Boss Gila

Boss Gila
Delusi atau nggak ini ya


__ADS_3

"Pak, Anda tidak tidur lagi semalaman?" tanya Adi bernada introgasi kepada Gamya yang tengah serius membaca layar laptopnya, setelah selesai menandatangani kontrak kerja sama dengan salah satu perusahaan semikonduktor.


"Hmmm..."


Adi meletakkan berkas yang dibawanya di atas meja Gamya, "Pak, Anda tidak bisa begini terus. Sebaiknya Anda menelpon nyonya, dan mengajaknya untuk rujuk, Anda membutuhkannya," saran Adi.


ia tahu bosnya itu banyak terguncang setelah bercerai dengan istrinya, karena sangat terlihat. Pagi ini bosnya pulang dari memancing, kemarin pulang dari hiking, dan kemarinnya lagi pulang dari berkemah, besok- besok entah apalagi.


"Apa yang diketahui oleh orang yang belum pernah menikah sepertimu?"


Adi berdecak, "Saya lebih banyak memiliki pengalaman patah hati. Dibandingan dengan Anda yang tidak memiliki pengalaman apapun, tetap saja Anda harus lebih banyak belajar kepada saya," kata Adi menyombongkan diri.


"Patah hati?" tanya Gamya.


"Ya putus cinta, cinta ditolak, dikhianati, orang tampan seperti Anda, Akhirnya merasakan juga yang namanya patah hati," ucap Adi.


Gamya memikirkan perkataan Adi, dan kemudian menghela napas. Asistennya benar, dirinya tidak pernah patah hati. Ia tidak pernah serius menyukai pacar- pacar terdahulunya, ia lebih menyukai hubungan fisik.


Cindekia berbeda, ia menyukainya. Namun, semakin dalam ia menyukai wanita itu, ia semakin tidak ingin menyakitinya.


"Keluarlah!" perintahnya kemudian kepada Asistennya itu. Bersamaan dengan itu, sekretarisnya menghubunginya melalui intercom di mejanya.


"Miss Egon is here,"


"Let her in," jawab Gamya singkat, dan beralih kepada Adi yang baru saja diusirnya tapi masih dalam perjalanan menuju pintu keluar.


"Tunggu! tetaplah di ruanganku!" perintah Gamya kepada Adi.


Adi yang mendengar perkataan sekretaris Gamya, segera berbalik badan dan tertawa memahami tugas dadakannya.


"Baik," ucapnya pasrah melihat bosnya yang telah menghilang di balik pintu ruangan pribadinya.


Ruangan pribadi itu juga memiliki pintu keluar yang menembus sisi lain gedung.


"Kau lagi?" kata pertama yang dikeluarkan Norah setelah berdiri di ambang pintu, begitu pintu itu dibuka sekretaris Gamya.


Wanita itu terlihat kesal, ia pikir setelah beberapa hari berteman akrab dengan Gamya, hubungannya akan semakin baik. Tetapi ia salah, setelah Gamya menandatangani kontrak dengan perusahaan ayahnya, pria itu seperti bunglon yang berubah-ubah. Dan juga sulit untuk bertemu dengannya.


***


Langit di sore hari masih terlihat cerah. Setelah pagi hari berjalan di sekitar gedung apartemen, Cindekia jadi menyadari daerah tempat tinggalnya dekat dengan sebuah lapangan terbuka yang selalu aktif diisi oleh aktivitas berbagai ragam manusia.


Di sepanjang jalan yang berhadapan dengan lapangan itu dipenuhi oleh berbagai macam orang berjualan makanan. Singkatnya jajanan pinggir jalan.


Setelah mandi sore, ia mengenakan pakaian tidur, kaos dan celana panjang motif panda. Dan dengan santai berjalan mengitari lapangan. Sepertinya ia masih belum move on, dan kembali ke kehidupan normalnya.


Sebuah stand waffle es krim yang dikerubungi banyak pembelian menarik perhatiannya. ia memutuskan untuk ikut mengantri daripada berjalan tanpa tujuan.

__ADS_1


Sementara sosok Cindekia yang tiba-tiba datang ikut berdiri di depan stand waffle es krim, menarik perhatian penjualnya.


Ia seperti tidak asing dengan wajah calon pembelinya itu. Sembari melayani pembelinya yang didominasi oleh wanita, ia terus mencoba mengingat tentang sosok Cindekia.


Saat tiba giliran Cindekia, ia memberikan banyak ekstra ice cream di atas waffle pesanan Cindekia.


"Hallo!" sapa pria penjual es krim itu, Endra bernada akrab kepada Cindekia.


Cindekia fokus mengambil waffle es krimnya, tanpa memperdulikan sapaan pria itu. Ia berlalu begitu saja setelah menyerahkan uangnya.


Siapa dia? mengapa ada yang mengenalku? Pura-pura tidak kenal saja, batin Cindekia dan mempercepat jalannya menjauhi stand waffle itu.


Sementara Endra tersenyum melihat Cindekia yang terlihat berjalan terburu-buru dengan pakaian tidurnya.


"Maaf, es krimnya sudah habis," ucapnya tersenyum ramah kepada calon pembeli berikutnya.


Endra menutup standnya, dan menyusul Cindekia. Ia ingin tahu apa yang dilakukan Cindekia di kota itu. Melihat pakaian yang dikenakan Cindekia, ia yakin gadis itu tinggal di sekitar lapangan tempatnya biasa mangkal.


Dirinya hanya dua kali bertemu dengan Cindekia, dan masih mengingat gadis itu karena


wajahnya sulit untuk dilupakan.


Seperti stalker, ia mengikuti Cindekia hingga ke apartemen.


#####


"Abang ini kerja apa saja dan dimana saja ya?" tanya Cindekia saat Endra sedang menghitung barang belanjaannya.


Sudah lama ia ingin bertanya, ia akhirnya ingat sosok pria di depannya adalah petugas hotel yang juga ojek online dan sekarang berada di kota yang sama dengannya. Masih tetap dengan multi pekerjaan. Kemarin penjual waffle, tukang angkat barang orang pindahan, dan kasir minimarket di bawah apartemen.


Endra tersenyum, "totalnya lima puluh dua ribu tiga ratus rupiah. Ada tambahan lagi?"


Cindekia menggeleng dan memberikan uangnya.


"Uangnya enam puluh ribu ya Kak," ucap Endra setelah mengambil uang Cindekia. "Apa Kakak menyukai musik klasik?" tanyanya sembari mengetik layar monitor di depannya.


"Ya?"


Endra kembali tersenyum menyerahkan kembalian uang Cindekia, serta sebuah tiket, "Kembaliannya tujuh ribu tujuh ratus rupiah, dan hadiah tiket konser sebagai pembeli ke seratus hari ini," ucap Endra asal berbohong. Ia ingin mengajak Cindekia nonton konser.


"Oh, wow. Terima Kasih," Cindekia menerimanya dengan datar.


"Apakah kakak akan datang?" tanya Endra.


"tentu," Cindekia mengambil plastik belanjaannya dan segera berlalu pergi meninggalkan minimarket.


Ia berpikir dirinya sangat beruntung, hanya belanja lima puluh dua ribu tetapi mendapatkan tiket seharga tujuh ratus ribu. Meskipun itu tiket kelas yang paling murah.

__ADS_1


tentu saja dirinya akan datang ke konser itu lusa malam.


Beruntung ia sedikit waras malam itu. Dia mengenakan pakaian yang pantas dan berdandan yang cantik untuk pergi ke konser, dan tiba tepat waktu.


Cindekia tidak begitu terkejut saat menjumpai Endra sudah duduk di kursi sebelahnya. Mereka menikmati pertunjukkan pianis dari luar negeri itu dengan khidmat dan tanpa bicara hingga pertunjukannya berakhir.


"Apakah Kamu menyukaiku?" tanya Cindekia saat Endra hendak berdiri dari kursinya. Ia kembali menjadi sedikit kurang waras. "Aku adalah wanita yang pernah menikah. Permisi," katanya kemudian dan pergi meninggalkan Endra, keluar dari aula.


Sementara Endra masih terdiam di tempatnya, ia bingung tidak tahu harus bagaimana. Apakah pendekatannya di tolak atau diterima.


Cindekia kembali pulang ke apartemennya dengan taksi online.


Seseorang ikut masuk ke dalam lift bersamanya saat pintu lift gedung apartemen hendak tertutup, dan tiba-tiba orang itu menarik Cindekia ke dalam pelukannya.


Cindekia ya belum sempat melihat wajah orang asing yang tiba-tiba saja memeluknya, membatalkan niatnya untuk memberontak setelah mengenal aroma pria itu.


"Aku merindukanmu," bisik Gamya mempererat pelukannya, mencium dalam aroma shampo Cindekia.


Ia melonggarkan pelukannya, dan menatap Cindekia yang juga mendongak menatap ke arahnya.


Cindekia langsung mencium bibir Gamya, orang yang membuatnya kehilangan akal sehatnya dua bulan terakhir.


Ciuman membara itu terus berlanjut hingga di dalam apartemen Cindekia, dan berakhir di atas tempat tidur.


Setelah menghabiskan malam puanas yang panjang, keesokan paginya Cindekia terbangun dengan senyum di wajahnya.


Namun garis senyumnya menghilang setelah menyadari dirinya hanya sendiri di kamarnya. Di tempat tidur yang hanya berukuran double bed itu, hanya ada Cindekia seorang.


"Aku benar-benar gila, hingga memimpikan sesuatu yang sangat nyata," gumamnya dan segera beranjak keluar dari kamarnya.


Mencari keberadaan Gamya. Mungkin sedang memasak.


Tidak ada sesiapapun di sana, dapurnya kosong dan bersih. Tidak ada juga tanda- tanda kehidupan di kamar mandi.


"Apa Aku perlu menemui psikiater? Aku benar-benar gila," gerutu Cindekia menatap keluar jendela apartemennya.


Ia terlihat frustrasi karena masih merasakan malam erotiss itu di tubuhnya.


_____________ πŸ™ˆ


.


π™‹π™šπ™§π™žπ™£π™œπ™–π™©π™–π™£ : bagi yang tidak bisa membaca sad ending, jangan membaca bab selanjutnya.


Terima Kasih πŸ˜˜πŸ’•.


Anggap saja orang tuh dua kembali rujuk dan bahagia untuk selamanya 🐼

__ADS_1


__ADS_2