
"Kia, bagaimana dengan pulau sabang?" tanya Dyan lewat sambungan telepon kepada Cindekia. Selain membahas pernikahan, mereka juga harus membahas rencana bulan madu.
Hening, Cindekia hanya meletakkan ponselnya di telinganya. Semakin mendekati tanggal pernikahan yang telah direncanakan, Ia semakin tidak ingin menikah.
"Kia..?" tanya Dyan sekali lagi karena tidak mendengar suara Cindekia di ponsel yang tengah Ia lekatkan di telinganya.
"Dyan... Sebaiknya kita tidak jadi menikah saja?" akhirnya terdengar suara Cindekia.
"Apa? Kia apa yang barusan Kau katakan? Kau bercanda kan?" Suara Dyan terdengar mulai panik.
Sementara Cindekia tetap tenang dengan apa yang baru saja dikatakannya, "Aku tidak bercanda,"
"Jangan bercanda di saat yang seperti ini, Kia pernikahan kita tiga minggu lagi!"
"Aku minta maaf, sungguh benar-benar maaf," kata Cindekia dengan bernada tenang.
"Kita harus bertemu!" seru Dyan setengah memaksa.
"Maaf," lirih Cindekia.
"Kau tidak bisa melakukan ini Kia!" bentak Dyan.
Bentakan Dyan membuat Cindekia tertawa kecil, "Maaf, Aku hanya bercanda," katanya kemudian masih terkikik.
"Kia, ini tidak lucu bercanda seperti itu! Kau baru saja hampir membuatku meregang nyawa," ucap Dyan yang sudah hampir kena serangan jantung akibat candaan Cindekia.
"Ma'af Dyan," ucap Cindekia di sela-sela tawanya. "Aku benar-benar minta maaf, barusan Aku juga bercanda. Aku serius tidak ingin menikah." Cindekia kembali berbicara dengan serius.
Di seberang sana, Dyan kembali dibuat pusing. "Kita harus bertemu, Aku akan menemuimu," ujar Dyan bergegas mengambil jacket dan kunci motornya. Masalah serius harus dibicarakan lewat empat mata dan gelombang mekanik, tidak bisa hanya lewat gelombang elektromagnetik.
"Sekalipun kita bertemu, keputusanku tidak akan berubah, Aku akan mengembalikan semuanya," terdengar suara Cindekia mantap.
"Apa Kau berpikir hanya dengan mengembalikan semuanya, masalah akan selesai?" Dyan menghentikan langkahnya menuju garasi rumahnya.
".... "
"Meskipun Kau tidak ingin, kita tetap harus menikah." tegas Dyan.
"Maaf, Aku akan menutup teleponnya." Cindekia mengakhiri pembicaraannya, Ia memberikan waktu kepada Dyan untuk berpikir.
Sementara Dyan ingin membanting ponselnya, namun Ia urungkan. Karena ponselnya adalah keluaran terbaru dari tomat tergigit dan baru Ia beli minggu lalu.
Ia tidak bisa membiarkan Cindekia membatalkan pernikahan mereka.
drrt..
Ponselnya tiba-tiba berbunyi tanda pesan masuk, sebuah pesan pemberitahuan dana masuk ke rekeningnya.
__ADS_1
Cindekia mengembalikan semua uang yang diberikan Dyan untuk lamaran, berikut dengan tambahannya.
Pria itu semakin panik dengan Cindekia yang tiba-tiba memutuskan pertunangan mereka.
Bukan hanya Dyan yang panik akibat ulahnya Cindekia, orangtuanya dikampung juga ikut panik mendengar penuturan putri mereka lewat sambungan telepon.
"Ibu tidak bisa menerima keputusanmu Nak, tolong jangan seperti ini, Ibu sudah mengundang warga sekampung buat rewangan, sudah dp pelaminan dari kampung sebelah," ungkap Nuraini, ibu kandung Cindekia.
"Diumumkan saja balik Bu kalau tidak jadi nikah," ujar Cindekia dengan tenang, seolah semuanya mudah saja.
Sementara Ibunya tetap tidak bisa tenang dengan perangai anaknya yang plin-plan, "Apa kata orang? satu kampung ini sudah tahu anak ibu akan menikah, tidak baik membatalkan pertunangan. Teman Kamu itu sudah mapan, pendidikan bagus, kurang apa lagi toh Kia? tidak ada yang sempurna."
"Tenang saja Bu, tahun depan juga para tetangga dan handai tolan juga bakalan lupa."
"Kia! Apa seperti ini jadinya setelah Kami sekolahkan Kamu? jangan lari dari masalah yang Kamu buat?!" tiba-tiba Bapak Cindekia mengambil alih telepon yang digenggam Nuraini.
"Bapak... " Cindekia tak bisa berkata apa-apa kalau pak Salahuddin sudah ngamuk.
"Pernikahan ini tidak boleh dibatalkan hanya karena Kamu tidak mencintai teman Kamu itu! Kamu sudah menerimanya,"
"Bapak, masalahnya bukan karena Kia. Masalahnya karena Dyan..." Cindekia bingung harus bagaimana menjelaskannya.
"Apakah dia sudah berbuat kurang ajar? Apa yang sudah dia lakukan pada anak bapak?!" suara Salahuddin terdengar emosi.
Nuraini dengan panik menenangkan suaminya yang mudah emosi, "Pak, tenang Pak... Sabar Pak,"
.
.
"Satu lagi yang harus Kau lakukan," bisik Ganeeta yang duduk di sebelah Gamya. Ia sedari tadi menahan tawanya.
Sejak deklarasi kemenangannya, Ia tidak henti-hentinya menggoda saudaranya itu.
"Aku tidak akan memaksa Kamu untuk memaafkan Kami, tidak apa-apa, tidak apa-apa," kata tuan Lenart yang terdengar fasih, sedari tadi Ia tidak tahu harus berkata apa.
Ia sudah mendengar permainan yang dimainkan kedua anaknya.
"Ati!*" protes Ganeeta, Ia tidak setuju kedua orangtuanya selalu bersikap lunak kepada Gamya.
(*Ayah, Slovenia)
Ditengah perdebatan mereka, tiba-tiba Gamya berdiri dari duduknya.
Semua mata memandang ke arahnya, entah apa yang akan dilakukannya, tidak bisa menebaknya.
Gamya berlutut di depan kedua orangtuanya dengan serius, "Ayah, Ibu, terima lah salam putramu," katanya sembari menunduk hormat kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Tuan dan nyonya Lenart sedikit terharu mendengar putra mereka akhirnya memanggil mereka dengan sebutan Ayah dan Ibu.
Gamya menatap tuan Lenart serius, "Ayah, terima kasih sudah memberikan sper**mu kepada Ibu,"
Ekspresi terharu tuan dan nyonya Lenart tiba-tiba menghilang mendengar kalimat yang selanjutnya disampaikan putra mereka.
Tak cukup sampai disitu, Gamya beralih menatap nyonya Lenart, "Ibu, terima kasih telah menerima sper** ayah dirahimmu dan membiarkannya tumbuh dan berkembang selama 9 bulan di sana... Akhrr!!"
Ganeeta menarik rambut Gamya untuk membuatnya berhenti mengatakan yang tidak-tidak, "Anak ini! Kau ini bicara apa?"
"Lepaskan tanganmu!" Gamya balas menarik rambut Ganeeta.
Tuan dan nyonya Lenart tidak tahu harus berkata apa melihat kedua anaknya yang masih gemar adu kekuatan fisik. Mereka merasa waktu sepertinya lama berlalu, mereka tidak yakin jika kedua anaknya telah berusia hampir 30 tahun.
"Hari ini cuaca sangat cerah," nyonya Lenart menyeruput teh bunganya dengan anggun mengabaikan pemandangan di depannya.
"We should plan to go somewhere, what do you say?" tuan Lenart menggenggam mesra tangan istrinya.
"I was thinking of trying a new recipe for dinner, "
"Oh honey, I can't wait to get my dinner now," tuan Lenart mencium istrinya. Dan terjadilah kegiatan saling cium diantara keduanya.
Kini giliran Gamya dan Ganeeta yang jengah melihat tingkah kedua orangtua mereka. Pasangan yang tidak lagi muda itu, berani-beraninya bermesraan di depan anak mereka yang masih jomblo.
Sadar menjadi pusat perhatian kedua anaknya, kedua pasangan suami istri itu menghentikan kegiatan mereka.
"Kalian telah selesai berkelahi?" tanya nyonya Lenart kepada kedua anaknya.
"Aku pulang saja," ujar Gamya acuh dan beranjak pergi meninggalkan ruang keluarga.
"Gamya, ingin sampai kapan Kau akan terus membenci orangtuamu hanya karena wanita itu? sudah 15 tahun berlalu," ujar nyonya Lenart menghentikan langkah Gamya.
Pria itu membuat guratan senyum di wajahnya, "Ibu, Aku tidak membenci Kalian karena wanita itu,"
"Nak, itu bukan Kami yang mengirim dia ke penjara. Kakekmu__" tuan Lenart ikut bicara dengan menyampaikan yang sebenarnya.
"Ayah harusnya berterima kasih kepadanya karena putra Ayah tumbuh dengan baik."
"Apa yang Kau katakan? Kau tidak tahu bagaimana menderitanya kami selama 14 tahun karena kehilanganmu," lirih nyonya Lenart.
Setelah akhirnya menemukan putranya yang hilang saat baru dilahirkan di salah satu rumah sakit di Indonesia, putranya itu tetap memilih tidak ingin tinggal bersama dengannya.
"Lalu? Ibu ingin menyalahkan orang lain? bukan kah Ayah memiliki musuh karena kesalahan Ayah sendiri? dan wanita itu bisa menculikku karena Kalian tidak menjagaku dengan baik,"
"Nak...."
"Ada hal yang tidak Kalian tahu, wanita itu dibayar untuk membunuhku," ucap Gamya dan melangkah pergi. Wanita yang memilih untuk membesarkannya itu malah harus membayar keputusannya dengan nyawa.
__ADS_1
Ganeeta mendekati ibunya, "Mami, sudah jangan pedulikan dia.Yang penting sekarang identitasnya sudah berubah," katanya kemudian melihat ke ayahnya, "dan Aku mendapatkan kebebasanku, benar kan Ati?" senyumnya semringah.