
Cindekia menatap jendela oval di sebelahnya dengan lesuh, bangunan- bangunan yang semakin lama semakin mengecil hingga semuanya menghilang diselimuti awan.
Ia masih tidak percaya pada akhirnya dirinya pergi kembali pulang ke tanah kelahirannya seorang diri. Sejak hari itu, ia tidak pernah lagi bertemu ataupun berbicara dengan calon mantan suaminya.
Setelah resmi bercerai, persidangan yang tanpa dihadiri oleh suaminya, Cindekia memutuskan langsung pergi ke kota yang jauh dari kota saat pertama kali bertemu dengan mantan suaminya, dan menginap di hotel selama beberapa hari untuk memikirkan rencana menata hidupnya pasca perceraian yang tidak ia pikirkan sebelumnya.
Waktu itu, ia hanya emosi sesaat dan perkataannya saat itu membuat suaminya menelantarkannya hingga dua bulan.
Dan sekarang, dia benar- benar menelantarkanku untuk selamanya. Batin Cindekia tidak tahu harus marah atau menyalahkan diri sendiri.
Ia bahkan tidak berani memberitahukan tentang perceraiannya kepada orang tuanya. Pernikahannya yang seumur jagung itu. Bahkan kepada teman- temannya pun tidak.
Tinggal di kota yang asing baginya, Cindekia berharap tidak bertemu dengan orang yang dikenalnya.
Setelah beberapa hari berpikir, ia memutuskan untuk mencari apartemen. Akan sangat aneh jika ia tinggal di sebuah rumah kecil yang memiliki tetangga di kanan kiri, dan hidup seorang diri dengan statusnya yang kini telah janda dan pengangguran.
Ia ingin tinggal dimana tidak ada tetangga yang saling menyapa, dan menggosip.
__ADS_1
Sudah seminggu ia tinggal di apartemen kecilnya. Dan selama itu juga lah ia terus melihat layar ponselnya, berharap mantan suaminya menghubunginya atau sekedar menanyakan kabar.
Namun tidak ada panggilan atau pesan masuk satupun dari mantan suaminya. Hanya pesan tawaran pinjam online yang selalu ia terima hampir setiap harinya.
ia belum memutuskan mencari pekerjaan baru, karena masih fokus kegalauannya. Ia adalah pengangguran dengan tabungan yang bisa dinikmati hingga puluhan tahun.
Meski ia telah menghabiskan selusin bungkus tissue untuk menghapus air matanya, kenangan kebersamaannya dengan Gamya tidak juga hilang dari kepalanya. Dan itu membuat hatinya seperti ditekan oleh sesuatu yang membuatnya kesulitan bernapas.
Pagi itu tepat dua minggu ia telah tinggal di apartemen kecilnya tanpa pernah keluar, ia masih ingin menangis, tetapi sumber air matanya telah kering.
Dengan mata bengkaknya, ia membuka kulkas. Ia memiliki banyak persediaan makanan instan di sana.
Ada sebuah kolam renang di bawah. Dua minggu lalu ia tidak begitu memperhatikannya. Ternyata apartemen kecil yang harganya sedikit miring memiliki fasilitas kolam renang.
Cindekia memutuskan untuk mengakhiri masa bermuram durjanya sejenak, dan pergi mencari udara segar di luar.
Ia membuka koper yang belum sempat ia benahi, dan mencari pakaian apa yang bisa digunakannya. Sudah dua hari dia tidak mandi. Sebuah hoodie berwarna peach dan celana training berwarna cream.
__ADS_1
Cindekia menyempatkan diri melihat cermin besar yang terpasang di ruang tengah. Apartemen kecilnya hanya memiliki satu ruangan berukuran 3x6 yang menyatukan dengan dapur, dan satu kamar tidur.
Sepasang mata bengkak terlihat di cermin itu. Tetapi ia tidak peduli. Karena di kota itu tidak ada orang yang mengenalnya. Mengapa harus peduli?
Sementara itu di benua lain, ada Adi yang dilanda kesulitan. Bosnya selalu menghilang di saat saat acara penting perusahaan.
Bukan hanya Adi, sekretaris Gamya juga dibuat stress karena harus menghadapi amukan para petinggi yang menjadi korban php Gamya.
Pagi itu, Adi terus menghubungi nomor ponsel Gamya yang tidak juga dijawab, sementara utusan dari perusahaan semikonduktor telah tiba sepuluh menit yang lalu.
Adi yang gelisah berdiri di depan ruang meeting akhirnya bisa bernapas dengan lega setelah melihat batang hidung Gamya dari kejauhan.
Pakaian apa yang dikenakannya? batinnya tidak tenang.
Gamya melepaskan topi memancingnya, dan menyerahkannya kepada Adi begitu sampai di depan pintu ruang meeting.
"Tunggu sebantar, apakah Anda akan masuk ke dalam seperti ini?" tanya Adi menahan Gamya.
__ADS_1
"Ya, Aku baru pulang dari memancing," jawab Gamya enteng dan bergegas masuk.
"Astaga, apa yang dipikirkannya?!" gumam Adi, dan ikut bergabung ke dalam ruang meeting.