
Pukul 06.00 Langit sudah bersiap diri berangkat ke pabrik, pukul 08.00 nanti ia dan Willy akan bertemu dengan Adinda di Bekasi. Adinda ingin melihat secara langsung pembuatan alat-alat yang sudah dipesannya untuk ia pasarkan kembali.
"Sayang, aku berangkat dulu ya. Willy sudah menunggu di bawah." Dari jendela kamarnya Langit melihat mobil Willy masuk ke halaman rumahnya.
"Iya, kamu hati-hati ya. jangan lewatkan sarapan kalau masih ada waktu setelah sampai," ucap Maryam berpesan pada suaminya.
"Iya Sayang, ada waktu aku langsung sarapan. Baik-baik di rumah, kalau ada sesuatu kamu langsung hubungi aku." Langit memberikan kecupan di bibir Maryam. Lalu bibir Langit beralih pada perut Maryam dan mengecupnya lagi di sana.
Maryam melihat keberangkatan suaminya dari atas jendela kamar. Ia engap kalau harus turun tangga di usia kandungannya yang sudah semakin membesar.
Kalau saja Adinda tidak memesan alat-alat kesehatan dalam proyek mega mungkin saja Langit tidak akan mau repot-repot meninjau pabriknya pagi ini. Langit juga bisa membaca trik Adinda hanya ingin bertemu dengannya saja.
Di perjalanan Langit tak hentinya bersungut kesal.
"Will, pastikan secepatnya pesanan selesai. Aku sudah tidak mau ada kontak apapun lagi!" Tekan Langit akan sikap Adinda yang tidak profesional.
"Apa dia membuat masalah dengan anda?"
"Ya, kamu tahu dia kirim whatsaap dan bilang ingin mengajakku makan malam. Untungnya Maryam tidak tahu, kalau tahu dia bisa salah paham."
"Kalau istri anda tahu sudah pasti hari ini anda tidak akan bisa kemana-mana, Pak." Lalu Willy tergelak.
"Sial!" sungut Langit.
Jalanan pagi melewati tol cukup membuat perjalanan lancar, Langit dan Willy sampai sekitar pukul 07.30. Mereka belum melihat Adinda sampai.
Masih ada waktu untuk sarapan terlebih dahulu di rumah makan di dekat pabrik. Langit juga tidak lupa mengabari Maryam. Mata Langit menangkap seorang wanita datang menghampirinya.
"Selamat pagi menjelang siang Pak Langit, maaf saya agak telat. Saya tadi harus mampir ke tempat papa dulu," ucapnya pada Langit.
"Oh iya tidak apa-apa," jawab Langit dengan tangan memegangi ponsel yang menempel ke telinganya.
"Mas, kamu sedang sama siapa?" Suara Maryam terdengar tidak senang.
"Lagi sama klien, Sayang. Kalau begitu aku tutup dulu ya, sampai jumpa di rumah." Tutup Langit mengakhiri pembicaraannya.
Adinda masih diam berdiri mematung mendengar Langit berucap mesra memanggil istrinya.
"Silahkan duduk, anda sudah sarapan?" Dengan gayanya yang santai Langit menyuruh Adinda duduk di kursi sebrang tempatnya.
__ADS_1
"Saya sudah sarapan." Senyumnya ia paksakan.
Aku kira pernikahannya hanya gosip semata.
Di pabrik Langit sedang berbincang serius dengan manager pabrik, wajah tampannya berhasil menyihir Adinda untuk menyukainya.
Hanya lewat ekor mata saja Willy dapat melihat gerak-gerik Adinda yang tidak biasa. Benar kata Langit kalau Adinda menyukai atasannya itu.
"Bu, bagaimana menurut anda apakah semua cara pembuatannya sudah sesuai standart?" Willy mencoba mengetest kadar kefokusan Adinda selama berkeliling tadi.
"Ah iya saya senang bisa berada di sini," ucapnya pada Willy.
Willy menahan untuk tidak tertawa. Dugaannya benar sedari tadi Adinda hanya fokus memperhatikan Langit.
"Apa anda senang karena ada pak Langit di sini?" Selidik Willy memancing.
"Apa sih Pak Willy ini, mana mungkin saya memperhatikan pak Langit. Nanti istrinya marah lagi." Belanya menutupi kebenaran.
"Iya sih, nanti istrinya bisa-bisa marah. Dan pak Langit juga bukan tipikal pria yang bisa genit dengan wanita lain ko." Meski Willy menyindirnya, ia ungkapkan dengan wajah biasa-biasa saja.
Adinda meremas pinggir jahitan roknya, kenapa tiba-tiba pria itu mengatakan hal tentang Langit.
"Apa pak Langit sudah lama menikah dengan istrinya?"
"Beruntung ya yang jadi istrinya pak Langit," ujar Adinda.
"Mereka sama-sama beruntung, pak Langit maupun ibu Maryam. Keduanya saling mencintai, saya juga suka iri melihat kemesraan mereka berdua." Semakin gencar ia membuat hati Adinda semakin tak karu-karuan.
Langit sampai di rumah saat senja sudah terlihat. Usai dari Bekasi, Langit kembali ke kantor mengerjakan semua pekerjaanya. Memeriksa berkas saja memerlukan waktu lama, apalagi menyangkut nominal. Harus seteliti mungkin salah satu nol saja bisa mengakibatkan kerugian yang besar.
"Sayang, sedang apa?" Langit mengetuk pintu kamar mandi saat tidak mendapati istrinya di kamar, hanya suara gemerisik air terdengar.
"Aku lagi mandi, Mas." Teriak Maryam.
"Mau aku bantuin?" Goda Langit.
"Nggak usah, Mas. Sebentar lagi aku selesai ko."
Tubuh Langit sudah terasa lelah setelah seharian beraktivitas. Ia meregangkan semua ototnya-ototnya yang menegang. Terdengar suara tulang pinggangya digerakan ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
Ia merebahkan tubuhnya sebentar di sofa, tak lama matanya terpejam.
Keluar dari kamar mandi, Maryam mendapati suaminya mendengkur halus. Lengannya menutupi wajahnya.
"Pasti Mas Langit kelelahan, kasihan." Maryam membelai rambut suaminya.
Bunyi ponsel membuyarkan keasikannya memandangi wajah sang suami.
Nama Willy tertera di layar memanggilnya.
"Iya Mas Willy, apa ada kabar?"
"Saya sudah membuat Adinda kesal siang tadi, Ibu tenang saja. Pak Langit aman ko tidak akan berani macam-macam dengan wanita lain." Lapor Willy.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu, saya harap dia tidak akan berani macam-macam sama suamiku."
"Iya Bu, Adinda sudah saya berikan pencerahan. Tenang saja, kalau begitu nanti saya kabari lagi kalau ada kabar terbaru."
"Iya Mas, makasih ya." Maryam tersenyum senang, tidak sia-sia ia meminta Willy memata-matai Adinda.
"Jadi kamu kerja sama dengan Willy, Sayang?" Kedua tangan Langit sudah melingkar di perutnya. Ia mendengarkan percakapan Maryam dan Willy.
"Mas, kamu bangun? Aku kira kamu tidur," ucapnya dengan menyeringai.
"Aku dengar suara ponselmu berbunyi, ternyata ada yang sedang bersekongkol. Kenapa? Kenapa tidak bertanya padaku saja?"
"Eeh, mmm aku tidak bersekongkol ko. Aku hanya menyuruh mas Willy memata-matai klien wanitamu itu."
"Terus Willy memberikan kabarnya kan?"
Maryam mengangguk.
"Nah itu kan Willy menuruti perintahmu, Sayang. Berarti kalian sekongkol, padahal kamu cukup tanya sama aku pasti akan aku jawab."
Maryam melepaskan pelukan suaminya.
"Kalau aku tanya pasti kamu bakalan bohong, aku juga tidak tahu kamu hari ini ke Bekasi dengan klienmu itu," ucap Maryam menyebikkan bibirnya.
"Maaf, dia itu cuma klien ko tidak lebih kalaupun dia ada sesuatu aku tidak pernah menganggapnya sama sekali. Kamu jangan marah ya." Langit memberikan kecupan singkat di bibir istrinya.
__ADS_1
***
Bersambung...