
Maryam menunggui Anin di caffe depan kantor setelah wanita berhijab itu mengabarinya sejak semalam. Maryam takut Anin punya masalah berat yang dipendamnya. Setelah berdebat dengan Langit sebelumnya karena ia tidak diperbolehkan keluar rumah. Maryam merengek pada suaminya mengingat Anin adalah sahabat yang sering membantunya kala suka dan duka.
Harap-harap cemas Maryam terus melihat ke ara pintu, sudah 10 menit menunggu Anin tak kunjung datang.
"Apa aku ke kantor saja ya," ucap Maryam pada dirinya sendiri. Ia beringsut dari tempatnya saat kakinya melangkah tampak Anin baru datang tergesa-gesa.
"Maryam, maaf aku telat. Bu Agnes ngasih kerjaan banyak banget, hiks." Raut penyesalan tampak dari wajah Anin yang cantik.
"Tidak apa-apa, tadinya aku mau nyusulin kamu ke kantor takut memang bu Agnes nahan kamu, hihi." Maryam tertawa jahil mengingat bu Agnes orangnya cukup disiplin dan tegas dalam pekerjaan.
"Ih segitunya, kamu diijinin pak Langit keluar rumah? Tadinya aku pikir kamu nggak jadi datang soalnya kamu bilang pak Langit larang keras sampai mau berantem," ucap Anin.
"Nggak jadi marahannya, sudah jinak kalau marah sama aku dia nggak bakalan dapat jatah. Suruh main solo saja di kamar mandi." Maryam ingat kejadian semalam, Langit sampai merengut kesal karena istrinya mengancam sampai ke ranah hubungan ranjang mereka.
Untuk meredakan amarah suaminya, Maryam membujuk habis-habisan. Mengulang upaya suaminya di hotel ketika kejutan ulang tahunnya kemarin alhasil tanda merah di leher Langit terlihat dimana-mana, Langit sampai kebingungan menutupinya dengan apa kala dirinya ke kantor.
"Itu buat yang sudah nikah. Kamu jangan dulu tahu ya, hihi." Maryam menutup mulutnya sendiri lupa kalau yang diajak bicara wanita polos shalehah yang belum mengenal area 21+.
"Aku juga tahu kali ah, Maryam." Anin pura-pura merengut kesal.
"Jadi, ada gerangan apa sampai kamu mendadak mau ketemu? Ada masalah? Apa ibumu ada masalah?" tanya Maryam khawatir.
"Nggak, bukan masalah sama ibu. Tapi, tapi kamu janji jangan beritahu pak Langit ya. Janji dulu." Pinta Anin dengan sorot mata seriusnya.
"Iya, ada apa sih serius banget. Ada sesuatu?"
Anin menghela nafasnya sebentar.
"Mar, pak Willy mau ngajakin aku ta'arufa. Tapi aku masih bingung apakah dia serius atau nggak," ungkap Anin malu-malu.
"Oh Willy sudah bilang sama kamu? Kirain belum," balas Maryam.
Anin mengerutkan dahinya.
"Kamu sudah tahu kalau pak Willy,-"
__ADS_1
"Sudah, Willy lebih dulu chat aku." Sela Maryam.
Mata Anin membulat sempurna, kenapa sahabatnya baru cerita sekarang.
"Maaf, aku belum cerita karena waktu kemarin mas Langit ngajakin aku dinner. Kami tidur di hotel jadi lupa buat bahas masalah ini sama kamu. Tapi jujur aku nggak tahu kalau Willy sudah gerak cepat, itu tandanya dia serius sama kamu. Kata mas Langit, Willy belum pernah pacaran sama sekali. Hidupnya banyak didedikasikan buat mas Langit ngurusin pekerjaannya. Kamu tidak usah khawatir dan ragu ya," jelas Maryam sambil memegang tangan Anin.
"Pak Langit juga tahu kalau pak Willy,-"
"Tahu, kita berdua tahu. Jadi gimana jawaban kamu?" Giliran Anin yang bingung akan jawabannya.
"Aku sih sudah bicara sama umi, umi nyerahin keputusan sama aku. Kata umi kalau pak Willy serius datang saja ke rumah buat bicara sama umi." Ungkap Anin. Kemarin setelah pulang dari Bekasi, Anin langsung mengabari ibunya di Bogor. Ibunya menyambut kabar baik yang Anin sampaikan. Ibunya hanya berpesan kalau Anin bingung maka ia hanya disuruh shalat saja minta jawabannya sama Allah.
*
*
*
*
*
Pesan terkirim.
Willy dan Langit sedang berdua di ruangan direktur. Keduanya sedang serius membahas pencapaian bulan ini yang menanjak naik. Sangat menguntungkan perusahaan dan disukai pasar.
Bip.
Pesan diterima.
Anindya : Berikan saya waktu untuk memberikan jawabannya.
Willy mengulum senyumannya. Jangan sampai Langit tahu ia menerima pesan dari Anin. Ia kembali pura-pura mendengarkan Langit.
Jangan pikir Langit bodoh dan tidak tahu apa yang terjadi dengan Willy, Maryam sudah mengabarinya tadi setelah pertemuannya dengan Anin.
__ADS_1
"Jadi lo gerak cepat juga ya, salah perhitungan gue." Langit pura-pura berdecak kesal.
"Maksud Bapak apa ya?" tanya Willy, ia juga pura-pura tidak mengerti.
"Lo sudah ngajakin Anin buat ta'aruf? Hebat juga ya ternyata, kirain muka lurus kaya lo cuma bisa bikin laporan sama kerjaan saja ternyata bisa juga ngajakin cewek serius," ujar Langit dengan mimik wajahnya yang serius.
"Memangnya Bapak saja yang bisa gerak cepat, saya juga bisa kali Pak. Nanti saya juga bisa bikin tanda merah-merah seperti punya Bapak itu." Mata Willy menggoda leher Langit yang merah.
"Ibu Maryam ganas juga ya, Pak." Willy terkekeh ia pamit berlalu dari ruangan meninggalkan Langit yang menahan malunya.
"Sial!" Umpat Langit.
***
"Nin, jawaban dari istikharoh itu bukan harus datang lewat mimpi saja tapi lebih pada keyakinan hati. Kalau kamu sudah mantap menjadikannya imam kamu berarti itu jawabannya. Tidak harus hadir lewat mimpi saja," tukas uminya Anin yang datang menyempatkan diri dari Bogor ke Jakarta setelah mendengar cerita Anin ada yang melamar puterinya.
Anin bercerita sudah satu minggu ini ia istikharah tapi belum pernah sekalipun mendapatkan jawaban lewat mimpinya. Selama di kantor, ia juga tidak lagi bertemu Willy. Anin tidak mau jawabannya nanti terpengaruh karena seringnya mereka bertemu.
"Kalau Umi gimana? Umi keberatan Anin ada yang melamar?" tanya Anin.
"Kalau Umi tidak masalah kalau kamunya mau, Umi menyerahkan semua keputusan sama kamu." Umi Anin memang sangat bijak menyerahkan semua keputusan pada puterinya. Dulu saat Anin diterima bekerja di Medika juga umi tidak keberatan harus berjauhan dengan Anin. Padahal Anin tahu kalau uminya itu pasti kesepian karena di rumah hanya ada mereka berdua saja. Umi tidak mau ikut Anin ke Jakarta berkilah tidak mau meninggalkan ladangnya di sana.
Anin banyak diam masih ada yang dipikirkannya.
"Ada apa, Nin. Kamu punya masalah apa lagi?" tanya Umi.
"Umi, Anin khawatir kalau menikah nanti gimana dengan Umi. Anin hanya mau menikah kalau kita tinggal bersama. Anin tidak mau kalau Umi sendirian lagi." Anin jadi sedih manakala wajah tua umi juga memandang dirinya dengan tatapan haru.
Anin selalu jadi anak berbakti yang tidak pernah memberikannya masalah sedikitpun. Walaupun umi harus membesarkan Anin seorang diri, Anin bertumbuh jadi wanita shalehah.
Aku akan bicara dengan pak Willy, kalau dia mau menerima tinggal dengan umi tidak ada alasan lain untuk menolaknya jadi suami dunia akhiratku. Aku menjawabmu dalam do'aku.
***
Bersambung...
__ADS_1
Segini dulu ya readers, ayo tinggalkan jejaknya yang banyak...