
"Aku langsung memutuskan untuk kembali begitu mendengar Kau jatuh dari tangga."
Pengakuan Gamya membuat Cindekia merasa tidak enak, "Pak, Saya jadi membuat Bapak membatalkan visitasi, padahal Saya hanya terkilir. Seperti yang Bapak lihat, Saya baik-baik saja," ungkap Cindekia.
"Aku sudah tahu Kau hanya terkilir," Gamya dengan tenang mendudukan pantatnya di atas tempat tidur Cindekia. Ia melanjutkan unboxing ayam yang tadi dilakukan Cindekia. "Jangan membuat dirimu terluka."
"Buka mulutmu!" Gamya sudah menyodorkan sesendok nasi di depan mulut Cindekia.
"Pak, tangan Saya baik-baik saja," ujar Cindekia semakin merasa tidak enak dengan bosnya.
"Aku tahu." Sendok itu tetap dalam posisi yang sama.
Melihat Gamya yang sedari tadi sangat datar dan terlihat serius, membuat nyali Cindekia menciut. Ia terpaksa membuka mulutnya.
Ia hanya terkilir, bukanlah hal yang serius. Mengapa sangat berlebihan? Gadis itu sedikit terusik dengan keseriusan Gamya tentang kakinya yang keseleo. Ia bahkan dengan mudahnya membatalkan visitasinya.
Bukan kah ini tidak masuk akal?
Untuk seseorang karyawan yang kebetulan melakukan pekerjaan khusus untuknya?
Selain orang tuanya, ini pertama kalinya ada seseorang memprioritaskan dirinya.
__ADS_1
"Pak, apakah Bapak memperlakukan semua karyawan bapak seperti ini?" tanya Cindekia setelah menghabiskan nasi di mulutnya.
Jika boleh berharap, entah mengapa dirinya sangat berharap hanya dirinya saja yang diperlakukan istimewa oleh Gamya.
Gamya kembali lanjut menyuapi Cindekia, "ternyata mereka tidak memeriksa kepalamu dengan benar. Apa Kau lupa kalau Aku adalah pacarmu?"
Ada sesuatu yang menarik perhatian Cindekia dari Gamya yang sedari tadi bersikap dingin kepadanya.
Ia ingin melakukan hal sama yang pernah dilakukan Gamya kepadanya. Namun Ia ragu, dan akhirnya memutuskan untuk tidak melakukannya.
"Baby, apa yang sedang Kau lakukan?" tanya Gamya yang akhirnya sedikit melunakan suaranya.
"Hah?" Cindekia menatap Gamya bingung dan segera menarik tangannya dari kepala Gamya.
"Begitu, kalau begitu Kau harus memastikan rambutku benar-benar bersih." Gamya mendekatkan dirinya kepada Cindekia dan menyodorkan kepalanya.
"Baik, Pak." Kali ini tangan Cindekia menuruti pikirannya.
Cindekia senang Gamya kembali bersikap hangat kepadanya. Ia tidak benar-benar membersihkan sampah fiktif, tetapi menyisir rambut Gamya dengan jarinya.
"Sepertinya ada banyak sampah, Pak," canda Cindekia. Ia tersenyum geli mengapa dirinya menjadi kekanak-kanakan memainkan rambut bosnya.
__ADS_1
"Benarkah?" Gamya mengangkat wajahnya, dan membuat wajah mereka saling berhadapan. Ia ingin mengambil kesempatan untuk mencium bibir yang sering memanggil-manggil indra pengecapnya, merasakan manisnya bibir gadis itu.
Cindekia hanya diam mematung menahan debaran jantung dan napasnya, Ini bukan kali pertama posisi mereka dekat seperti ini. Dengan pikiran kosong Ia membiarkan Gamya yang semakin mendekat.
Saat satu inci lagi Gamya berhasil menyalurkan niatnya, Ia tersadar dan segera menjauhkan dirinya.
"Baby, Kau lanjutkan makannya, Aku akan menemui dokter untuk memastikan kepalamu baik-baik saja," kata Gamya terbata-bata dan segera keluar.
Tinggallah Cindekia dengan kebingungannya menatap kepergian Gamya. "kepalaku baik-baik saja," gumam Cindekia yang telah mengeluarkan napas lega.
Siapa yang memberitahunya Aku jatuh dari tangga? pak Damar?
"Aku adalah pacarmu," Cindekia menirukan suara Gamya dan senyum sendiri. Ia tidak tahu akan sesenang ini mendengarnya.
Bagaimana bisa status mengalahkan cinta?
Tiba-tiba terbesit dihatinya meragukan perasaan Dyan kepadanya.
Mengapa Aku bisa menyukai Dyan?
"Mengapa Aku jadi bingung sendiri karena sikap pak boss? mungkin karena kelamaan jomblo. Ya pasti begitu," Cindekia bermonolog dengan pikirannya.
__ADS_1
Hatinya kini ingin meledak-ledak membayangkan Gamya yang langsung terbang mendatanginya, hingga Ia lupa dengan rasa lapar. Normalnya dua sendok tidak akan membuatnya kenyang.
Sementara itu di luar, Gamya sedang menasehati pikirannya yang baru saja berpikir kotor.