Boss Gila

Boss Gila
Poor Ganeeta


__ADS_3

Setelah menghabiskan buburnya, Cindekia segera membereskan barang penting yang akan diangkut ke rumah baru.


Ia tidak bisa lebih lama lagi tinggal di lingkungan yang sama dengan Norah, meskipun suaminya mengatakan tidak akan berselingkuh. Cinta hadir karena terbiasa.


Ia istirahat sejenak karena merasa lelah membersihkan apartemen yang tidak begitu luas, namun ada banyak barang yang harus ia angkat.


Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Seseorang mengirimkannya sebuah video yang sukses membuat kedua bola matanya melotot tajam.


"Apa yang mereka bicarakan?" gumamnya kesal melihat suaminya yang sedang tertawa bersama Norah di layar ponselnya.


"Aduh!!" rintihnya saat hendak berdiri tiba-tiba perutnya terasa keram.


Mengapa sakit sekali?


Dibukanya layar utama ponselnya, ia berniat ingin menghubungi suaminya. "Tidak, Aku tidak boleh ke rumah sakit bersamanya."


Dengan tertatih-tatih Cindekia keluar dari apartemen, dan mencari taksi pesanannya.


"Bruk!" dirinya ambruk, jatuh pingsan sebelum menemukan taksinya.


***


Di salah satu kamar rawat inap sebuah rumah sakit, tampak Cindekia sedang tertidur di atas tempat tidur pasien. Sepasang bola mata tidak lepas darinya.


Gamya masih tidak bisa mempercayai apa yang telah ia dengar. Istrinya berhasil membohonginya hingga sejauh ini.


Saat sadar, hal yang pertama terlihat oleh Cindekia adalah ruangan serba putih, dan tercium bau rumah sakit.

__ADS_1


"Kau sudah sadar?" suara tanya Gamya mengagetkan Cindekia. Spontan ia memegang perutnya yang masih terasa sedikit nyeri.


Tatapan tajam Gamya membuat Cindekia menciut, ditambah separuh badannya kram. Singkatnya ia tidak berdaya. Air mata mengalir keluar dari sudut matanya.


Gamya menghapus jejak air mata di pipi Cindekia dengan jempol kanannya.


Cindekia menepis tangan yang mengusap wajahnya, "Katakan padaku, apa yang terjadi?" rintihnya.


"Kau baru saja kehilangan. Istirahatlah, kita akan pulang setelah kondisimu lumayan membaik," katanya kemudian mengecup kening istrinya, dan berjalan pergi.


Cindekia dengan cepat memegang tangan Gamya, menahannya untuk tidak pergi, "Apa yang Kamu lakukan kepadaku?!" rengeknya dengan bibir yang bergetar, dan raut wajah frustasi. ia tidak pernah mengalami rasa sakit yang sesakit itu.


Gamya melepaskan tangan rapuh yang memegang tangan kanannya, "Aku menyukaimu, Aku tidak akan melakukan apapun kepadamu walaupun Kau mengkhianatiku."


"Kau membunuhnya kan? Aku membencimu!" tudingan Cindekia menghentikan langkah Gamya yang hendak menuju pintu keluar.


Brak!! seseorang membuka pintu sebelum Gamya membukanya.


Astaga, membuat kaget saja! batin Gamya kesal melihat ayahnya tiba-tiba membuka pintu.


"Bagaimana bisa terjadi ini?!" Lenart bertanya marah kepada Gamya.


Sementara Wening menghampiri Cindekia dengan tatapan sendu, "Sayang, Mami sangat menyesal Kau harus melalui ini," katanya lembut sembari menggenggam tangan Cindekia.


"Tidak apa-apa, Kalian selalu dapat memiliki bayi lagi," kata Lenart mencoba menghibur Cindekia. Tetapi kalimatnya justru membuat orang yang dihibur menjadi kesal.


Cindekia mencoba untuk duduk di tempat tidurnya. Orang-orang yang ada di ruangannya membuatnya kesulitan bernapas.

__ADS_1


"Sayang, Kau ingin pergi mana?" Gamya menahan tubuh istrinya.


Cindekia sekali lagi menghempaskan tangan gamya yang menyentuhnya, "Jangan menyentuhku!" hardiknya dengan tubuh gemetarnya.


Gamya menahan kembali Cindekia yang mencoba untuk turun dari tempat tidurnya. Meskipun Cindekia memukulkannya, ia tetap memeluk erat istrinya.


"Dia bahkan belum memiliki nama, mengapa Kau tega membuangnya? Kau tidak ingin memiliki anak denganku kan? tapi dia milikku! dia tumbuh di rahimku,"


Mengapa Kau diam saja? kumohon, menyangkal lah..., Aku ingin Kau berbohong kepadaku. Aku tidak ingin percaya Kau mengugurkan kandunganku.


Bukan hanya Lenart dan Wening yang mendengar pernyataan Cindekia, tetapi Ganeeta yang baru tiba juga mendengarnya.


"Gamya! benar kah yang dikatakan istrimu?" Lenart meminta penjelasan putranya. Dia menginginkan keturunan.


Honey, haruskah Aku memberitahumu? putra kita menikah kontrak dengan wanita ini. Baguslah jika putraku sadar. Keturunanku tidak boleh lahir dari wanita ini. Batin Wening.


"Aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu Ayah," jawab Gamya dingin.


"Kau...!" Lenart tidak bisa berdebat dengan putranya. ia masih memiliki seorang putri yang kebetulan juga hadir.


"Gane! Aku akan berhenti suport hobi non-profit yang Kau lakukan!" tegas Lenart kepada Ganeeta, dan pergi meninggalkan ruang rawat inap Cindekia.


"Apa?" pekik Ganeeta. "Ati, mengapa Kau menghukumku?" protes Ganeeta tidak terima ayahnya yang menjadikannya sasaran kemarahan.


"Mami?" Ganeeta meminta belas kasihan ibunya. Namun Wening mengabaikannya, dan mengikuti suaminya.


"Kau harus belajar menjadi wanita dewasa dan menikah Gane," kata Wening sebelum menghilang di balik pintu.

__ADS_1


Ganeeta mendengus kesal menatap Gamya yang masih berusaha menenangkan Cindekia. Mengapa Ati tidak menghukummu?! batinnya kesal, dan pergi menyusul kedua orang tuanya. Mungkin ayahnya mau merubah keputusannya.


__ADS_2