BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Pendekatan


__ADS_3

Malam itu, Sava kembali hanya berduaan saja dengan baby Zee di rumah kost. Seperti biasa, sebelum tidur Sava pasti memandangi foto Emieer sampai rasa kantuk menyerang nya.


Ketika mata nya sudah tak kuat lagi untuk terbuka, tiba tiba suara notifikasi pesan masuk terdengar dari ponselnya. Sava kemudian kembali terbuka matanya, kemudian ia meraih ponselnya yang ia geletakan di sampingnya.


Mata Sava membulat sempurna saat melihat siapa yang telah mengirimkan pesan untuk nya.


Dengan sedikit ragu Sava akhirnya membuka pesan masuk tersebut.


🍁🍁🍁🍁


Samieer : Kenapa pesan ku tadi siang tidak di balas Sava?


Samieer : Apa besok kau sudah bisa kembali bekerja?


Samieer : Tolong balas pesan ku. Atau aku akan menelpon mu.


(Sava sebenarnya malas untuk membalas pesan pria itu. Namun karena dia mengancam mau menelpon akhirnya Sava pun membalas pesan dari seseorang yang kemarin dia tabrak, pria itu adalah Samieer)


Sava : Jangan menelpon ku, sudah malam. Putera ku baru saja tidur. Aku masih belum masuk kerja besok.


(Balas Sava akhirnya, setelah tidak membalas semua pesan masuk dari Samieer tadi siang)


Samieer : Begitu dong di balas pesan ku. Pagi nanti aku jemput ya, aku mau mengajak mu sarapan di luar. Ajak sekalian putra mu.


Sava : Putra ku tidak naik motor.


Samieer : Kalau begitu aku akan bawa mobil.


Sava : Memang kau punya mobil ? Aku tidak bisa, kaki ku masih sakit.


Samieer : Aku ada mobil. Ayolah, aku ingin mengembalikan cek yang tempo hari bos mu berikan untuk ku. Aku tidak butuh itu.


Sava : Bagaimna bisa kau bilang tidak butuh, kau bahkan mengejar ngejar ku untuk ganti rugi.


Samieer : Makanya aku perlu ngobrol dengan mu. Aku ingin bercerita. Aku akan menemui mu besok d rumah kost mu.


Sava : Dari mana kau tau aku tingal di kost. Jangan menemui ku di kost an, aku tidak menerima tamu lelaki.


Samieer : Kalau begitu kita janjian d luar, oke.


Sava : Aku tidak bisa.


Samieer : Bisa atau tidak, mau atau tidak aku akan tetap menemui mu besok. Selamat malam Sava.


Dengan hati setengah kesal Sava meletakkan ponselnya kembali di atas tempat tidur.


"Apa apaan dia, merasa sok dekat saja dengan ku." keluh Sava.


Kemudian ia bangkit dari tempat tidur dan meraih baby Zee dari tempat tidur box nya. Sava memindahkan baby Zee yang masih tertidur lelap itu ke rajang nya.


"Malam ini kita tidur bersama ya sayang," ucap Sava kepada sang putera. Satu kecupan lembut mendarat di pipi gembul baby Zee. Dengan penuh cinta dan sayang Sava memeluk bayi laki laki yang ia lahirkan dengan penuh perjuangan dulu. Seorang bayi laki laki yang belum sempat merasakan hangatnya gedongan ayah nya. Dan bahkan sebelum sempat mendengar suara seseorang yang membuat nya ada di dunia ini.



🍁🍁🍁🍁🍁


"Jadi kau sengaja tentang insiden itu. Dan kau juga sengaja mau memeras ku juga" tuduh Sava pada Sam, saat mereka kini sudah duduk saling berhadapan di sebuah cafe.

__ADS_1


"Aku tidak ada niatan memeras mu, aku hanya punya niatan berkomunikasi dengan mu." Jawab Sam berterus terang dengan lembut.


"Memangnya kau siapa" tukas Sava dengan nada ketus.


"Aku memang orang asing Sava, tapi sebetar lagi aku tak akan lagi menjadi orang asing untuk mu."


"Maksudnya."


"Bisa kita berteman mulai hari ini?"


ucap Samieer pada Sava sambil ngulur kan tangan nya. Tapi Sava tak membalasnya uluran tangan Sameer. Sava justru menampakkan wajah cemberut.


"Jadi kau ini sebenarnya siapa ?


"Aku pengagum mu Sava"


"Aku tidak suka orang misterius"


" Jika kau tak suka orang misterius maka kenal kan, nama lengkap ku Edward Samieer. Aku masih kuliah dan aku sedang mangang kerja di tempat kamu bekerja saat ini."


"Maksud mu."


Kemudian Samieer terkekeh.


"Metthew Wilson itu masih kerabat ku. Mendiang papa nya adalah adik Papa ku."


"Jadi kalian sudah saling kenal?" Samieer pun menganguk.


"Apa kalian sekongkol?" tuduh Sava.


"Sekongkol bagaimna maksudmu?


"Soal insiden itu kejadian nyata. Bukankah kau yang menabrak ku." jawab Samieer sambil tersenyum.


"Motor siapa yang kau pake saat itu?" tanya Sava lagi.


"Itu memang motor ku. Kan sudah aku bilang itu motor antik,"


Dan sesaat kemudian, baby Zee terbangun dari tidur nya. Sambil berceloteh tidak jelas baby Zee bergerak gerak dengan aktif di pangkuan Sava.


"Hai baby manis, lucu sekali kamu. Sini uncle gedong." ucap Samieer mengajak baby Zee berinteraksi.


"Jangan sok akrab dengan putraku." Sava berucap ketus.


"Mama mu galak ya Zee," tuduh Sam sambil terkekeh.


"Aku tidak pernah melihat mu di Hotel. Sejak kapan kau ada di sana." tanya lagi Sava, merasa masih penasaran.


"Belum lama Sava, baru beberapa Minggu ini. Aku sedang masih mangang, Papa menyuruh ku belajar dari Metthew bagaimana cara mengelola perhotelan. Karena perusahaan Papa bergerak di bidang konstruksi. Kami berencana membangun sebuah hotel di luar negeri. Sebelum aku terjun ke sana, Papa menyuruh aku belajar."


"Kenapa kau pura pura miskin. Sampai sampai kau memerasku waktu itu? tanya lagi Sava.


"Kan sudah aku jelaskan Sava, aku ingin mengenal mu lebih dekat. Aku sudah sering melihat mu mondar-mandir di lorong-lorong koridor hotel. Aku kagum dengan mu, semangat mu itu luar biasa. Walau kau masih muda. Apa lagi kau sudah menjadi ibu, dan kau juga sudah kehilangan suami mu kan?"


"Dari mana kau tau. Oh, pasti Pak Metthew yang memberi tau mu. Jadi kalian bergosip," tanya Sava sinis.


"Jangan terlalu tertutup Sava. Hidup ini harus di jalani dengan terbuka. Walaupun kadang kita juga perlu membatasi seseorang untuk masuk dalam kehidupan mu. Karena kau juga butuh bersosialisasi."

__ADS_1


Dan perkataan Samieer membuat Sava tertegun.


Kedatangan pelayanan yang mengantarkan pesanan mereka akhirnya membuyarkan kesenyapan antara Sam dan juga Sava kala itu.


"Makan lah, biar aku yang mengendong baby Zee." tawar Sam.


"Aku sudah biasa makan sambil memangku nya." ucap Sava yang kini nampak membenarkan posisi duduk baby Zee.


"Tapi sekarang dia sudah bangun. Berikanlah pada ku, biar aku memangku nya." tawar lagi Sam, sambil sudah siap siaga menarik tubuh baby Zee.


"Kau saja yang makan. Aku makan di rumah nanti." ujar Sava.


"Kau ini. Makanan sudah di pesan masa tidak mau makan. Makanlah dulu an." perintah Sam lagi. Dan Akhirnya Sava pun luluh. Dia membiarkan Sam meraih tubuh baby Zee dari pangkuannya.


"Hari hati." ucap Sava takut.


"Aku sudah biasa. Di rumah, aku juga punya keponakan se usia putra mu."


Sam pun sepertinya sudah terampil mengendong bayi. Meledakkan baby Zee di pangkuannya dan mengajaknya bercanda.


Sam terlihat sangat ramah pada baby Zee. Bahkan Sam mengajak bayi 4 bulan itu berjalan ke sebuah sudut ruangan restauran yang terdapat sebuah aquarium. Sam menunjukkan baby Zee ikan ikan yang berenang di dalam aquarium tersebut. Dan baby Zee juga terlihat senang dan merespon dengan baik.


Ada sebuah perasaan hangat ketika Sava melihat cara Samieer memperlakukan putera nya. Sambil menikmati makanannya, Sava sesekali melihat sang putera yang ada di dalam gendongan Pria yang memaksa untuk menjadi teman nya saat ini.


Dan tak bisa terelakkan, bayangkan Emieer kembali menguasai pikiran nya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah beberapa jam mereka menikmati waktu kebersamaan di sebuah restauran. Kini Sam sedang mengemudikan mobil nya untuk mengantarkan Sava kembali ke kostnya.


Samieer terlihat sangat senang, karena hari itu dia sudah berhasil mengajak Sava untuk hangout dengan nya. Walau hanya sebatas berbincang-bincang hal hal yang ringan.


Dan Samieer merasa lega karena pendekatan pertama nya pada Sava lumayan cair. Sava sudah mau berinteraksi dengan nya lebih hangat. Tidak seperti biasanya yang hanya akan bicara jika di ajak bicara.


Sava sudah mau bercerita walau hanya sedikit. Itu pun hanya seputar hal hal remeh. Bukan tentang soal kehidupan pribadi nya. Sava masih samgat tertutup jika mengenai soal hal pribadi. Bahkan ia selalu mengalihkan pembicaraan jika sudah ke arah urusan pribadi.


"Terimakasih untuk makan siangnya." ucap Sava setelah mobil Samieer kini sudah sampai dan berhenti di depan tempat kostnya.


"Sama sama. Perlu aku bantu mengedong Zee untuk ke kamar kost?"


"Tidak. Terimakasih, aku bisa sendiri." ucap Sava. Kemudian dengan sigap, Samieer keluar dari dalam mobilnya. Dan dengan sedikit berlari membukakan pintu mobil untuk Sava.


"Terimakasih Sava. Sudah mau menjadi teman aku mulai sekarang."


Sava tak menjawab. Dia hanya membalas ucapan Sam dengan senyuman.


Sesampainya di kamar kost. Sava melekatkan baby Zee yang kini tertidur pulas itu di tempat tidur box nya. Sesaat Sava mengamati sang putera yang masih terlelap itu dengan perasaan sedih. Pikirannya kembali melayang layang pada saat tadi dia melihat bagaimana interaksi sang putera bersama Samieer.


Sava kemudian berjalan ke arah nakas, dan meraih foto Emieer. Rasa rindu pada sosok pria tampan di foto itu selalu saja membuat Sava meneteskan air mata. Rasa rindu yang tak akan bisa terobati selalu membuat dadanya sesak. Cinta yang begitu dalam pada suaminya yang sudah tiada masih begitu besar Sava rasakan. Bahkan cinta itu tetap tumbuh.


"Kenapa kau meninggalkan aku sendiri begitu cepat Emieer. Aku tidak sanggup bila tidak ada kau. Jika tidak ada Zee, aku sudah menyusul mu. Aku tidak ingin mengkhianati cinta kita. Aku tidak ingin mengkhianati cinta ku untuk mu. Meski kau sudah tidak ada. Cinta ku untuk mu masih aku jaga." Air mata Sava kian deras mengalir.


"Emieer, Dia membuat perasaan ku bergetar. Dia membuat aku merasakan getaran aneh, getaran yang sama seperti jika aku dekat dengan mu. Tapi aku tidak mau mencintai orang lain, selain diri mu. Aku akan setia untuk mu."


"Maaf kan aku Emieer. Aku akan berusaha untuk tidak jatuh cinta pada nya. Aku akan berusaha menghalau perasaan itu. Tidak akan aku biarkan orang lain masuk di hati ku. Termasuk Samieer. Aku hanya akan mencintai mu."


__ADS_1



__ADS_2