Boss Gila

Boss Gila
Bukan sosipat


__ADS_3

"Kau iblis! Mengapa? mengapa Kau tidak membunuhku saja?!" Cindekia memukul Gamya sekuat tenaga, berharap pria itu balas memukulnya.


Sekelebat bayangan wajah polos Erlin muncul di benak Cindekia. Ia merasakan perasaan bersalah yang mendalam. Bahkan menyebut nama temannya itu, Ia sudah tak mampu lagi.


"Aku tidak akan melakukannya, karena Aku menyukaimu," Gamya menghapus lembut jejak air mata di pipi Cindekia. "Aku tidak suka melihatmu menangis."


Pelayan wanita tadi kembali datang, Ia datang bersama makanan yang baru lagi.


Mata Cindekia mengikuti perjalanan troli makanan dengan nampan berisi semangkuk nasi dan sup panas yang semakin lama semakin mendekatinya.


"Apakah Kau pikir Aku bisa hidup? setelah Kau membunuh temanku?" Cindekia menggeleng. "Tidak, Aku tidak bisa."


Gamya tidak mendengarkan ancaman Cindekia, dia memilih mengambil nampan yang sudah tiba di hadapan mereka. "Jika Kau tidak memakannya, maka dia yang akan berikutnya mati," ancam Gamya enteng.


Wanita yang dimaksudkan Gamya tetap berdiri dengan tenang, karena ia tidak mengerti apa yang dikatakan tuannya.


"Aku membencimu!" Cindekia mengambil makanannya dari tangan Gamya dengan isak tangis.


Gamya tersenyum puas melihat Cindekia akhirnya termakan ancamannya. Ia bukan psikopat, entah mengapa istrinya selalu berpikir terlalu jauh tentangnya. ia hanya memecat dan memulangkan Erlin kembali ke negara asal.


Cindekia menyendok makanannya diiringi sesegukan. Bagaimana bisa dia menjadi sekejam ini?


Tidak butuh waktu lama, Cindekia menghabiskan makanannya.

__ADS_1


"Apakah Kau benar-benar membunuh temanku?" isak Cindekia lagi setelah pelayan wanita membawa bekas makanannya pergi.


"Menurutmu?"


"Aku ingin pulang, Aku tidak ingin hidup bersamamu lagi," lirih Cindekia.


"Jika Kau menganggapnya teman, Kau tidak akan menyeretnya untuk menentangku."


Cindekia memalingkan wajahnya mendengar pernyataan yang ada benarnya dari suaminya, "Aku ingin bercerai,"


"Jangan mengucapkan kata yang tidak Aku suka, Sayang." Gamya mengusap lembut pipi istrinya dengan punggung tangannya. "Atau Aku akan memotong lidahmu, agar Kau tidak bisa mengatakan kata itu lagi."


Cindekia menelan ludah, dan lekas melihat ke arah orang yang akan memotong lidahnya. Dia serius?


"Di mana ponselku?" tanya Cindekia, sejak di rumah sakit ia tidak tahu dimana ponselnya.


"Aku membencimu, Kamu gila!" pekik Cindekia.


Gamya mencengkram lengan Cindekia, hingga merebahkannya di atas tempat tidur. "Sayang, bukan kah Kau harusnya mengatakan maaf?


".... " Cindekia tidak bersuara, ia sibuk berusaha melepaskan cengkraman suaminya.


Dia ingin membunuhku?

__ADS_1


Gamya melepaskan cengkramannya begitu menyadari wajah istrinya mulai memerah, "Honey, maaf.. "


Cindekia yang telah bisa bernapas dengan lega segera menyingkir dari hadapan Gamya. Ia duduk memeluk lututnya di sudut tempat tidur, dan memandang takut kepada suaminya yang sepertinya serius ingin membunuhnya.


"Sayang, Kau tidak apa- apa?" Gamya mencoba mendekati istrinya.


Dia jadi ketakutan, batin Gamya menyesali perbuatannya. Ia lepas kendali menahan emosinya.


Cindekia yang baru saja mengalami KDRT menjadi tidak berkutik. Ia bahkan tidak berani bersuara. Apakah Aku baru saja mengalami kekerasan dalam rumah tangga?


"Aku tidak ingin bertengkar denganmu, Aku hanya ingin hidup nyaman denganmu," Gamya mengurungkan niatnya untuk memeluk istrinya,


Tanpa suara Gamya pergi meninggalkan Cindekia yang masih terlihat ketakutan.


Ia pergi mandi membersihkan tubuhnya sekalian juga pikirannya.


***


Cukup lama Gamya membiarkan air shower terus membasahi kepalanya. Tetapi pikirannya belum juga jernih.


Ia tidak tahu bagaimana cara membuat hubungannya dengan Cindekia kembali menjadi seperti semula. Sejatinya ia tidak menginginkan pernikahan yang akan membuat hidupnya menjadi rumit.


Dirinya memutuskan untuk menikah karena ingin wanita yang selalu ingin ia lihat setiap hari itu bisa ia sentuh, dan selalu ada di sisinya.

__ADS_1


Kau ingin anak? Aku tidak siap untuk itu. Batin Gamya kesal


Brak! Gamya memecahkan cermin kamar mandi melampiaskan kekesalannya.


__ADS_2