Boss Gila

Boss Gila
Ngidam kayaknya


__ADS_3

"Sayang!" panggil Cindekia. Ia berpose memamerkan anting barunya.


"Cantik, kemarilah!"


Langkah Cindekia terhenti ketika tiba di meja dapur. Ada suatu perasaan yang mencoba menahannya. ia tidak suka dekat- dekat dengan suaminya.


"Ada apa?" tanya Gamya yang tengah membakar potongan daging sapi di teflon.


"Tidak," geleng Cindekia melanjutkan langkahnya mendekati daging yang tengah terpanggang. "Sudah bisa dimakan?"


"Aa..." Gamya menyodorkan satu tusuk sate ke mulut istrinya.


Cindekia mengambil tusuk sate dari tangan Gamya dan memakannya.


"Baby,"


"Ya?"


"Tidak, bukan apa- apa,"


"Ok," Cindekia kembali mengambil tusuk sate yang masih terpanggang di teflon dan memakannya.


Gamya hanya bisa bingung melihat istrinya, Mengapa suasananya tidak berubah? Bukankah seharusnya Kau memelukku? atau menciumku? Aku sudah mengucapkan selamat ulang tahun.


Gamya mematikan kompor, dan mendorong istrinya hingga mereka mentok di meja dapur. Batas yang memisahkan ruang makan dan dapur. Tusuk sate terlepas dari tangan Cindekia.


"Ada apa?" Cindekia berusaha melepas diri dari Gamya.


"Peluk Aku!"


Aroma tubuh yang biasanya ia suka, kini mendadak membuatnya tidak nyaman.

__ADS_1


"Kau tidak mau melakukannya?" Gamya menatap tajam.


Cindekia menalan ludah, nalurinya selalu saja takut dengan Gamya. Dengan patuh ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya, dan menahan rasa tidak nyaman yang mengganggu indranya.


Gamya mengukir senyum di wajahnya, dan mengecup puncak kepala istrinya. "Begini lebih baik,"


"Sayang satenya belum selesai," Cindekia melepaskan tangannya dari pinggang Gamya, dan menyingkir.


Gamya lekas menahan Cindekia, dan memeluknya erat. "Sebentar lagi,"


"Lepaskan! Saya kesulitan bernapas,"


"Apa Kau ingin Aku membantumu bernapas?"


"Tidak!" Cindekia mendorong Gamya dengan kasar.


Suasana menjadi canggung diantara keduanya. Cindekia sendiri juga tidak mengerti ada apa dengan dirinya.


Mengapa Aku jadi tidak menyukainya? Apakah ini firasat seorang istri yang suaminya mulai berselingkuh? Batin Cindekia.


"Kau sangat lapar sepertinya," kata Gamya dan beralih menuju daging sate yang terabaikan.


"Tidak, biar Saya saja! Kamu duduk saja sana," Cindekia mengambil alih tugas memasak.


"Kau tahu Aku tidak bisa diam saja melihatmu,"


"Kalau begitu Kamu buka laptop."


Cindekia dengan cepat menghindar saat tangan Gamya hendak menjangkau pinggangnya. "Apakah Kamu ingin Aku mengambilkan laptop kamu?" tanyanya.


"Tidak perlu, Aku Akan duduk saja melihatmu,"

__ADS_1


"Ok,"


Cindekia melanjutkan membakar sate sapi. Gamya memegang kata- katanya, dia tidak menganggu Cindekia selama memasak.


Bahkan hingga tidur berdua di tempat tidur yang sama, Gamya tidak mengganggunya hingga pagi tiba.


Gamya menikmati sarapan yang dibuat Cindekia sembari mamainkan ponselnya.


"Apakah Kamu akan pulang malam?" tanya Cindekia membuka suara saat mengantarkan suaminya ke depan pintu.


"Mungkin," Gamya mengecup pipi istrinya.


Tanpa sadar Cindekia mengusap bekas kecupan suaminya. Hal itu tidak luput dari perhatian Gamya.


Kau menghapusnya?! Batin Gamya kesal.


"Sampai bertemu nanti malam," ucap Gamya sembari membuka pintu. Ia ingin mengecup bibir istrinya seperti biasanya, namun Ia urungkan.


Dia berjalan menuju lift dengan perasaan kesal, Ia bahkan tidak bisa bertanya kepada Cindekia, mengapa tiba-tiba bersikap seperti itu kepadanya.


Gamya masuk ke dalam lift bersaman dengan seorang wanita, Norah. dia selalu saja berada di langkah yang tepat bertemu dengan Gamya. Karena dia sudah merencanakannya.


"Kita bertemu lagi," sapa Norah sembari melihat sekilas ke arah Gamya.


Gamya membalasnya dengan senyum tipis. Tidak ada pembicaraan diantara mereka.


"Ting!"


Pintu lift terbuka, Norah melangkah keluar tanpa menoleh sedikit pun ke arah Gamya.


"Saat ini mungkin Kau tidak tertarik kepadaku," bisik Norah dalam hati, menatap lift yang telah tertutup.

__ADS_1


Norah meneruskan perjalanannya dengan percaya diri menuju kliniknya. Dia mengaku pada dirinya sendiri bahwa dia menginginkan pria yang telah berkeluarga.


Dia tidak merasa bersalah karena yakin pria itu pantas mendapatkan istri yang lebih baik. Dirinya tentu saja.


__ADS_2