Boss Gila

Boss Gila
Saya penggemar siapa


__ADS_3

🐼🐼 Hai.. Selamat membaca cerita selanjutnya,


mohon dukungannya, like dan komen.


favorite jika suka.


Sampai jumpa lagi jika tidak suka, jangan lupa follow author sebelum pergi🐼


Cindekia memutuskan untuk pergi ke rumah Gamya.


"Apa yang membuatmu datang kemari?" tanya Ganeeta menyambut kedatangan Cindekia di rumah yang kini sudah Ia anggap menjadi miliknya.


"Itu, ada yang ingin saya tanyakan," ucap Cindekia ragu-ragu. Sedari tadi dia mencoba menghubungi Gamya, nomornya masih tidak aktif.


Tiba-tiba air muka Ganeeta berubah menjadi bersahabat, dia menyambut Cindekia dengan senyum. "Masuklah, ayo!" Gadis itu menuntun Cindekia masuk ke dalam rumah.


Dengan canggung Cindekia duduk di sofa tamu. Dia tidak terlalu akrab dengan adik bosnya.


"Kau ingin minum apa?" Ganeeta membuka kulkasnya mencari apa yang bisa Ia berikan untuk tamunya.


"Tidak apa-apa, tidak perlu repot Kak,"


Ganeeta menyuguhkan air mineral untuk tamunya. "Bagaimana kalau kuberikan Kau bukuku saja ya, sebagai ucapan terima kasih." Ganeeta pergi ke rak buku dan mencari sesuatu.


"Ucapan terima kasih?" tanya Cindekia bingung.


"Benar, terima kasih karena Kau sudah menolak Gamya," Ganeeta memberikan buku terbarunya kepada Cindekia.

__ADS_1


Cindekia menerimanya dengan terkejut, "Ini? bagaimana Kakak tahu saya penggemar GN Au?"


apa pak Gamya yang memberitahunya?


"Kau penggemarku?" Ganeeta bertanya heran


"Saya penggemar Kakak?" Cindekia bertanya lebih heran lagi.


"Kau tidak mengenalku?"


"Lho kakak adalah penulis GN Au?"


Dan Cindekia menjadi lupa apa tujuan kedatangannya. Mereka berdua akhirnya sibuk mengambil foto bersama dan saling berbagi cerita. Membagikan moment bersama di social media.


"Ah iya, Kak. Kedatangan saya kemari karena ingin menanyakan Pak Gamya, saya coba hubungi nomornya tidak aktif." tiba-tiba Cindekia teringat dan mencoba kembali ke tujuan awalnya.


"Tidak aktif?"


"Iya," jawab Cindekia singkat.


"Mungkin dia lupa menghidupkan ponselnya karena besok dia akan menikah," ucap Ganeeta asal bicara.


"Menikah?!" teriak Cindekia kaget tidak percaya atau tidak rela, beda tipis.


ternyata mimpiku benar-benar sebuah firasat buruk. Pikir Cindekia berlebihan.


kekagetan Cindekia yang di luar batas kewajaran membuat Ganeeta ikut kaget. "Mengapa kau kaget begitu mendengar anak itu menikah?"

__ADS_1


"Ah, tidak bukan begitu," jawab Cindekia panik.


Ganeeta menajamkan penglihatannya, menyelisik gadis yang duduk di sebelahnya. Apa dia menyukai Gamya?


"Aku tahu kalian bersandiwara selama ini, dan pada akhirnya Gamya tidak bisa membuatmu menyukainya, singkatnya dia kalah taruhan," jelas Ganeeta bangga akan dirinya.


"Kalah? bukannya Pak Gamya sudah ada kekasih yang baru?"


"Kekasih? anak itu?" Ganeeta meremehkan dan tertawa, "dia tidak memiliki kekasih, tetapi dia akan memiliki istri besok. Apa kau tahu, siapapun yang kalah taruhan harus menerima menikah dengan siapa saja."


"Siapa saja?" tanya Cindekia hati-hati.


Apakah wanita yang akan membuat pak Gamya kesulitan?


"Jangan kaget, ini semua karena berkat dirimu," Ganeeta tersenyum memancing rasa bersalah Cindekia.


"Kakak, bisakah saya bertemu dengan Pak Gamya?" pinta Cindekia.


Ganeeta mendekat ke arah Cindekia. "Apa kau berniat ingin menghentikan pernikahannya?"


"Iya, jangan menghalangi Saya," jawab Cindekia mantap, dia ingin tahu mengapa Gamya membatalkan kontrak yang akan merugikannya.


Ganeeta tertawa dan berkata, "maka pergilah ke Slovenia."


"Slo ve nia?"


Ganeeta mengangguk mengiyakan, "Hmm.. "

__ADS_1


"Tetapi itu terlalu jauh, Saya tidak bisa."


"Kenapa?" Ganeeta mengambil kedua tangan Cindekia, "aku akan mengirim orang untuk menjemputmu di Bandara Ljubljana," ucapnya bersemangat.


__ADS_2