
Hujan turun deras di sore ini, menghantarkan hawa sejuk setelah seharian panas matahari cukup terik. Sudah 30 menit Willy berada di apartemen Anin membicarakan rencana pernikahan mereka.
"Umi, saya sudah bicara dengan Langit. Langit ingin Umi dan Anin tinggal di rumah pak Harsa. Itu sudah menjadi keputusan keluarga. Karena saya sendiri tidak bisa menolaknya," ujar Willy menceritakan perbincangannya tadi dengan Langit di caffe.
"Umi tidak masalah kalau Anin mau, kita bisa pindah sebelum pernikahan. Lagian kalian nanti butuh tempat yang lebih besar untuk memulai berumah tangga," timpal Amira menyerahkan segala keputusan pada Anin.
"Kalau Anin terserah Umi saja." Anin bingung kalau tinggal di sana takut perasaan Amira akan kembali terkenang pada masa lalunya.
"Loh ko jadi lempar ke Umi, kalau kamu mau minggu besok kita pindah. Sekalian memeriksa apa ada yang harus direnov atau tidak, biar tidak repot nanti. Gimana?" tanya Amira.
"Umi yakin?"
"Yakin, Nak. Umi tidak kenapa-napa ko, Umi seneng kamu bisa berkumpul dengan keluargamu." Amira mengulas senyumnya sesaat. Ia sadari bahwa masa lalu hanyalah masa lalu. Tidak harus ia ungkit atau rasa lagi, cukup disimpan rapat-rapat dalam hati.
"Maaf Umi, Anin. Kalau begitu, besok saya akan menyuruh tukang untuk melihat-lihat rumahnya. Umi dan Anin tinggal tunggu saja, biar saya yang membereskannya."
"Jadi merepotkan Nak Willy, jadi tidak enak kita."
"Jangan sungkan, sebentar lagi kita kan menjadi keluarga Umi." Willy mengakhiri perbincangan mereka dengan candaan sebelum ia pamit undur diri.
***
__ADS_1
Sofa kamar ditempati Maryam yang sedang memijat-mijat kakinya sedari pulang dari mall tadi. Rasa pegalnya seolah tidak hanya berada pada satu titik melainkan menyebar dan pegalnya tidak hilang-hilang. Terasa menyiksa, didiamkan malah pegalnya semakin menjadi-jadi.
"Sini aku pijitin." Langit menarik kaki Maryam ditaruhnya di atas pahanya. Jari-jari tangannya yang besar sangat luwes bergerak memijat-mijat sesuai arahan sang istri.
"Aduh, jangan keras-keras Mas. Tenaga kamu kan besar." Maryam meringis.
"Sudah nikmati saja, kamu tidur biar aku tetap pijitin kakinya." Suruh Langit tapi istrinya menggeleng.
"Nggak, Mas. Aku nggak ngantuk, aku mau kamu cerita."
Langit mengerutkan dahinya sebentar, apa yang dimaksud cerita menurut versi istrinya.
"Kamu mau aku cerita apa?"
"Cerita masa mudamu, Mas."
Mendadak Langit berhenti memijat.
"Kamu pikir aku sudah tua, begitu?" Langit tidak terima seolah dirinya sudah tua.
"Iya kan umur kita beda, Mas. Kamu sama aku kan bedanya 5 tahun, kamu sekarang sudah mau 31 kan?" Maryam menyeringai.
__ADS_1
Langit tersenyum smirk, meskipun usianya memginjak kepala 3 ia masih terlihat berusia di bawah itu.
"Kamu mau aku bercerita?" tanya Langit sebagai salah satu usahanya mengalihkan pembicaraan tentang bahasan usia.
"Cerita Mas, kan kamunya mau cerita."
"Iya, aku cerita tapi kamu diam. Aku mau cerita tentang masa kecilku dulu, jangan banyak protes dengarkan dulu." Langit menghela nafasnya sejenak. "Aku dulu pernah menyukai seseorang. Dia namanya Diana, kami berteman karena satu sekolahan. Kamu tahu dia yang mana?"
"Yang mana? Memangnya aku tahu?" Jiwa penasaran Maryam mulai muncul ke permukaan.
"Yakin mau tahu?"
"Iya, mau tahu. Yang mana sih?"
"Kamu tahu wanita berhijab yang sering menyapa kita di seberang rumah?"
"Wanita berhijab yang cantik itu? Memang ada hubungannya?" tanya Maryam semakin penasaran.
"Tentu saja ada, kan dia cinta masa kecilku." Pengakuan Langit sontak membuat Maryam membulatkan matanya sempurna. Ia pikir cinta masa kecil suaminya itu tinggalnnya jauh dari rumah tidak terpikirkan suaminya juga sering melempar senyum pada wanita masa kecilnya itu.
Hati Maryam sedikit meradang, kenapa malah suaminya baru sekarang memberitahukan kabar ini.
__ADS_1
***
Bersambung..