
Setelah cuaca panas yang panjang, suhu nenjadi lebih dingin. Musim gugur adalah musim semi kedua setelah musim panas.
Dedaunan yang bertengger di pohon berubah warna menjadi tua, berwarna keemasan. Pemandangan yang sangat indah dengan sinar matahari sore yang lembut menembus masuk ke kamar bernuansa putih.
Beberapa daun tua berjatuhan kembali ke tanah. Tampak seseorang sedang menanam pohon di sana.
Kesemua pemandangan itu dapat dilihat oleh Cindekia dari balik jendela kamarnya.
"Kudengar Kau tidak memakan makananmu," kata Gamya sembari menatap Cindekia yang berdiri di sebelahnya. Sejak pulang dari rumah sakit, istrinya itu belum bersuara kepadanya.
Cindekia tetap bergeming di depan jendela.
Gamya kembali melihat apa yang dilihat istrinya, "Dia sedang menanam pohon sakura. Aku berencana membawamu ke sini saat musim semi," Gamya menjawab sesuatu yang tidak ditanya oleh Cindekia. Rumah baru mereka akan selesai sebelum musim dingin, namun mereka akhirnya ada di rumah itu.
"Menanam pohon di musim gugur, pohon yang tumbuh akan kuat pada musim semi nanti."
Cindekia menghela napas. Dia mendengarnya, namun tidak memasukannya ke dalam pikirannya. Dia sangat malas berpikir, kareba dalam mode mengosongkan pikiran.
"Kau lihat pohon berwarna kuning yang di sana? itu adalah pohon ginkgo, warnanya sangat bagus saat musim gugur. Kita akan tetap membiarkannya tumbuh di sana, pohon itu dapat hidup selama tiga ribu tahun," jelas Gamya seperti seorang pemandu wisata.
Cindekia kembali menghela napas malas, ia berjalan menjauhi Gamya menuju tempat tidur. Namun tangannya ditahan.
__ADS_1
"Kau tahu? Musim gugur menunjukkan kepadamu, melepaskan sesuatu bukanlah hal yang buruk. Kau akan menemukan sesuatu yang lebih baik," kata Gamya sok bernada bijak.
"Kryukk..!" Dering lapar Cindekia terdengar nyaring.
Dengan sedikit kasar, Gamya menuntunnya untuk duduk di kursi yang tidak jauh dari jendela. "Kau tidak boleh tidak memberi makan tubuhmu,"
Tidak lama kemudian seorang wanita membawakan makanan baru yang masih panas untuk Cindekia.
"Jika Kau masih tetap tidak memakannya, dia tidak akan berhenti membuatkan makanan yang baru untukmu," ancam Gamya bernada lembut.
Cindekia melirik wanita yang membawakan makanan untuknya. Wanita yang terlihat lelah itu menatapnya dengan pandangan memohon. Dengan terpaksa Cindekia memakan sesuap soup di hadapannya.
"Sweetie, Dia juga belum boleh makan sebelum Kau menghabiskan makananmu. Tidak ada yang boleh makan, termasuk pria yang Kau lihat tadi." Gamya tersenyum lembut kepada Cindekia.
"Aku ingin bertemu dengan Erlin," kata Cindekia pada akhirnya. Hanya Erlin sekarang yang ia miliki.
"Baby, apakah Kau pikir Aku akan membiarkan orang yang telah mengkhianatiku begitu saja?" Seutas senyum terukir di wajah Gamya.
Jawaban tersirat Gamya membuat Cindekia merinding. "Apa yang Kau lakukan kepadanya?" tanya Cindekia dengan detak jantungnya lebih cepat.
Bukannya menjawab, Gamya malah mengecup bibir Cindekia. "Habiskan makananmu, Sayang." ucapnya sembari berlalu meninggalkan Cindekia.
__ADS_1
"Prank!" mangkuk soup terlempar membentur jendela. Pelakunya adalah Cindekia.
Gamya berbalik dengan tenang, sementara wanita pelayan itu dengan cepat membersihkan pecahan mangkuk.
"Mengapa Kau terus mengabaikan pertanyaanku?!" teriak Cindekia dengan napas yang memburu. Kau juga tidak menjawab apa yang Kau lakukan kepada bayiku.
"Katakan, apa yang Kau lakukan kepada Erlin?" tanya Cindekia sekali lagi.
Ia tidak ingin kehilangan lagi. Karena keinginannya, ia akhirnya kehilangan janinnya dan mencelakai Erlin. Ia telah berjanji kepada temannya itu, akan menjamin keselamatannya.
Gamya dengan tenang kembali menghampiri Cindekia, Ia menggendong istrinya itu untuk didudukan di atas tempat tidur.
"Lepaskan Aku!" ronta Cindekia. Ia pikir suaminya akan melemparnya entah kemana, dibanting mungkin.
"Tenanglah, Babe." ucapnya setelah mendudukan Cindekia di atas tempat tidur. Ia mengambil kotak p3K di laci nakas. "Lihatlah, Kau melukai pipimu." Gamya menepuk-nepukan dengan pelan kapas yang diberi cairan antiseptik di atas luka gores berukuran kecil di pipi Cindekia.
Serpihan kaca mangkuk yang ia lempar mengenai pipinya.
"Kau Akan melihatku terluka lebih banyak lagi, jika Kau melukai Erlin," ancam Cindekia.
"Aku tidak melukai temanmu, Aku menghilangkannya," jawab Gamya enteng.
__ADS_1
Apa?!