
Sekotak kue yang terbungkus plastik diletakkan Cindekia di atas meja. Ia hanya mengikuti sebagaimana yang seharusnya.
Dyan melamarnya, menikah dan memiliki dua atau lima anak sudah cukup. Menjalani hidup sederhana dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih, Kamu tidak perlu repot-repot membeli dan membawanya kemari," ucap Kaniya, wanita berusia 56 tahun. Dia adalah ibu dari Dyan.
Ini pertama kali putranya membawa seorang wanita yang diperkenalkan sebagai calon menantunya.
Gadis pembawa kue itu hanya tersenyum, Ia tidak berniat membuat sendiri buah tangannya.
"Ibu sebenarnya belum ingin Dyan menikah dalam waktu dekat, mengingat Ia baru saja memulai karirnya,"
"Ma, " potong Dyan mengingat ibunya agar jangan membahas hal itu dengan Cindekia.
Sementara gadis yang diajak bicara itu hanya tersenyum, karena tidak tahu harus berkata apa.
"Karena Kamu mendesak ingin dinikahi," lanjut Kaniya kemudian, Ia mengabaikan interupsi putranya.
Cindekia yang merasa dirinya lah yang sedang diomongkan wanita di depannya, menatap heran ke arah Dyan. Apakah dia terlihat seperti itu?
"Ibu mengijinkan Kalian untuk menikah, tapi Ibu minta Kamu jangan menjadi penghalang Dyan untuk melanjutkan karirnya."
"Ma, " protes Dyan sekali lagi.
Cindekia kembali lagi tersenyum dengan sopan, Ia adalah aktris berbakat. "Kia mengerti Bu, Ibu jangan khawatir. Kia juga tidak ingin pernikahan menghalangi karir Kia."
"Itu bagus, meski sudah menikah Kamu tetap mandiri tidak mengandalkan suami."
"Iya Bu, Dyan juga sudah bilang kalau dia tidak akan mengandalkan Kia untuk mengurus semua kebutuhannya setelah menikah," kata Cindekia dengan lembut penuh makna.
Kaniya menatap tajam ke arah Dyan, "Apakah Kau yakin ingin segera menikah?" tanyanya kepada putranya. Ia berharap jika putranya menikah, maka wanita yang akan menjadi istrinya harus mengurus semua keperluan putranya.
"Ma, Dyan yakin. Kia juga pintar masak," Dyan tersenyum menatap Cindekia.
Yang ditatap hanya diam dengan penuh keheranan, Apakah dia lupa pernah memberitahukan kepada Dyan bahwa dia tidak jago dalam dunia memasak. Ia bisa memasak, tetapi tidak pintar.
"Apakah Kamu sudah memberitahu kedua orang tuamu?" tanya Kaniya kepada Cindekia.
"Bel__"
"Sudah, Ma," Dyan memotong jawaban Cindekia. "Orang tuanya Kia sudah menyetujui niat Kami berdua, dan juga sudah tahu kalau bulan depan keluarga Dyan akan datang melamar,"
Cindekia kembali lagi hanya bisa tersenyum, Ia sendiri tidak tahu tentang lamaran bulan depan, apalagi kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Apa kalian juga sudah membicarakan uang hantaran?"
"Sudah, Ma."
"Mama harap tidak akan ada masalah," ucap Kaniya yang sebenarnya masih belum menerima putranya menikah di usianya yang masih 26 tahun, karena baru tiga tahun memulai kariernya sebagai dosen di perguruan tinggi.
Namun apa boleh buat, teman wanita putranya yang juga berusia 26 tahun sudah masuk usia siap nikah.
Mengingat Cindekia yang tinggal sendiri, Ia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika menunda-nunda menikahkan putranya.
"Terima Kasih Bu, karena sudah menerima Kia," ucap Cindekia
Kaniya masih memasang wajah acuh, "hmm."
"Kalau begitu, Kia ijin pamit pulang karena sudah sore Bu," Cindekia berdiri dan menyalami tangan Kaniya.
"Iya,"
Dyan juga ikut melakukan apa yang dilakukan Cindekia, "Dyan pergi antar Kia pulang dulu ya Ma,"
"Ingat, langsung pulang."
"Iya, Ma."
Keduanya pun meninggalkan rumah Kaniya.
"Pamit Pulang, Bu." ucap Cindekia sekali lagi sebelum motor Dyan membawanya keluar dari pekarangan rumah Kaniya.
.
.
...----------------...
Lamaran adalah hal yang paling dinanti-nantikan oleh seorang wanita yang sedang dimabuk asmara dengan tambatan hati.
Namun tidak bagi Cindekia, Ia bahkan tidak memberitahukan teman-teman kantornya perihal acara lamarannya. Ia mungkin terancam tidak dapat mengambil cuti untuk hari pernikahannya karena sudah terlalu banyak libur.
Ini semua karena setiap kali akan meeting dengan pak Direktur yang tidak lain tak bukan Gamya, Ia selalu beralasan agar tidak ikut meeting. Kalau tidak diare ya sakit perut, atau tiba-tiba demam tinggi dan batuk sakit tenggorokan parah yang harus diisolasi. Dan pak Damar selalu memaksanya untuk libur. Padahal sakitnya kambuh hanya saat mau meeting saja.
Jadi Cindekia memutuskan hari lamarannya di hari minggu. Pulang ke kampungnya di sabtu sore. Dan kembali balik minggu sore setelah acara lamarannya. Begitulah rencananya. Jadi Ia tidak perlu ambil cuti.
Jangan ditanya mengenai kedua orang tuanya yang tentu saja sangat bahagia. Seorang pemuda berpendidikan dengan pekerjaan yang lumayan mapan datang melamar putri mereka.
__ADS_1
Cindekia kembali membaca history chat nya dengan Dyan, seseorang yang akan datang sebentar lagi bersama keluarganya dengan membawa berbagai seserahan. Semua percakapan mereka hanya tentang hal-hal yang penting saja.
Sudah sebulan lebih, Ia tidak pernah bertemu dan berkomunikasi dengan Gamya. Ia berpikir semua akan baik-baik saja setelah menghapus semua history percakapan mereka di ponselnya. Namun, Ia tak tahu jika menahan rindu akan sesakit itu.
Dilihatnya sejenak nomor kontak Gamya, Ia ingin memulai mengirim pesan sekedar menayakan kabar pria itu. Namun jarinya terhenti saat mendengar rombongan Dyan sudah tiba di depan rumahnya.
Dengan cepat Ia menghapus nomor kontak Gamya, sadar Ia tidak boleh menyakiti pria yang sudah tiba di depan rumahnya. Untuk perasaan yang seharusnya tak pernah ada.
Rombongan keluarga Dyan disambut dengan suka cita oleh seluruh keluarga besar Cindekia, kebetulan saudaranya berada di kampung yang sama.
Acara lamaran itu tidak berlangsung lama, karena mengingat rombongan keluarga Dyan harus kembali pulang ke kediaman mereka tidak terlalu malam.
"Jadi anak dara kami sudah langsung dibawa," celetuk salah satu paman, adik dari ayahnya Cindekia, bercanda.
Membuat tetamu mengulum tawa, karena Cindekia ikut balik ke kota bersama rombongan mereka. Ia harus masuk kerja esok hari.
Kia memaksakan senyumnya dihari lamarannya, "Bu, Pak, Kia pergi ya," Cindekia memeluk erat kedua orangtuanya.
Bulir air mata jatuh disudut maka kedua orangtuanya, melihat putri mereka akan segera menjadi tanggung jawab orang lain.
Antara tidak rela dan bahagia dengan putri mereka yang akan menikah sebentar lagi.
Melihat kedua orangtuanya yang bahagia, Cindekia tidak bisa lagi mundur dengan keputusan yang telah ia buat.
Sesi salam-salaman pun selesai dan empat mobil yang membawa rombongan keluarga Dyan telah meninggalkan kediaman orangtua Cindekia.
Dyan melirik Cindekia yang duduk di sebelahnya, teman kuliahnya dulu, gadis yang dulu dicintainya. Mereka berteman dekat. Cindekia adalah gadis yang dinilai paling cantik di satu angkatannya, dan bahkan hingga sekarang masih tetap cantik.
Ia merasa beruntung karena gadis itu masih menyukainya dan menerima lamarannya. Setelah hubungan mereka merenggang.
Setelah menjadi seorang dosen, Dyan berteman dekat dengan putri dari rektor, Widya yang juga seorang dosen. Hatinya pun goyah dan beralih menyukai putri rektor yang memiliki segudang prestasi.
Namun, Widya menolak mentah- mentah dirinya. Demi membalas sakit hatinya, Dyan terpaksa meminta Cindekia untuk menikah dengannya.
Meskipun latar belakang Cindekia tidak lebih baik dari Widya, Cindekia cantik bak seorang model. Hanya kurang tinggi saja.
***
Setelah lamaran dan penentuan tanggal nikah selesai, Dyan dengan gerak cepat mengurus berkas-berkasnya untuk keperluan mengurus surat nikah.
Tidak ada percakapan lain, selain hal-hal penting mengenai pernikahan mereka.
Cindekia menyerahkan sepenuhnya kepada orang tuanya untuk mengurus surat nikah dari pak RT, lurah, hingga pemberkasan KUA di kampung orang tuanya. Ia bahkan malas untuk pergi melakukan tes kesehatan pra nikah. Tetapi ya pergi juga.
__ADS_1
Kertas undangan telah selesai dicetak dengan cepat, dan sebagian telah tiba di tangan gadis itu.
_____🐈