berangkat ke rumah duka, menurut kabar almarhum Faiz akan dikebumikan nanti sekitar pukul 08.00 pagi menunggu kerabatnya berkumpul semua.

__ADS_1


30 menit mobil Langit menepi di luar gerbang rumah Gufron, perumahan tempat tinggal mertuanya penuh sesak dengan mobil-mobil yang ingin bertakziah, melihat almarhum Faiz untuk terakhir kalinya.


"Mas." Tangan Maryam meremas jemari Langit yang sedang menggenggam tangannya. Telapak tangan istrinya dingin mungkin istrinya itu sedang gugup.


"Bismillah, tabahkan hatimu. Aku tahu kamu pasti bisa." Langit tersenyum tulus terpancar dari wajah tampannya yang tidak ada beban di sana.


Maryam turun dari mobil, matanya memandang pada banyaknya para takziah. Jantungnya berdegup cepat seolah akan loncat dari tempatnya. Suami istri itu berjalan beriringan masuk ke rumah Gufron. Langkahnya semakin berat saat Langit menuntun dirinya memasuki rumah dimana tubuh Faiz terbujur kaku dalam balutan kain kafan yang ditutupi kain jarit.


Jantung Maryam mencelos seketika menyaksikan Kanaya meraung-raung meratapi kepergian Faiz. Sedangkan Laila, mantan mertuanya hanya duduk pasrah menatap kosong anaknya. Hati ibu mana yang tidak sakit ditinggalkan lebih dulu oleh anaknya. Dimana Gufron? Pria paruh baya yang angkuh dan sombong itu sekarang sedang terduduk terpaku seorang diri agak jauh dari para takziah. Sikap angkuhnya tak lagi nampak yang tersisa hanyalah ratapan kehilangan yang teramat.


Begitu sakit.


Punggung tangan Laila terasa hangat, rupanya Maryam menyentuh tangan Laila dan ia baru sadar akan kehadiran mantan menantu tersayangnya itu.


"Maryam, Nak. Kamu datang." Laila menghambur memeluk Maryam dengan isakan tangis yang menyayat hati.


"Maaf,"


"Maaf,"


Maryam mengusap punggung Laila penuh kasih sayang, ia juga meminta maaf atas sikapnya selama jadi istri Faiz.


Tanpa ada yang menduga Kanaya menghambur bersimpuh ingin mencium kaki Maryam. Sontak Maryam terlonjak kaget dengan sikap tak biasa Kanaya.


"Kanaya, apa-apaan ini?" Maryam menjauhkan dirinya dari Kanaya. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Kalaupun Kanaya melakukan kesalahan, Maryam merasa tak pantas dengan sikap Kanaya yang berlebihan.


"Maafkan mas Faiz, maafkan kesalahannya juga maafkan aku. Maafkan kami berdua." Sampai 3 kali Kanaya berucap dengan pengulangan yang sama. Semua mata tertuju pada mereka berdua. Mereka hanya diam tak ada yang berani ikut campur, meski diantara mereka ada yang menerka perihal kejadian apa.


Usai keadaan kembali tenang, Laila bercerita akan penyakit Faiz yang terkesan mendadak. Di saat itu datang seorang sahabat karib Faiz, dia Ferry dan Maryam juga mengenalnya.

__ADS_1


Ferry mengucapkan bela sungkawanya yang mendalam dan ia teramat sedih atas meninggalnya Faiz. Ferry juga bercerita kalau ia sudah tahu mengenai penyakit Faiz yang dideritanya 2 bulan terakhir.


"Jadi Nak Ferry tahu?" tanya Laila tak percaya, air matanya kembali lolos. Pasti saat itu hidup Faiz sedang terombang-ambing tak menentu akan penyakit yang bersarang di tubuhnya.


"Tahu Tante, saya waktu itu memberitahukan Faiz untuk mengabarkannya pada keluarga. Saat itu Faiz hanya menjawab iya akan memberitahukan keluarga perihal penyakitnya. Faiz bercerita awal dia tahu penyakit itu ada." Ferry mengingat dengan keras cerita Faiz saat itu.


Flashback on


Faiz merasakan tubuhnya tidak sebugar dulu dan ia sering merasakan kelelahan ditambah hidungnya juga mengalami mimisan dalam beberapa waktu. Sejak kecil Faiz tidak pernah mengalami mimisan atau gejala aneh yang menghinggapi tubuhnya. Sampai ketika ia bekerja terlalu bersemangat di tengah konflik rumah tangganya, Faiz ambruk di kantor. Ia dilarikan ke Rumah Sakit.


Tepatnya di Medika ia menjalani skrining menyeluruh terkait kesehatannya termasuk CT Scan dan MRI Scan. Dokter Ryan menangani Faiz secara langsung dan mengabarkan hasilnya ternyata Faiz menderita leukimia stadium akhir. Faiz shock dan tertekan, wajar Faiz seakan dihantam gelombang berkekuatan besar sehingga mampu merobohkan pertahanannya.


Dokter Ryan menyarankan agar Faiz tetap tenang dan optimis sembuh. Minimal dengan pikirannya sendiri yang akan membunuh penyakit di dalam tubuhnya.


Dua minggu kemudian Faiz kembali datang untuk check up kesehatannya. Ia dan dokter Ryan sepakat akan menjalani kemo tapi beberapa jam kemudian Faiz malah menolaknya. Entah apa yang membuat pikirannya berubah. Kondisi Faiz terus menurun kian hari ditambah berita pernikahan Maryam dan juga kecelakaan Kanaya sehingga calon janinnya meninggal. Harapan Faiz mempunyai keturunan pupus sudah. Ia tidak akan pernah mempunyai kesempatan lagi memberikan penerus untuk keluarganya.


Faiz seolah menghukum dirinya dengan menyerah, ia menyerah pada keadaan dan memilih menyimpannya rapat-rapat seorang diri hingga ajal menjemputnya.


Flashback off


***


Bersambung...


Mana komen


Like


Votenya...

__ADS_1


Aku tunggu yaa.... Mmcuuuah sampai basah😘


__ADS_2