Boss Gila

Boss Gila
Simbiosis Saling makan memakan


__ADS_3

Namun khayalan dan ekspektasi Cindekia tidak terjadi, Gamya malah duduk di kursinya dan membuka laptopnya.


"Bapak sedang apa?" tanya Cindekia bingung.


"Kerja, Sweetie." jawab Gamya singkat dengan memperlihatkan wajah serius, Ia mulai mengotak atik keyboard laptop.


Hah? bukan mau cium- cium?


Jawaban Gamya membuat Cindekia mengerutkan dahi, "Terus kenapa Saya harus tetap duduk di atas sini? gunanya apa coba?" kesalnya karena ternyata hanya dijadikan pajangan meja.


"Bukankah Pria terlihat keren saat sedang bekerja? Aku ingin Kau melihatku sebagai pria keren, bukan pria yang kejam." jawab Gamya datar tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya.


Mendengar perkataan Gamya yang seperti sindiran itu, membuat Cindekia mengambil kesimpulan suaminya tidak terima disebut sebagai orang yang kejam.


"Maaf, sudah mengatakan bapak orang yang kejam," lirih Cindekia mencoba menyesal mengucapkan kata yang tidak disukai Gamya. Tidak seharusnya Ia mengatakan sesuatu yang mungkin akan menyakiti suaminya.


"Hmm... "


"Tetapi kan Bapak memang benaran kejam karena tidak peduli dengan sesama? Kok Bapak nggak kasian lihat dia jatuh." ucap Cindekia kembali lagi berkomentar. Ia bukan hanya wanita yang sulit dimengerti tetapi juga sulit mengerti.


"Kia, hentikan!" tegas Gamya dengan nada sedikit membentak.


Bentakan Gamya membuat Cindekia terdiam, nyalinya menciut. Ini pertama kali Gamya membentaknya setelah resmi menjadi suaminya.


Sementara Gamya melanjutkan pekerjaannya dengan tenang, karena istrinya sudah tidak lagi berkomentar.


Ia membiarkannya karena berpikir mungkin istrinya pergi dan mengamuk seorang diri, Ia memiliki banyak waktu untuk membuat istrinya kembali bersemu merah.


Cindekia yang terus membicarakan orang lain di depannya membuatnya kesal. Bagaimana pun juga nalurinya memanglah kasar.


Gamya tidak bermaksud memarahi Cindekia karena cerewet, Ia hanya ingin istrinya berhenti membuatnya memikirkan hal yang tidak penting, karena ada hal yang lebih penting yang harus dipikirkannya. Ia tidak pernah istirahat dengan pekerjaannya, meskipun sedang berada di Indonesia.

__ADS_1


Jarum panjang jam dinding di ruangan kerja Gamya telah melakukan putaran sebanyak lima kali. Pria itu masih tampak serius melihat layar laptopnya dengan tangan kanannya memainkan kursor.


Ia tidak menyadari dengan keberadaan Cindekia yang masih duduk beriringan dengan laptop di meja kerjanya.


"Sniff!"


Suara endusan Cindekia menyadarkan Gamya, ada orang lain di ruangannya.


"Baby, Kau masih di sini?" Gamya menoleh ke samping dan mendapati istrinya masih duduk di mejanya.


Cindekia menatap Gamya dengan wajah cemberut, tak bersuara.


Ah.... Aku lupa dia bukan wanita cengeng yang langsung lari menangis setelah dibentak. Batin Gamya.


"Bapak suruh Saya tetap duduk di sini," ketus Cindekia menggaruk hidungnya yang gatal.


"Oh," ucap Gamya singkat.


hah? dikacangin lagi? gerutu Cindekia dalam hati.


Setelah menyimpan pekerjaannya, Gamya langsung mematikan laptopnya dan beralih ke istri setianya yang masih duduk di atas meja kerjanya.


Dipeluknya Cindekia seperti melepaskan kerinduan setelah berpuluh- puluh tahun tidak bertemu. Cindekia membalas pelukan suaminya.


Dia merasa gila karena sentuhan hangat suaminya bisa dengan mudahnya menghilangkan kekesalannya karena dibentak dan dianggurin.


Gamya melepaskan pelukannya, kemudian mengurung istrinya dengan kedua tangannya memegang meja sisi kiri dan kanan Cindekia. Wajah keduanya saling hadap hadapan menahan debaran.


"Sayang..., Aku ingin menciummu,"


Gamya tersenyum melihat diamnya Cindekia, diam artinya setuju.

__ADS_1


Cindekia mengalungkan tangannya di leher suaminya, saat Gamya mulai mengecup bibirnya dan Cindekia membalasnya. Ia bukan amatiran lagi.


Cindekia merasa dirinya juga ikutan gila karena hormon endorfin efek dari sebuah ciuman. Otaknya seperti tercuci dan hanya diisi oleh pikiran mesum. Hanya karena Gamya telah sah menjadi suaminya, Ia membiarkan pria itu menciumnya dan mengeksplorasi rongga mulut serta indra pengecapnya.


Akan sangat berbahaya jika dua orang tanpa status yang sah memulai sentuhan fisik.


"Sepertinya Kau siap untuk naik pringkat, Babe" racau Gamya.


"Hah? ummpf.."


Gamya kembali langsung menyerbu bibir istrinya. Kali ini lebih dalam dan sedikit bringas, seperti harimau yang telah menerkam buruannya dan berakhir dengan saling makan memakan. Tangan Cindekia turun dan mencengkram kaos yang dikenakan Gamya. Ia seperti lupa bagaimana cara bernapas.


Gamya menghentikan gerakan indra pengecapnya dan menarik bibirnya dari bibir istrinya, namun tetap tidak memberi ruang. Dapat Ia rasakan hembusan napas berat istrinya yang menerpa kumis halusnya.


"Rileks..., Hun." kata Gamya mencoba membimbing istrinya yang kesulitan bernapas untuk kembali bernapas dengan baik.


Gamya mengelus- elis pipi Cindekia dengan punggung tangannya, "Kia ku yang cantik, mengapa semakin hari Kau semakin cantik?"


"Karena semakin hari, rasa cinta Saya kepada Bapak semakin besar,"


Gamya mengambil tangan Cindekia dan mengecup jemarinya, "Aku suka pipimu yang bersemu saat mencintaiku seperti ini," ucapnya dan mengecup kedua pipi istrinya bergantian.


"Aku suka kedua mata yang mencintaiku ini," ucap Gamya membuat Cindekia menutup kedua matanya.


Gamya tersenyum dan mengecup kedua mata itu.


"Satu-satunya wanita yang ada dalam pikiranku adalah Kau, jadi jangan membuatku memikirkan wanita lain. Kau mengerti?"


Cindekia mengangguk mengerti, Ia tidak ingin suaminya memikirkan wanita lain. Ia hanya ingin suaminya tidak dipandang sebagai pria dingin bin kejam. Meskipun suaminya sudah menjadi menantu yang baik, ya meskipun hanya untuk menyenangkannya, entah mengapa Cindekia merasa ingin melakukan sesuatu yang lebih dan lebih untuk merubah sikap suaminya.


Gamya kembali lagi mencium bibir istrinya, Ia tidak pernah puas dan bosan. Ciuman mereka berakhir dengan saling makan memakan secara lembut.

__ADS_1


__ADS_2